Tradisi Meugang di Aceh, Sambut Lebaran dengan Berbagi Daging

Oleh Liputan6.com pada 10 Mei 2021, 15:00 WIB
Diperbarui 10 Mei 2021, 15:00 WIB
Warna Daging Sapi Asli Lebih Pekat
Perbesar
Ilustrasi Daging Sapi Asli Credit: freepik.com

Liputan6.com, Jakarta Setiap daerah memiliki tradisi dan adat istiadat yang berbeda-beda. Hal tersebut yang membuat masyarakat Indonesia mempunyai sikap toleransi yang tinggi antar sesama.

Saat melakukan sebuah perayaan, masyarakat Indonesia juga memiliki cara masing-masing untuk melakukannya. Cara tersebut biasanya berasal dari hal-hal yang biasa dilakukan nenek moyang dari dulu sehinggan diwariskan untuk terus dibudayakan.

Misalnya saja pada hari raya Idulfitri atau lebaran, masyarakat Indonesia merayakan dengan tradisi yang berbeda-beda di setiap daerah. Salah satu daerah di Indonesia yang sangat kental dengan ajaran agama Islam yaitu Aceh, melakukan sebuah tradisi bernama Meugang.

Tradisi ini masih dilakukan pada setiap tahunnya oleh masyarakat Aceh. Berikut penjelasan mengenai tradisi yang memiliki nilai sosial tinggi ini yang telah dirangkum dari berbagai sumber, Kamis, (6/5/2021).

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sejarah Tradisi Makmeugang di Aceh

Ilustrasi masyarakat
Perbesar
Ilustrasi masyarakat (Sumber: Pixabay/RoyBuri)

Makmeugang atau meugang ini memang tidak asing untuk masyarakat Aceh. Ini sebuah tradisi unik yang dimiliki masyarakat Aceh untuk menyambut hari-hari besar agama Islam yaitu sebelum memasuki bulan Ramdhan, hari raya Idulfitri, dan hari raya Iduladha.

Sejarah makmeugang berawal dari masa kerajaan Aceh. Pada saat kemimpinan Sultan Iskandar Muda di Kerajaan Aceh Darussalam, beliau ingin melakukan tradisi makmeugang itu. Sultan memerintahkan kepada para petinggi istana untuk membagikan daging kepada rakyat.

Daging tersebut juga dibagikan mengutamakan rakyat yang lebih membutuhkan seperti fakir miskin. Tradisi ini pun kemudian terus diwariskan kepada kepemimpinan kerajaan selanjutnya, yang mana sudah diwariskan secara turun temurun sampai sekarang.

Pada masa penjajahan Belanda dahulu pun, tradisi ini tetap dilaksanakan oleh masyarakat Aceh. Hal tersebut dilakukan dengan para pemimpin desa yang bersekutu dengan Belanda membagikan daing tersebut pada rakyat.

Tradisi ini memang tidak akan lekang dimakan waktu karena terus dibudayakan hingga saat ini. Tradisi yang sudah ada sejak zaman kerajaan Aceh ini pun sudah berumur ratusan tahun.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tujuan Acara Makmeugang

Ilustrasi sapi
Perbesar
Ilustrasi sapi (Sumber: Pixabay/Wijaak)

Tradisi makmeugang atau meugang ini merupakan sebuah tradisi di mana setiap masyarakat memasak daging dan menyantapnya bersama keluarga. Pada tradisi makmeugang ini diawali dengan melakukan pemotongan hewan seperti sapi, kerbau, atau kambing.

Pada sebagian masyarakat juga, ada yang langsung membeli daging di pasar untuk mengolah daging tersebut menjadi makanan apa pun. Tidak jauh berbeda pada zaman kerajaan Aceh, tujuan makmeugang ini masih sama hingga sekarang yaitu membagikan daging kepada masyarakat, khususnya yang fakir miskin.

Masyarakat saling berbagi pada daging dengan berbagai macam olahan yang berbeda-beda. Selain itu, pada saat kerjaan Ache pun, memiliki makna lain sebagai rasa syukur dan berterima kasih atas kemakmuran dan kesejahteraan Aceh.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tak Hanya Wariskan Budaya, Meugang Punya Nilai Positif

Berbagi di bulan Ramadan
Perbesar
Berbagi di bulan Ramadan. (Foto: pixabay)

Pembelajaran yang didapatkan dari tradisi makmeugang ini akan sangat bermanfaat pada kehidupan sehari-hari. Saling berbagi kepada sesama atau orang-orang yang membutuhkan merupakan sebuah nilai yang sangat positif dalam hidup.

Hal tersebut juga dilakukan Sultan untuk membuat semua masyarakatnya sama-sama bisa menyambut bulan Ramadhan , hari raya Idulfitri, dan hari raya Iduladha. Dengan adanya pembagian daging gratis tersebut seluruh masyarakat jadi bisa menikmatinya.

Pada masa sekarang pun, tujuan yang dimiliki Sultan harus terus dilakukan untuk membuat para orang yang membutuhkan bisa menikmati daging walau tak seberapa. Masyarakat Aceh pun dengan sangat bergembira terus menyambutnya pada setiap tahun.

Budaya Indonesia yang dikenal masyarakatnya dengan bergotong royong dan salin tolong menolong ini duktikan dengan adanya tradisi ini. Warisan budaya ini berikan nilai sosial yang luar biasa kepada seluruh warganya, sehingga harus terus dilestarikan.

 

 

 

 

Penulis:

Gerda Faradila

Politeknik Negeri Media Kreatif

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓