Perokok Usia Muda Cenderung Sulit Hentikan Kebiasaan dan Sederet Risikonya

Oleh Liputan6.com pada 08 Jun 2021, 21:10 WIB
Diperbarui 08 Jun 2021, 21:10 WIB
20160930- Bea Cukai Rilis Temuan Rokok Ilegal-Jakarta- Faizal Fanani
Perbesar
Sejumlah batang rokok ilegal diperlihatkan petugas saat rilis rokok ilegal di Kantor Direktorat Jenderal Bea Cukai, Jakarta, Jumat (30/9). Rokok ilegal ini diproduksi oleh mesin dengan total produksi 1500 batang per menit. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Anak-anak dan remaja harus dilindungi dari bahaya merokok. Sebab, dampak kecanduan nikotin untuk mereka lebih kuat ketimbang orang dewasa.

Spesialis penyakit dalam dr. Pandang Tedi Adriyanto, M.Sc, Sp.PD, FINASIM dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menjelaskan salah satu kandungan kimia yang ada pada rokok adalah nikotin. Zat kimia yang bisa menimbulkan kecanduan.

"Semakin dini mulai merokok, maka akan semakin sulit untuk berhenti. Selain itu, kecanduan rokok bisa menjadi pintu gerbang untuk mencoba narkoba jenis lainnya," ucap Pandang, seperti dikutip dari Antara, Selasa (8/6/2021).

Ada sederet risiko dan bahaya merokok saat usia muda. Simak di halaman berikut:

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kerusakan Organ Tubuh

Katakan Tidak Pada Rokok
Perbesar
Ilustrasi Rokok Credit: pexels.com/Dicty

 

Bukan cuma itu, semakin muda seseorang mulai merokok, semakin besar pula risiko kerusakan organ paru-paru dan organ lain seperti pembuluh darah dan jantung.

Ganggu Pertumbuhan

Dokter spesialis penyakit dalam di Primaya Hospital Sukabumi itu juga mengingatkan bahaya paparan nikotin terhadap tumbuh kembang anak, yakni gangguan kecerdasan dan tingkah laku hingga gangguan konsentrasi karena ada kerusakan pada korteks cerebri.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bahaya Perokok Pasif

Tak Ada Lagi Ruang bagi Perokok di Balai Kota Solo
Perbesar
Pencanangan bebas asap rokok di Balai Kota Solo sengaja dilakukan pada bulan puasa untuk menyiapkan pegawai tak merokok di bulan lain. (Liputan6.com/Fajar Abrori)

 

Orangtua harus menyadari kebiasaan merokok tak cuma berdampak buruk bagi diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain, termasuk buah hati mereka. Seorang anak bisa jadi perokok perokok pasif bila dikelilingi lingkungan orang-orang perokok, baik di rumah, sekolah atau tempat bermain.

"Bahkan anak dalam kandungan bisa disebut menjadi perokok pasif bila ibu yang mengandungnya merokok saat hamil," katanya.

Anak juga bisa jadi perokok tangan ketiga, yakni mereka yang menghirup racun dari asap rokok yang diembuskan perokok, kemudian menempel dan mengontaminasi benda-benda atau tubuh.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Angka Kematian Terbesar Kedua

Gambar Ilustrasi Kebiasaan Merokok
Perbesar
Sumber: Freepik

 

Kebiasaan merokok menyumbang presentase angka kematian terbesar kedua di Indonesia setelah hipertensi, sebab merokok menyebabkan banyak penyakit tidak menular yang berhubungan erat dengan merokok seperti kanker, penyakit jantung, penyakit pernapasan, penyakit paru oktsotivcoronis, stroke, serta penyakit yang berhubungan dengan kanker lainnya.

Pada 2020, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO melaporkan penggunaan tembakau membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahun yang terdiri atas 7 juta orang pengguna aktif tembakau, sedangkan 1,2 juta orang merupakan perokok pasif.

Program 5 Juta Orang Berhenti Merokok

Kementerian Kesehatan mencanangkan sebanyak 5 juta orang berhenti dari kebiasaan merokok melalui serangkaian program kerja yang digaungkan pada peringatan Hati Tembakau Sedunia 2021 yang jatuh pada 31 Mei silam.

Prevalensi perokok pada kelompok usia anak-anak 10-18 tahun, meningkat 7,2 persen 2013 menjadi 9,1 hingga 2018.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Video Pilihan

Lanjutkan Membaca ↓