5 Buku Tentang Feminis untuk Rayakan Hari Perempuan Internasional

Oleh Liputan6.com pada 08 Mar 2021, 17:57 WIB
Diperbarui 08 Mar 2021, 18:29 WIB
Dimulai Dari Niat dan Komitmen
Perbesar
Ilustrasi Membaca Buku Credit: freepik.com

Liputan6.com, Jakarta - Dahulu, perempuan sering kali mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari masyarakat atau kaum patriarki. Tak banyak perempuan yang berani menyuarakan pendapatnya untuk mendapat kebahagiaan, kebebasan, dan bahkan kesetaraan.

Berbeda dengan saat ini di mana perempuan sudah cukup mudah mendapatkan kebebasan dan kebahagiaan. Namun, tetap sering kali kesetaraan masih diremehkan oleh patriarki yang memang tidak bisa menghargai atau menerima perempuan menyuarakan pendapat.

Feminisme menjadi gerakan dan paham yang membuat perempuan berani untuk menuntut semua hak yang seharusnya dimiliki. Gerakan ini tidak bertujuan untuk menuntut kepada kaum patriarki, melainkan untuk mendapatkan kesetaraan hak dan kewajiban yang sama di masyarakat.

Untuk membuat gerakan dan paham ini terus berkembang, para perempuan harus memiliki ilmu yang mumpuni agar tak dipandang sebelah mata terus menerus.

Untuk merayakan Hari Perempuan Internasional, berikut beberapa rekomendasi buku tentang feminis.

2 dari 7 halaman

1. Menembus Patriarki: Refleksi Perjuangan Perempuan Bali dalam Novel Indonesia

Ilustrasi toko buku
Perbesar
Ilustrasi toko buku. (dok. mohamed_hassan/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)

Buku yang ditulis Gde Artawan ini rilis pada Maret 2019, berbentuk sebuah kajian yang menunjukkan novel-novel yang ditulis sastrawan Bali, sejak zaman dahulu sampai sekarang juga memberikan posisi sentral pada tokoh-tokoh perempuan dalam perjuangan untuk membebaskan diri dan kaumnya dari belenggu kaum patriarki.

Meskipun dalam perjalanannya harus mengalami berbagai hal yang menyakitkan seperti penderitaan, penistaan, dan kepasrahan yang luar biasa untuk membuat hal penting yang dibawanya menghasilkan.

Narasi yang dibawa dalam berbagai ranah seperti tradisi, kesetaraan gender, dan lain-lain, yang ingin fokusnya memberi pemaknaan baru sekaligus sebuah perlawanan kultural terhadap tradisi dan peran perempuan di mana pun.

3 dari 7 halaman

2. Bad Feminist

Menyiapkan Makanan Ringan Sebagai Cemilan
Perbesar
Ilustrasi Membaca Buku Credit: freepik.com

Buku ini ditulis oleh Roxane Gay yang rilis pada tahun 2014. Buku ini berisi tentang kumpulan esai yang mengeksplorasi seorang feminis yang juga mencintai hal-hal yang tampaknya bertentangan dengan paham feminis itu sendiri. Esai ini berdasarkan pengalaman pribadi yang dilalui dalam hidupnya.

Berbagai macam topik yang terdapat dalam buku ini dibagi menjadi lima bagian: Saya, Gender & Seksualitas; Ras & Hiburan; Politik, Gender & Ras; dan Kembali ke Saya.

Buku ini memang mengangkat bagaimana hidup sebagai seorang wanita di dunia ini. Tak hanya mengenai feminisme, tetapi buku ini membahas kemanusiaan dan empati.

4 dari 7 halaman

3. I Am Malala

Mencari Posisi Membaca yang Nyaman
Perbesar
Ilustrasi Membaca Buku Credit: freepik.com

Buku ini ditulis Malala Yousafzai dan Christina Lamb yang menceritakan kisah gadis yang berjuang untuk pendidikan dan ditembak oleh Taliban. Buku yang berbentuk autobiografi ini diterbitkan pada 2013, di Inggris dan Company di AS.

Kisahnya dimulai dari kehidupan awal Malala yang memiliki ayah seorang aktivis dan punya sekolah. Terpaan seperti kebangkitan, kejatuhan dan bahkan upaya pembunuhan yang dilakukan terhadap Malala. Hal tersebut terjadi karena memperjuangkan hak pendidikan untuk para perempuan yang ingin menimba ilmu.

5 dari 7 halaman

4. How To Be A Woman

Mengambil Waktu Rehat Sejenak
Perbesar
Ilustrasi Membaca Buku Credit: freepik.com

Buku karya Caitlin Moran ini merupakan buku non-fiksi yang diterbitkan pada tahun 2011. Buku tersebut mendokumentasikan kehidupan pribadi Caitlin Moran yang juga memberikan pandangan tentang feminisme.

Dalam tujuannya, Caitlin ingin para perempuan lebih dekat dengan feminisme dan menghilangkan pemikiran bahwa feminis sebagi pembenci pria radikal.

Ia juga ingin melihat semua perempuan mendukung narasi kesetaraan gender dengan sesungguhnya. Buku ini juga menceritakan kisah feminis Caitlin dengan “humor yang memaksa dan mencela dirinya sendiri” yang dapat dikaitkan dengan perempuan lainnya di luar sana.

6 dari 7 halaman

5. We Should All Be Feminists

Membaca Buku
Perbesar
Ilustrasi Membaca Buku Credit: freepik.com

Buku ini ditulis oleh penulis asal Nigeria, Chimamanda Ngozi Adichie yang diterbitkan pada 2014. Buku yang bergenre esai ini membahas tentang feminisme pada abad ke-21 yang juga menyertakan anekdot dan analisis di dalamnya.

Dalam buku ini menjelaskan bahwa feminsime tidak sepenuhnya menantang peran biologis gender lainnya karena feminsime hanya bermaksud untuk merevolusi seksisme dengan menciptakan kesempatan yang sama antara perempuan dan laki-laki.

Jadi, buku ini memberikan pemahaman bahwa feminisme sebaiknya dianut semua orang agar dapat memahami dan merealisasikannya.

Penulis:

Gerda Faradila

Politeknik Negeri Media Kreatif

7 dari 7 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓