Deretan Mitos Tentang Covid-19 yang Masih Dipercaya Banyak Orang

Oleh Camelia pada 08 Agu 2022, 19:04 WIB
Diperbarui 08 Agu 2022, 19:04 WIB
Ilustrasi wanita lebih rentan alami gejala long COViD-19
Perbesar
Ilustrasi wanita lebih rentan alami gejala long COViD-19. Photo by Anna Shvets from Pexels

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini sudah dua tahun masyarakat di seluruh dunia hidup di tengah pandemi Covid-19. Pandemi mengajarkan kita untuk berhati-hati, waspada, dan terinformasi dengan baik tentang mikroorganisme yang hidup bersama kita di lingkungan yang sama.

Namun, terlepas dari beberapa teori yang didukung sains dan upaya penelitian untuk mengemukakan misteri dan pertanyaan yang belum terpecahkan seputar Covid-19, banyak dari kita lebih suka mempercayai mitos yang telah tersebar di sekitar tentang infeksi, vaksin, dan proses pengobatannya.

Dilansir dari Bestlifeonline, Senin (8/8/2022), berikut adalah deretan mitos umum tentang Covid-19 yang harus kita hentikan sekarang:

Covid-19 menyebar dengan cepat selama musim hujan

Tidak, Covid-19 menyebar dengan cepat setiap kali mendapat kesempatan untuk menyebar. Covid-19 bukanlah infeksi musiman. Virus corona yang menyebabkan Covid-19 selalu mencari inang baru. Saat ia menemukan inang baru, ia mulai berkembang biak dan menyebar.

Jumlah kasus Covid-19 selama musim panas, ketika lingkungan panas dan lembab tidak berdampak pada penularan infeksi. Dari data infeksi Covid-19 terlihat bahwa jumlah kasus aktif tidak tergantung pada kondisi iklim.

Vaksin Covid-19 menyebarkan cacar monyet

Dengan munculnya infeksi baru, dimulailah serangkaian rumor yang begitu dipelintir dalam narasinya sehingga seseorang dengan pengetahuan kurang pasti akan mempercayainya.

Pada bulan Juni, beredar isu yang mengklaim bahwa vaksin Covid-19 menyebarkan cacar monyet. Desas-desus mengatakan vektor adenovirus simpanse yang digunakan dalam vaksin Covid-19 AstraZeneca berada di balik wabah dan cacar monyet adalah efek samping dari vaksin.

Yang benar adalah adenovirus dan poxvirus tidak sama. Meskipun AstraZeneca menggunakan vektor adenovirus simpanse dalam formulanya, ia telah bermutasi untuk mencegah pertumbuhan di dalam tubuh manusia.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Daging dan ikan menyebarkan Covid-19

Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi daging sapi. (dok. pixabay.com/PDPhotos)

Tidak! Daging dan ikan tidak menyebarkan infeksi virus. Bahkan setelah seseorang sembuh dari infeksi, dianjurkan agar mereka makan daging dan ikan yang cukup untuk mendapatkan energi dan kembali ke kehidupan normal.

Namun, daging dan ikan berpotensi sebagai pembawa mikroorganisme dan kuman patogen. Jika kurang matang atau dimakan mentah, mereka dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan manusia.

Hewan bisa menularkan Covid-19

Pada awal pandemi, rumor lain menyebar secara besar-besaran. Desas-desus ini adalah bahwa hewan, termasuk yang liar dan yang dijinakkan, dapat menyebarkan virus corona. Klaim semacam itu telah dilakukan beberapa kali. Namun, penelitian tidak mendukung klaim ini. Tidak ada bukti yang cukup untuk membuktikan klaim ini benar.


Vaksin Covid-19 tidak aman

FOTO: Program Vaksinasi Booster COVID-19 Sasar Kelompok Rentan
Perbesar
Tenaga kesehatan menyiapkan vaksin COVID-19 untuk disuntikkan kepada warga saat pelaksanaan vaksinasi booster COVID-19 di Puskesmas Cilandak, Jakarta, Rabu (12/1/2022). Pemerintah mulai program vaksinasi booster COVID-19 gratis untuk masyarakat umum usia 18 tahun ke atas. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Hingga saat ini, banyak orang yang tidak percaya bahwa vaksin Covid-19 sebenarnya aman dan efektif untuk melindungi diri dari virus corona. Vaksin Covid-19 adalah sebagian alasan mengapa kasus ringan terlihat selama Omicron memimpin gelombang ketiga Covid-19.

Ini juga dianggap sebagai alasan mengapa penurunan kasus rawat inap terlihat selama gelombang ketiga. Perlu ditegaskan kembali bahwa sistem rumah sakit di seluruh negeri telah mogok selama gelombang kedua Covid-19 yang menghancurkan yang disebabkan oleh gelombang Delta.

Konsumsi Bumbu dan rempah dapat membunuh virus corona

Tidak! Herbal dan rempah-rempah memang baik untuk tubuh manusia. Ini membantu metabolisme, meningkatkan kekebalan dan membantu dalam beberapa fungsi tubuh lainnya. Namun, jumlah jamu dan rempah yang benar-benar bermanfaat bagi tubuh jauh lebih sedikit daripada yang dikonsumsi karena ketidaktahuan tentang Covid-19.

Infografis Yuk Kenali Perbedaan Vaksin, Vaksinasi dan Imunisasi Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Yuk Kenali Perbedaan Vaksin, Vaksinasi dan Imunisasi Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya