Angela Bachiller, Penyandang Down Syndrome Pertama yang Terjun ke Politik

Oleh Afifah Cinthia Pasha pada 12 Feb 2019, 14:15 WIB
Angela Bachiller, Penyandang Down Syndrome Pertama yang Terjun ke Politik

Liputan6.com, Jakarta Masih banyak orang yang memandang penyadang down syndrome dengan sebelah mata. Down syndrome adalah kondisi genetik yang menyebabkan gangguan belajar dan ciri fisik tertentu.

Kondisi ini berlangsung seumur hidup, namun dengan perawatan yang tepat, penyandang down syndrome dapat bertumbuh dengan sehat, hidup dengan bahagia dan produktif bagi lingkungan.

Bahkan tidak sedikit juga penyandang down syndrome yang sukses, salah satunya Angela Bachiller dari Spanyol. Berikut kisah sukses Angela Bachiller yang telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (12/2/2019).

Angela Bachiller, wanita asal Spanyol menjadi anggota dewan pemerintah pertama di dunia yang menyandang down syndrome. Angela dipercaya oleh negaranya memegang Divisi Kesejahteraan Sosial sejak 2013. Angela Bachiller merupakan anggota dewan kota Spanyol untuk Valladolid dan anggota Partai Rakyat.

Angela Bachiller resmi dilantik pada 29 Juli 2013. Tidak ada perbedaan dalam menjalani tugas bersama rekan kerjanya yang normal. Bahkan keberadaan Angela di badan pemerintahan dianggap sebagai kemajuan besar di negaranya.

Menurut Rosa Hernández, pimpinan Divisi Kesejateraan Sosial, Angela adalah perempuan yang ulet dan mampu melaksanakan tugas dengan baik dan benar.

Truk Buah Tergelincir, Ratusan Semangka Penuhi Jalan

Tutup Video
2 of 3

Awal Mula Karier Politik Angela

Awal mula Angela berkarier sebagai asisten administratif untuk Social Welfare and Family selama kurang lebih tiga tahun sebelum akhirnya pada tahun 2013 dia terpilih sebagai anggota dewan.

Sewaktu Jesus Garcia Galvan yang tak lain adalah anggota dewan di Spanyol terjerat korupsi kemudian mengundurkan diri, Bachiller mendapatkan kesempatan untuk mengisi kursi tersebut.

Dengan dukungan dari banyak pihak termasuk Walikota kota Francisco Javier León de la Riva yang telah berkuasa sejak tahun 1995, akhirnya Bachiller berhasil mendapatkan posisi sebagai dewan kota menggantikan Jesus Garcia Galvan.

Walikota kota Francisco Javier León de la Riva menggambarkan Bachiller sebagai "contoh kekuatan dan seseorang yang mengatasi keterbatasannya".

Sementara bosnya di departemen kesejahteraan sosial Valladolid, Rosa Hernández, mengatakan, "Yang paling penting adalah keluarganya tidak melakukannya. Jangan terlalu melindungi dia. Dia ulet dan mampu melakukan pekerjaannya setiap saat."

Partai Sosialis Oposisi (PSOE) mendukung pengangkatan Bachiller. "Kami melihat ini sebagai sesuatu yang sangat normal, mari berharap itu mendorong orang lain dalam situasinya untuk memainkan peran yang lebih besar di masyarakat." kata Óscar Puente, kepala Kelompok Sosialis di Dewan Kota Valladolid. Dikutip Liputan6.com dari The Local Spain, Selasa (12/2/2019).

3 of 3

Hak Pilih untuk Penyandang Down Syndrome di Spanyol

Asosiasi down syndrome Spanyol menyambut berita tentang posisi baru Bachiller, menggambarkan sebagai suatu energi positif yang luar biasa.Presiden Asosiasi Agustín Matía juga memperingatkan bahwa ada jalan panjang yang harus ditempuh.

Dia menyoroti sebuah situasi di mana seorang wanita dengan Down's Syndrome dapat menjadi anggota dewan kota sementara "orang-orang muda dengan usia yang sama dan dalam kondisi yang sama tidak memiliki hak memilih dalam politik".

Di bawah Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas, para penyandang disabilitas dijamin berpartisipasi dalam kehidupan politik dan publik, termasuk hak untuk memilih.

Namun, sementara orang-orang disabilitas intelektual di Spanyol secara teoritis berhak untuk berpartisipasi selama pemilihan, banyak yang menemukan diri mereka tidak dapat melakukannya setelah mereka dinyatakan 'tidak mampu' oleh seorang hakim.

Hakim Spanyol sering menyatakan penyandang disabilitas tidak mampu untuk melindungi mereka dari membuat keputusan keuangan atau pilihan hidup yang buruk.

Namun, di bawah undang-undang Spanyol saat ini, orang secara otomatis kehilangan hak untuk memilih ketika mereka dinyatakan 'tidak mampu' untuk tujuan lain.

 

Lanjutkan Membaca ↓