Dokter Bedah Ini Alami Insomnia Parah Akibat Bekerja Selama 180 Jam

Oleh Novita Ayuningtyas pada 13 Feb 2019, 18:30 WIB
Diperbarui 13 Feb 2019, 19:17 WIB
Dokter Bedah Ini Alami Insomnia Parah Akibat Bekerja Selama 180 Jam

Liputan6.com, Jakarta Di tengah jadwal kerja yang padat, tentu saja kamu membutuhkan sebuah keseimbangan hidup. Kamu pasti akan merelakan sedikit waktu untuk relaksasi dari rutinitas harian.

Berbagai cara untuk merelaksasikan tubuh setiap orang pun berbeda. Ada yang melakukannya dengan menonton sebuah drama atau film, bersenang-senang bersama teman atau pun melakukan aktivitas sesuai dengan hobi kamu atau ‘me time’.

Meskipun begitu, ada juga loh yang tidak mendapatkan hak istimewa untuk bersenang-senang menghilangkan jenuh.

Salah satunya ialah mereka yang bekerja di bidang medis. Dilansir Liputan6.com dari World of buzz, pada Rabu (13/2/2019), Dr.Yumiko Kadota merupakan seorang ahli bedah plastik di Sydney, Australia. Wanita berusia 31 tahun ini memulai karier di Rumah Sakit Bankstwon-Lidcombe pada Februari 2018.

2 dari 4 halaman

Tak bisa tidur nyenyak selama 10 malam

View this post on Instagram

I was interviewed by the @sydneymorningherald about my story 💖 It will be in print for this morning’s paper 📰 online link is in my bio. I hope that it will increase awareness about the conditions and pressures junior doctors in Australia can be subjected to, and lead to much needed changes in our public health system. . 📸: @jamesbrickwood . . . . . . . #juniordoctors #doctors #burnout #mindbodymiko #mindbodysoul #publichealth #doctor #health #wellbeing #mentalhealthawareness #mentalhealthadvocate #mentalhealth #lookafteryourself #lookafteryourbody #healthfirst #selfcare #selflove #metoo #ilooklikeasurgeon #enoughisenough #youareenough #iamenough #putyourselffirst #yogini #sydneyyogateacher #holistichealth #selfpreservation #treatyourselfwell #alicemccallmoments

A post shared by Dr Yumiko Kadota (@mindbodymiko) on

 

Baru-baru ini ia pun mambagikan pengalaman kerja mengenai jam-jam mengerikan yang harus ia habiskan di rumah sakit. Selama tiga bulan dia bekerja di rumah sakit, Kadota hampir tidak memiliki waktu untuk makan dan tidur apalagi untuk bersosialisasi dengan teman-teman.

"Setiap dua minggu aku hanya akan menjadi dijamin 4 malam tidur tanpa gangguan. 10 malam lainnya tidak dapat diprediksi. Mungkin aku akan bangun, mungkin aku tidak akan bangun. Keresahan mental ini selama 10 hari dua minggu telah membebani saya.” Kata Kadota yang dikutip dari worldofbuzz.

Bukan hanya menangani pasien bedah plastik. Akan tetapi Kadota pun sering menerima panggilan untuk dokter gawat darurat pada jam-jam yang tak tentu.

Ia pun sering kali mengeluh akan panggilan darurat yang mengganggu jam tidur meski sedang tidak bertugas. Namun ia justru terkena emosi sang dokter lain yang menelfonnya.

3 dari 4 halaman

Alami Insomnia dan Trauma kecelakaan

 

Dengan jadwal yang padat di rumah sakit, Kadota pun terpaksa harus memakan makanan yang disediakan oleh rumah sakit. Meski disediakan makanan oleh pihak rumah sakit, akan tetapi ia tidak bisa makan dengan tenang.

Jadwal makan tak beraturan selama dua bulan, Kadota didiagnosis mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Tentu saja obesitas yang ia alami membuat Kadota kebingungan. Kadota mulai menjalani program kesehatan dengan dokter keluarganya.

Namun ia mengundurkan diri menjadi seorang dokter akibat stress yang diderita. Meski secara fisik ia tetap sehat, akan tetapi secara rohani ia hancur.

“Tanggal 1 Juni adalah hari kerja saya yang ke 24 secara berturut-turut, 19 di antaranya adalah 24 jam pada hari panggilan. Saya tahu apa artinya mengundurkan diri - saya akan masuk daftar hitam dan saya tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan di Bedah Plastik lagi di Sydney,” tambahnya.

Namun nyatanya bukan karena harus menjalani program pengurangan berat badan ia harus mengundurkan diri. Akan tetapi ia pun mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari tugas jaga di rumah sakit.

Ia juga menderita insomnia parah karena trauma yang dihadapi. Setiap malam Kadota selalu terbangun setiap 2 jam, hal ini karena otaknya masih berpikir bahwa ada panggilan darurat dari rumah sakit.

4 dari 4 halaman

Perjuangkan hak dokter junior

Meskipun saat ini Kadota sedang menjalani pemulihan pasca trauma dan juga insomnia, namun ia masih memiliki keinginan untuk kembali praktik.

Terlepas dari kejadian yang dialami oleh Kadota, ia merasa bahwa melakukan sebuah operasi bedah plastik mampu membuatnya lebih baik. Ia juga mulai memperjuangkan hak dokter junior untuk tidak diekspoitasi, terutama di Australia.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

Kasihan, Pria Jatuh saat Beraksi Main Egrang 3 Meter