Climate Finance Leadership Initiative Berencana Mempercepat Transisi Energi untuk Indonesia

Oleh Liputan6.com pada 15 Apr 2021, 13:40 WIB
Diperbarui 15 Apr 2021, 13:40 WIB
Perubahan iklim
Perbesar
Ilustrasi: akibat perubahan iklim dan pemanasan global (sumber: wisdominnature.org)

Liputan6.com, Jakarta Hari ini Climate Finance Leadership Initiative (CLFI), sebuah organisasi yang didirikan dan diketuai oleh Utusan Khusus PBB untuk Climate Ambition and Solutions, Michael R. Bloomberg, merilis laporan Unlocking Private Climate Finance in Emerging Markets: Private Sector Considerations for Policymakers dalam program kemitraan dengan Association of European Development Finance Institutions (EDFI), dan Global Infrastructure Facility (GIF). Laporan yang menelusuri proses konsultasi publik selama dua bulan tersebut, menguraikan berbagai faktor kunci dalam menggiatkan kolaborasi publik-swasta yang diperlukan untuk menutup kesenjangan pendanaan proyek perubahan iklim di pasar negara berkembang.

Hal tersebut menyoroti kebijakan pemerintah di pasar negara berkembang dapat maju untuk menarik investasi terhadap proyek energi bersih, angkutan massal rendah karbon, sistem air dan limbah ramah iklim, bangunan hijau, dan penggunaan lahan berkelanjutan.

“Investasi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan melawan perubahan iklim juga memacu pertumbuhan ekonomi. Laporan ini menguraikan langkah-langkah yang dapat diambil oleh pasar negara berkembang, dengan dukungan dari bisnis dan komunitas internasional. Langkah-langkah ini diperlukan untuk menarik lebih banyak modal swasta untuk proyek hijau, menciptakan kemitraan publik-swasta baru, dan memastikan pemulihan yang kuat dari pandemic,” kata Michael R. Bloomberg, pendiri Bloomberg LP dan Bloomberg Philanthropies, dan Ketua CFLI.

Di masa mendatang, CFLI akan berusaha merancang, meluncurkan, dan mengoordinasikan serangkaian “Country Pilots”, bekerja sama dengan lembaga keuangan swasta domestik dan internasional terkemuka. Uji coba pertama direncanakan untuk India dan Indonesia, dengan tujuan mereplikasi model ini di negara lain untuk tahun-tahun berikutnya. Upaya ini akan mendorong mobilisasi modal untuk mempercepat transisi energi dan akan didasarkan pada pertimbangan kebijakan yang dikeluarkan hari ini untuk mendorong perubahan kebijakan di negara contoh.

“Pertimbangan kebijakan seperti yang tersorot pada laporan penting ini dapat memainkan peran utama dalam mendorong pendanaan iklim pada sektor energi dan sektor utama lainnya terhadap transisi rendah karbon. Semua ini merupakan produk kemitraan antara CFLI, GIF, dan EDFI. Selain itu, ada banyak lembaga yang berkontribusi memberikan konsultasi dan menawarkan masukan penting dalam dialog kami dengan pembuat kebijakan. Kolaborasi antara investor swasta dan lembaga yang didukung publik – seperti DFI Eropa – dapat mendukung reformasi di pasar negara berkembang dan terdepan. Kami yakin bahwa model ini memiliki potensi besar untuk memobilisasi pendanaan proyek perubahan iklim di tempat yang paling membutuhkannya,” jelas Bruno Wenn, Ketua Asosiasi Lembaga Keuangan Pembangunan Eropa.

 

2 dari 3 halaman

Selanjutnya

Climate Finance Leadership Initiative Berencana Mempercepat Transisi Energi Untuk Indonesia
Perbesar
doc: Istimewa

Di seluruh dunia, pasar negara berkembang sedang berusaha untuk bangkit dari pandemi COVID-19 dengan cara mempercepat investasi dalam proyek transisi rendah karbon dan membantu memenuhi kontribusi yang ditentukan secara nasional atau biasa disebut nationally determined contributions (NDCs) seperti yang diuraikan dalam Paris Agreement. Dengan pembiayaan transisi energi yang mencapai 500 miliar dolar AS pada tahun 2020, laporan baru ini memberikan pasar negara berkembang dengan opsi kebijakan potensial untuk menarik modal swasta.

Pilihan kebijakan ini terinspirasi dari contoh pasar negara berkembang yang telah berhasil mendorong investasi untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan dapat direplikasi untuk memenuhi kebutuhan dan kondisi ekonomi yang unik di berbagai negara. Private Sector Considerations for Policymakers memperjelas faktor-faktor yang dipertimbangkan investor saat mengevaluasi investasi dalam proyek infrastruktur berkelanjutan di pasar negara berkembang.

Faktor-faktor dari pertimbangan kebijakan ini menawarkan opsi perubahan kebijakan potensial yang tersedia untuk semua negara, yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan investasi mereka saat ini, atau posisi mereka menuju ekonomi yang rendahkarbon yang tangguh. Laporan tersebut juga menawarkan contoh bagaimana mekanisme lingkungan pendukung yang berbeda telah berhasil mempercepat transisi di bidang perekonomian.

“Membuka sumber modal swasta yang lebih besar menuju infrastruktur rendah karbon dan tahan iklim di pasar negara berkembang yang sejalan dengan komitmen Perjanjian Paris bergantung pada lingkungan yang mendukung penuh dan jalur peluang investasi infrastruktur yang menguntungkan dan berkelanjutan, mengedepankan dan mementingkan pemulihan hijau. Nilai dari laporan terbaru ini adalah memberikan wawasan yang sangat baik dari segi keuangan swasta tentang bagaimana meningkatkan ambisi untuk memprioritaskan lingkungan dan mengidentifikasi kebijakan yang benar-benar dapat mengkatalisasi pendanaan proyek perubahan iklim swasta dalam skala besar. GIF bangga bermitra dengan CFLI dan EDFI dalam pekerjaan penting ini,” kata Jason Zhengrong Lu, Kepala Fasilitas Infrastruktur Global.

 

3 dari 3 halaman

Selanjutnya

Ilustrasi perubahan iklim (climate change)
Perbesar
Ilustrasi perubahan iklim (climate change)

Pertimbangan Kebijakan diinformasikan melalui proses konsultasi publik selama dua bulan dan disebarluaskan langsung ke lebih dari 6.000 pakar global dan pemangku kepentingan yang mewakili sudut pandang bisnis, pemerintah, dan masyarakat sipil.

“Sebagai manajer aset aktif, kami berkomitmen penuh untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan. Saya bangga AllianzGI telah membantu membentuk pendekatan baru ini untuk memberikan dana proyek perubahan iklim di pasar negara berkembang, menggarisbawahi komitmen kami untuk memobilisasi modal swasta guna membantu mendanai transisi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Kami secara aktif menyusun solusi keuangan yang menggabungkan modal publik dan swasta dengan tujuan memerangi masalah dunia nyata,” jelas Tobias C. Pross, CEO Allianz Global Investors.

“AXA mendukung keinginan CFLI untuk menyokong pendanaan proyek infrastruktur hijau dan rendah karbon di negara berkembang sebagai peluang besar bagi investor swasta untuk meningkatkan mata pencaharian penduduk lokal. Laporan CFLI terkini menguraikan opsi kebijakan yang dapat direplikasi dalam skala besar untuk lebih menarik aliran dana yang mendukung transisi energi. Terima kasih kepada CFLI yang telah mengambil langkah sehingga muncul rekomendasi perubahan pada permainan. CFLI akan membantu menutup kesenjangan keuangan dan meningkatkan proyek infrastruktur yang mengubah hidup. Infrastruktur rendah karbon tidak dapat lagi menjadi tren pasar berkembang jika kami ingin mencapai tujuan Perjanjian Paris,” menurut Thomas Buberl, CEO AXA Group.

Lanjutkan Membaca ↓