Layaknya Sulap, Makanan Ini Beku Seketika di Antartika

Oleh Liputan6dotcom pada 16 Okt 2018, 08:00 WIB
Diperbarui 17 Okt 2018, 18:13 WIB
Layaknya Sulap, Makanan Ini Jadi Beku Seketika di Antartika

Liputan6.com, Jakarta - Sebagai bagian dari pekerjaannya, astrobiologis Cyprien Verseux telah tinggal di Antartika - daerah terdingin di bumi yang menjadikannya benua paling terisolasi dan tidak berpenghuni. Bahkan Stasiun Luar Angkasa Internasional, 400km di atas bumi, lebih ramah daripada suhu beku Antartika.

Tetapi Cyprien dan timnya masih perlu menemukan bagaimana cara bertahan hidup dan makan setiap hari di sana. Lantas, seperti apa rasanya makan dalam kondisi beku seperti pada gambar di atas?

Dilansir dari Metro.uk, berikut pengalaman para ilmuwan yang berhasil tinggal di Antartika.

2 of 3

Cuaca yang tidak bersahabat

Layaknya Sulap, Makanan Ini Jadi Beku Seketika di Antartika
Makanan yang membeku saat hendak dibuat di Antartika. (Sumber foto: Cyprien Verseux)

Memasak tentu tidak mudah karena akan berakhir dengan pembekuan.

Cyprien berbagi gambaran tentang apa yang terjadi ketika Anda mencoba untuk membuat makanan di udara dingin.

Ilmuwan Prancis telah menulis blog tentang pengalamannya di Stasiun Penelitian Concordia.

"Hampir tidak ada makhluk hidup yang terpisah dari beberapa manusia dan mikroba yang menyertai mereka di mana-mana," tulisnya.

Suhu udara yang ada di sana bisa melewati -80 ° C.

3 of 3

Eksperimen memasak di Antartika

Layaknya Sulap, Makanan Ini Jadi Beku Seketika di Antartika
Makanan yang membeku saat hendak dibuat di Antartika. (Sumber foto: Cyprien Verseux)

Untuk menunjukkan betapa tidak ramahnya kondisi cuaca yang ada di Antartika, Cyprien pergi keluar untuk mencoba memasak di lingkungan terbuka.

Tak disangka, masakan yang hendak ia buat lebih mirip dengan sebuah karya seni, seperti telur yang pecah menggantung di udara saat putih dan kuning telur membeku, telur dadar membeku di posisi tengah saat hendak dituangkan dari panci ke piring, dan keseimbangan garpu dari spaghetti yang mengeras.

"Kami kehabisan makanan segar di awal musim dingin karena kami tidak memiliki pasokan makanan sejak awal Februari hingga awal November. Jadi, kami pun mengonsumsi sebagian besar makanan beku, mengingat bahwa suhu tidak pernah menjadi positif, kami pun hanya menyimpannya dalam wadah di luar," jelas Cyprien menambahkan.

Namun, terlepas dari itu semua, para peneliti masih menikmati tinggal di sana meskipun berada pada gurun yang tidak ramah dan dengan kondisi cuaca yang sangat dingin karena dapat mempelajari berbagai bidang seperti astronomi dan fisiologi manusia.

 

Penulis:

Immanuela Harlita Josephine

Lanjutkan Membaca ↓