Gara-Gara Pakai Pembalut Terlalu Lama, Nyawa Gadis Ini Melayang

Oleh Nur Aida Tifani pada 03 Jul 2018, 18:00 WIB
Diperbarui 03 Jul 2018, 18:00 WIB
[Bintang] Ilustrasi Pembalut dan Tampon
Perbesar
Pembalut vs Tampon, manakah yang terbaik untuk dipakai saat menstruasi? (Sumber Foto: womensvoices)

Liputan6.com, Jakarta - Mesntruasi memang hal alamiah yang terjadi pada tubuh wanita. Setiap bulannya proses biologis tersebut kerap terjadi selama sebulan sekali. Siklus tersebut menyebabkan keluarnya darah dari organ wanita. 

Oleh sebab itu, biasanya wanita mengatasi menstruasi dengan menggunakan pembalut.

Untuk menjaga kebersihan organ intim wanita, apalagi saat menstruasi perlu dengan rutin mengganti pembalut. Bukan hanya dari segi kebersihan, tindakan ini menjadi penting karena dapat menyangkut nyawa seorang wanita.

Dilansir dari Shared, Selasa (3/7/2018), seorang gadis berumur 16 tahun tewas dalam piknik sekolahnya pada tahun lalu. Ketika teman-temannya berusaha untuk membangunkan Sara Manitoski, mereka merasa janggal karena Sara tidak kunjung bangun dari tempat tidurnya.

Saat paramedis didatangkan, gadis itu tetap tak memberikan respon apapun. Sampai akhirnya ia dinyatakan meninggal dunia. Tentunya kematian Sara membuat para keluarga bingung.

Orangtuanya mempertanyakan apa yang menyebabkan kematian putri mereka. Hingga akhirnya setahun kemudian hal itu terjawab. Penyebabnya karena pembalut yang digunakan remaja itu.

2 dari 3 halaman

Tewas karena keracunan infeksi

Kelamaan Pakai Pembalut, Remaja Tewas Keracunan
Perbesar
(Foto: People) Sara Manitoski saat tengah melakukan trip bersama teman-teman sekolahnya. Kematiannya pada Maret 2017 lalu meninggalkan duka karena keluarga belum dikonfirmasi penyebab meninggalnya gadis muda tersebut.

Bedasarkan hasil laporan investigasi, remaja asal Kanada itu tewas akibat Toxic Shock Syndrome (TSS). Kondisi langka yang menyebabkan penderitanya mengalami keracunan darah akibat infeksi bakteri.

Ada kemungkinan besar bahwa Sara mengalami infeksi akibat menggunakan tampon atau pembalut terlalu lama. Hal ini diketahui dari adanya bakteri Staphylococcus aureus yang terdapat dalam pembalut Sara.

"Kita tahu ada sesuatu yang mungkin terjadi dalam penggunaan tampon, mungkin akibat terlalu lama menggunakan tampon. yang dapat memberikan risiko tinggi untuk mengalami infeksi," kata Petugas Kesehatan Medis Island Vancouver, kepada stasiun media lokal.

Sejak penyebab kematian Sara itu diketahui oleh keluarga, salah satu saudarinya memberikan peringatan tentang bahaya TSS kepada warganet.

3 dari 3 halaman

Ganti pembalut setelah delapan jam

[Bintang] Ilustrasi Tampon dan Pembalut
Perbesar
Pembalut vs Tampon, manakah yang terbaik untuk dipakai saat menstruasi? (Sumber Foto: The Inquisitr)

"Setelah 9 bulan tersiksa, akhirnya kami mendapat konfirmasi bahwa adik perempuanku meninggal akibat TSS. Banyak wanita harus diedukasi tentang hal ini, apalagi beberapa orang mungkin belum tahu apa itu TSS," tulis Carli Manitoski dalam halaman akun Facebook-nya.

Carli menuliskan bahwa sebelum adiknya meninggal, ia sempat mengeluhkan keram. Memang benar tanda-tanda TSS mungkin kerap tak disadari, tapi jika saja hal ini diberi tahu kepada banyak orang, bisa jadi satu nyawa akan terselamatkan.

Mungkin dalam kasus wanita, TSS bisa terjadi ketika kita memakai pembalut. Namun, keracunan karena bakteri tidak hanya disebabkan akibat penggunaan pembalut saja.

Namun, kasus Sara bisa menjadi tolak ukur bahwa wanita sudah semestinya tidak menggunakan pembalut lebih dari delapan jam dalam sehari. Hal ini perlu diingatkan karena, bahaya terjadinya risiko TSS.

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓