Tak Hanya Fisik, Puasa Juga Bermanfaat untuk Kesehatan Mental

Oleh Camelia pada 10 Mei 2020, 14:00 WIB
Diperbarui 10 Mei 2020, 14:00 WIB
merdeka

Liputan6.com, Jakarta - Seluruh umat muslim di dunia saat ini tengah menjalani ibadah puasa Ramadan. Meski dijalani di tengah pandemi Corona Covid-19, tentu semangat menjalankan ibadah puasa tak berkurang.

Hal ini dilakukan tentunya untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT. Terlebih lagi puasa bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Puasa bahkan diklaim bisa meningkatkan imunitas tubuh seseorang. Hal tersebut tentu sangat baik di tengah pandemi saat ini.

Namun, rupanya tak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, puasa juga bermanfaat bagi kesehatan jiwa atau mental. Ya, puasa tak hanya berfungsi melatih jasmani semata, melainkan juga rohani. Bahkan bagi individu yang mengalami gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, dan insomnia.

Seperti melansir dari laman Hamad.qa, Jumat (1/5/2020), puasa dipercaya bisa melepaskan endorfin, hormon bahagia. Pasien dengan depresi ringan atau sedang mendapat kesempatan berinteraksi dengan orang lainnya selama Ramadan. Ini akan menghindarkan mereka dari perilaku menyendiri serta menumbuhkan rasa optimism.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 6 persen populasi manusia di dunia atau sekitar 350 juta orang menderita depresi. Studi mengungkap, berpuasa membantu seseorang yang mudah marah untuk bisa mengelola amarahnya dengan lebih baik.

2 dari 2 halaman

Diri Lebih Tenang

Ilustrasi orang bahagia
Ilustrasi orang bahagia. Sumber foto: unsplash.com/Gian Cescon.

Tak hanya itu, amalan harian yang sering dilakukan di bulan Ramadan seperti membaca Alquran hingga salat tarawih mendatangkan ketenangan serta membuka interaksi sosial antarumat.

Salat malam atau qiyamul lail selama Ramadan juga memberi ketenangan pikiran serta membantu individu mengatasi frustrasi akibat tekanan hidup.

Bahkan sebuah penelitian internasional mengungkap, berpuasa punya dampak positif yang luar biasa bagi individu yang tengah menjalani terapi kecanduan akibat penyalahgunaan obat. Ini karena puasa Ramadan mendorong pada perilaku positif serta mengubah kebiasaan buruk.

Selain itu, ada penelitian lain yang menunjukkan perilaku spriritual bisa mengubah struktur otak yang terkait dengan depresi menjadi lebih baik.

Lanjutkan Membaca ↓