Kapan Pandemi Covid-19 Bakal Berakhir? Ini Kata CEO Pfizer

Oleh Sulung Lahitani pada 02 Agu 2021, 16:06 WIB
Diperbarui 02 Agu 2021, 16:06 WIB
Vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech
Perbesar
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui penggunaan vaksin Pfizer-BioNTech untuk anak-anak dengan batasan usia 12-15 tahun. (AFP/Luis Acosta)

Liputan6.com, Jakarta - Setiap negara di dunia telah terkena dampak COVID-19 selama satu setengah tahun terakhir. China adalah negara yang paling terpukul pertama kali pada akhir 2019 dan kemudian virus dengan cepat menyebar ke Eropa lalu ke seluruh dunia.

Sejak saat itu, tiap negara di dunia berjuang melawan lonjakan mematikan dari infeksi Covid. Terlebih, kini vaksin Covid telah ditemukan dan didistribusikan, pemulihan pun terjadi secara perlahan di berbagai negara.

Jadi kapan seluruh dunia akan kembali normal? CEO Pfizer, salah satu vaksin Covid yang banyak digunakan di dunia memaparkan pandangannya.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kata CEO Pfizer

FOTO: 6 Jenis Vaksin COVID-19 yang Ditetapkan Pemerintah Indonesia
Perbesar
Vaksin COVID-19 Pfizer Inc and BioNTech dipotret di Rumah Sakit Anak Rady, San Diego, California, Amerika Serikat, 15 Desember 2020. Vaksin COVID-19 buatan Pfizer telah mendapat otorisasi darurat di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Singapura, dan Meksiko. (ARIANA DREHSLER/AFP)

Melansir dari Databoks, pada akhir 2020, Duke Global Health Innovation Center mencatat sejumlah negara yang telah memesan vaksin buatan Pfizer/BioNTech di mana konsumen terbesarnya adalah Uni Eropa dengna 300 juta dosis.

Selanjutnya, Jepang dengan 120 juta dosis. Disusul Amerika Serikat dengan 100 juta dosis. Kemudian, Inggris 40 juta dosis. Serta, beberapa negara lain dengan kisaran 10-20 juta dosis, yakni Kanada, Meksiko, Australia, dan Chili.

Pada 16 Juni lalu, CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan kepada CNBC bahwa kemungkinan seluruh dunia akan bebas pandemi adalah pada akhir tahun depan. Pada saat itu, ia memperkirakan akan ada cukup dosis vaksin COVID bagi sebagian besar negara untuk memvaksinasi populasi mereka.

"Saya pikir seluruh dunia akan memiliki volume yang cukup [dosis vaksin] pada akhir 2022 untuk memvaksinasi, untuk melindungi semua orang," kata Bourla saat wawancara dengan Andrew Ross Sorkin di CNBC's Evolve Global Summit.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Negara maju pulih lebih cepat

Dapat Giliran Vaksinasi Covid-19, Terapkan Hal Ini Sebelum dan Sesudah Divaksin
Perbesar
Ilustrasi Vaksinasi.

Namun, menurutnya negara-negara maju akan kembali normal lebih cepat dari itu. "Saya kira pada akhir tahun ini, negara maju sudah berada dalam situasi ini," katanya.

Menurut Bourla, sebagian besar dosis vaksin Pfizer sejauh ini telah masuk ke negara maju yang memesan vaksin terlebih dahulu. Banyak negara selain AS sudah memberikan vaksin Pfizer, termasuk Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Hongaria, Israel, Jepang, Selandia Baru, Arab Saudi, Singapura, Korea Selatan, dan Inggris, seperti yang dilaporkan ABC News Australia.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Harapan untuk negara berkembang

Ilustrasi vaksin corona, vaksin covid-19
Perbesar
Ilustrasi vaksin corona, vaksin covid-19. Kredit: fernando zhiminaicela via Pixabay

Namun, Bourla mengatakan dia mengharapkan lebih banyak dosis akan dikirim ke negara-negara berkembang selama musim gugur tahun ini. Pfizer dan BioNTech telah berjanji untuk menyediakan dua miliar dosis vaksin mereka ke negara-negara berkembang selama 18 bulan ke depan, seperti yang dilaporkan The Wall Street Journal pada akhir Mei.

Selama KTT Kesehatan Global Eropa di Roma sekitar waktu itu, Bourla mengatakan bahwa satu miliar dari dosis ini akan dikirimkan tahun ini dan miliar lainnya akan dikirim pada tahun 2022.

"Ini adalah harapan kami bahwa ini akan mempercepat kemampuan kami untuk membantu menyelamatkan lebih banyak nyawa di seluruh dunia," kata Bourla.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Varian Delta lebih ganas

Ilustrasi vaksin COVID-19 (Source: Pexels/Artem Podres)
Perbesar
Ilustrasi vaksin COVID-19 (Source: Pexels/Artem Podres)

Meski demikian, pendapat tersebut mungkin harus dikaji ulang. Terlebih dengan makin merebaknya varian Delta yang ganas dan lebih cepat menular.

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC AS), Rochelle Walensky saat acara jumpa pers baru-baru ini mengungkapkan, kasus Covid-19 di AS meningkat 70 persen selama sepekan sebelumnya dan kematian naik 26 persen. Rochelle mengatakan, wabah terjadi di sebagian wilayah dengan tingkat vaksinasi yang rendah. Padahal sebelumnya kasus Covid di AS telah mengalami fenomena penurunan kasus.

Malahan, pakar penyakit menular AS Anthony Fauci mengklaim bahwa varian Delta, yang secara signifikan sangat menular dibandingkan Covid-19 versi asli, telah terdeteksi di sekitar 100 negara secara global dan kini menjadi varian dominan di seluruh dunia.

Di sisi lain, Walensky mendesak warga AS yang belum divaksin agar segera menerima suntikan Covid-19. Ia juga mengeklaim bahwa vaksin buatan Pfizer dan Moderna terbukti sangat ampuh melawan varian Delta.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Vaksin Covid-19 dipastikan aman

Infografis Ayo Jangan Ragu, Vaksin Covid-19 Dipastikan Aman. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Ayo Jangan Ragu, Vaksin Covid-19 Dipastikan Aman. (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya