Gara-Gara Hoaks, 4 Vaksin Ini Pernah Jadi Kontroversi

Oleh Liputan6.com pada 23 Agu 2018, 21:03 WIB
Diperbarui 25 Agu 2018, 20:13 WIB
[Bintang] 5 Hal yang Harus Diketahui Orangtua Tentang Vaksin MR

Liputan6.com, Jakarta - Untuk mencegah terjangkitnya bakteri dan virus sebagai wabah mematikan, maka dibuatlah vaksin. Tidak hanya untuk anak-anak, orang dewasa juga perlu vaksin agar tidak menyebarkan penyakit menular.

Tentu pemberian vaksin ini juga turut dibantu pemerintah supaya mendorong peningkatan kesehatan terhadap masyarakat. Tapi alih-alih diterima dengan baik, sejumlah vaksin ini pernah menuai kontroversi. Hal itu terjadi karena tidak sedikit orang meragukan bahan dasar pembuatan vaksin.

Dirangkum oleh Merdeka, berikut empat vaksin yang pernah menjadi kontroversi masyarakat.

 

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini:

2 of 5

1. Vaksin HPV

20160629-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto
Ilustrasi Foto Vaksin (iStockphoto)

Pernah tersebar informasi, jika vaksin HPV bisa bikin mandul atau osteoporosis. Namun faktanya, itu hoaks. Tujuan pemberian vaksin HPV adalah untuk menangkal kanker hati dan kanker serviks. Kanker inilah yang paling ditakuti oleh wanita.

Terkait pandangan yang salah soal vaksin HPV tersebut, dokter spesialis penyakit dalam dari In Harmony Clinic, Kristoforus Hendra Djaya, menegaskan bahwa vaksin HPV hanya menangkap sel kanker yang masuk ke serviks, sehingga tidak ada efek samping yang ditakutkan itu.

"Memang akan timbul efek ringan setelah divaksin HPV, tapi itu pertanda vaksin bekerja di tubuh pasien. Tubuh menunjukkan reaksi bikin antibodi," kata dia pada sebuah diskusi belum lama ini.

3 of 5

2. Vaksin MMR

Ilustrasi Vaksin Palsu
Ilustrasi Vaksin Palsu

Vaksin MMR adalah vaksin yang diberikan dengan tujuan agar tubuh terlindung dari penyakit gondong, campak, dan rubella. Namun beredar kabar bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan anak mengalami autisme.

Sebenarnya, autisme merupakan gangguan perkembangan yang memengaruhi komunikasi, perilaku, dan interaksi sosial, dan ini terkait dengan genetik dan lingkungan. Belum ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme.

4 of 5

3. Vaksin Measles Rubella (MR)

20160628-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto
Ilustrasi Foto Vaksin (iStockphoto)

Vaksin MR atau Rubella menjadi polemik di kalangan masyarakat, karena bahannya yang terbuat dari unsur babi dan organ tubuh manusia. Banyak yang meragukan kehalalan vaksin ini.

Meskipun begitu, MUI memutuskan vaksin MR saat ini dibolehkan (mubah), untuk imunisasi. Karena kondisi terpaksa dan belum ditemukan vaksin halal yang cocok untuk rubella.

Fatwa Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR Produk dari SII untuk Imunisasi itu diputuskan pada Senin 20 Agustus 2018 malam dan disahkan oleh Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF beserta Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni'am Sholeh.

5 of 5

4. Vaksin tetanus

20160629-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto
Ilustrasi Foto Vaksin (iStockphoto)

Kasus vaksin tetanus terjadi di Palembang. JM (9), siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Yayasan Al-Hikmah meninggal usai disuntik vaksin tetanus. Tak terima, orang tua JM melaporkan kejadian ini pada polisi. Namun setelah diselidiki, JM meninggal bukan karena disuntik vaksin tetanus, melainkan terkena radang otak.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang, dr Letizia, mengungkapkan diagnosis tersebut berdasarkan hasil penelitian dari Komisi Daerah Penanggulangan dan Pengkajian Kejadian Pasca Imunisasi (KIPI) bekerjasama dengan Balai POM Palembang. Tim dokter menemukan fakta bahwa korban menderita accute disseminated encephalomyelitis atau radang otak bersamaan dengan imunisasi.

Tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin dan pasca imunisasi. Artinya, terjadi koinsiden atau kebetulan kejadian bersama-sama dengan pemberian imunisasi terhadap korban, ungkap Letizia.

Reporter

Fellyanda Suci Agiesta

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓