Sejarah Hari Pendidikan Nasional Serta Sosok Penting di Baliknya

Oleh Camelia pada 12 Mei 2022, 13:22 WIB
Diperbarui 12 Mei 2022, 14:12 WIB
Keseruan Para Pelajar Usai Upacara Hardiknas
Perbesar
Sejumlah siswa seusai mengikuti upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional di Kemendikbud, Jakarta, Sabtu (2/5/2015). Peringatan tersebut mengangkat tema 'Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila'. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Hari Pendidikan Nasional tiap tahunnya diperingati setiap tanggal 2 Mei. Namun Hari Pendidikan Nasional tahun ini bertepatan dengan dengan libur Idul Fitri 2022 dan juga cuti bersama. Sehingga upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional akan dilakukan pada Jumat, 13 Mei 2022, besok.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional bertujuan untuk memperingati kelahiran tokoh pelopor pendidikan di Indonesia Ki Hadjar Dewantara. Ya, Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei ini bertepatan dengan hari lahir Bapak Pendidikan Nasional di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara. 

Ki Hadjar Dewantara lahir di Pakualaman pada tanggal 2 Mei 1889, dan meninggal di Jogjakarta, 26 April 1959 pada usia 69 tahun. Itu mengapa tanggal kelahiran beliau diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional di Indonesia.

Seperti yang masyarakat Tanah Air ketahui, beliau adalah seorang pahlawan nasional yang berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu. Kebijakan yang ditentang adalah kebijakan tentang pendidikan yang hanya bisa dirasakan oleh anak-anak kelahiran Belanda atau anak-anak dari golongan berada saja. 

Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah saat itu membuat dirinya diasingkan ke Belanda. Setelah kembali ke Indonesia, Ki Hadjar Dewantara kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang dikenal dengan nama Taman Siswa. Selain mendirikan Taman Siswa, masih banyak kontribusi Ki Hajar Dewantara dalam ranah pendidikan di Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara juga merupakan seorang aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia di zaman penjajahan Belanda.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Profil Singkat Tokoh Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara
Perbesar
Berikut profil tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara~

Ki Hadjar Dewantara menamatkan pendidikan dasar di ELS (Europeesche Lagere School) atau sekolah dasar pada zaman kolonial Hindia Belanda di Indonesia. Selanjutnya ia juga sempat melanjutkan pendidikan ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), yaitu sekolah pendidikan dokter di Batavia pada zaman kolonial Hindia Belanda, namun tidak sampai lulus lantaran sakit.

Ki Hadjar Dewantara juga pernah bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik di Indonesia, yaitu Boedi Oetomo dan Insulinde. Tulisan Ki Hadjar Dewantara yang paling terkenal saat itu yaitu, "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga."

Ada pula kolom Ki Hadjar Dewantara yang paling terkenal dengan judul "Als ik een Nederlander was" diterjemahkan menjadi, "Seandainya Aku Seorang Belanda."

Tulisan tersebut dimuat dalam surat kabar De Expres pada 13 Juli 1913, surat kabar tersebut berada di bawah pimpinan Ernest Douwes Dekker. Namun lantaran tulisannya tersebut, ia ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. 

Tapi kedua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, melakukan protes atas pengasingan tersebut. Akhirnya mereka bertiga pun diasingkan ke Belanda, dan ketiga tokoh ini kemudian dikenal dengan sebutan "Tiga Serangkai."


Hari Pendidikan Nasional, Jokowi Minta Pendidikan Anak Tak Diabaikan Pandemi dan Perang

Jokowi Pimpin Ratas Penyediaan Rumah untuk ASN,TNI, dan Polri
Perbesar
Presiden Joko Widodo atau Jokowi memimpin rapat terbatas (ratas) di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (7/11). Jokowi miminta pemenuhan perumahan bagi ASN, TNI, dan Polri diperhatikan juga aksesbilitas ke tempat kerja. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Memperingati Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyampaikan pesan khusus melalui Instagram pribadinya. Menurut Jokowi, dunia tengah didera ketidakpastian oleh krisis, pandemi, atau perang. Meski begitu, dia meminta pendidikan tidak boleh diabaikan.

"Pendidikan anak-anak kita tak boleh terabaikan," tulis Jokowi, seperti didikutip Liputan6.com, Senin (2/5/2022).

Jokowi percaya, pendidikan kita menempuh jalan panjang untuk membangun identitas, karakter, dan martabat bangsa.

"Melalui pendidikan menyambut masa depan yang lebih maju," kata dia.

Senada dengan itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayan juga menyampaikan pesannya dalam memperingati Hardiknas 2 Mei melalui sosial media. Melalui program merdeka belajar, Kemendikbud bertekad memimpin pemulihan, bergerak untuk merdeka belajar.

"Mari turut berkontribusi dalam bergerak meminpin pemulihan untuk mendukujg Merdeka Belajar," tulis Kemendikbud di akun Istagramnya.

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei ini bertepatan dengan hari lahir Bapak Pendidikan Nasional di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara. Ia adalah seorang pahlawan nasional yang berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu.

Kebijakan yang ditentang adalah kebijakan tentang pendidikan yang hanya bisa dirasakan oleh anak-anak kelahiran Belanda atau anak-anak dari golongan berada saja. Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah saat itu membuat ia diasingkan ke Belanda.

Setelah kembali ke Indonesia, ia kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang dikenal dengan nama Taman Siswa. Selain mendirikan Taman Siswa, masih banyak kontribusi Ki Hadjar Dewantara dalam ranah pendidikan di Indonesia.

Infografis Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Pengganti BSNP
Perbesar
Infografis Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Pengganti BSNP
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya