Nagashi-Somen, Tradisi Unik Makan Mi yang Meluncur di Bilah Bambu

Oleh Alexander Lumbantobing pada 16 Jun 2018, 18:00 WIB
Diperbarui 16 Jun 2018, 18:00 WIB
Makan nagashi-somen--artinya, mi yang mengalir--merupakan tradisi musim panas di Jepang.
Perbesar
(Sumber cuplikan video Instagram/@wander.wonder.wasabi)

Liputan6.com, Jakarta - Mi memang menjadi makanan favorit banyak orang di benua Asia, terutama Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan tentu saja Indonesia. Jenis makanan itu sendiri hadir dalam banyak varian, baik bentuk, warna, rasa, tekstur, dan cara menyantapnya.

Belakangan, banyak kreasi baru menu mi, baik dalam cara penyajian maupun olahannya. Yang terbaru dan viral adalah olahan mi dalam bentuk donat dan onigiri. Nah, kalau dari Jepang ini, ada sisi unik dalam cara penyajian mi.

Sebuah restoran di Kyoto, Jepang, yakni Hirobun memberikan pengalaman berbeda bagi penikmat mi. Kalau berkunjung ke restoran yang punya nuansa asri bahkan ada air terjun mini ini, kamu bisa mencoba makan mi yang meluncur di atas bilah bambu.

 

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Makan nagashi-somen--artinya, mi yang mengalir--merupakan tradisi musim panas di Jepang.
Perbesar
(Sumber mylittlejapan.com)

Bukan sembarang makan mi di atas bilah bambu. Dilansir brilio.net dari Feedytv, makan nagashi-somen atau berarti mi yang mengalir ini merupakan tradisi musim panas di Jepang.

Tak heran bila bukan hanya Hirobun yang menyajikan nagashi-somen, melainkan juga restoran-restoran lain di Jepang. Tradisi ini biasanya berlangsung sekitar akhir April dan awal Mei setiap tahun.

Disebut tradisi karena pada masa lalu, keluarga di Jepang akan membelah batang bambu, mencucinya, lalu memasang memanjang seperti seluncuran air mengalir guna menikmati nagashi-somen.

Mi putih yang bentuknya super tipis diletakkan di air dingin lalu meluncur di cekungan bilah bambu, dari tempat yang lebih tinggi menuju ke bawah. Saat mi yang terbuat dari gandum tersebut tepat di depanmu, kamu harus sigap mengambilnya dengan sumpit.

Nagashi-somen ini dimakan dalam keadaan dingin. Setelah mengambilnya dari bilah bambu, kamu perlu mencampurnya dengan saus yang ada di mangkuk supaya lebih nikmat.

Tradisi ini bukan hanya bernilai budaya semata, melainkan juga memberikan kesan seru dan hangat saat dinikmati bareng keluarga maupun kawan. 

Reporter:

Agustin Wahyuningsih

Sumber: Brilio.net

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓