Seramnya Mitologi Gerhana Bulan di 5 Peradaban Masa Lampau

Oleh Nur Aida Tifani pada 31 Jan 2018, 14:00 WIB
Diperbarui 02 Feb 2018, 13:13 WIB
[Bintang] Gerhana Bulan Bisa Dilihat pada 31 Januari 2018, Jangan Lupa Ya

Liputan6.com, Jakarta Bulan merupakan benda langit yang menjadi banyak rujukan waktu di masa lalu. Oleh karena itu, hilangnya Bulan ketika terjadi gerhana kerap kali disimbolkan sebagai fenomena yang menyebabkan kekacauan serta bahaya.

Gerhana Bulan yang muncul kerap dikaitkan dengan sejumlah mitos-mitos yang membuat takut masyarakat pada zaman dahulu. Melansir National Geographic, Rabu (31/1/2018) berikut ini mitos-mitos yang tersebar saat terjadi Gerhana Bulan di peradaban kuno.

1. Mesopotamia: Gerhana adalah serangan untuk Raja

Ilustrasi Taman Gantung Babilonia (Wikipedia/Public Domain)

Tradisi peradaban Mesopotamia selalu dikaitkan erat dengan kejadian dan fenomena di langit serta di Bumi. Mereka melihat fenomena gerhana sebagai sebuah serangan kepada raja mereka, yang dianggap mewakili Bumi.

Karena mereka sudah mengenal perhitungan astrologi, mereka mampu untuk memprediksi terjadinya gerhana. Biasanya untuk menyelamatkan raja mereka, pihak kerajaan akan mencari seseorang untuk menggantikan raja.

Hal ini dilakukan agar sang pengganti dapat menanggung beban dan serangan apa pun ketika Gerhana Bulan terjadi.

Meski penggantinya tidak benar-benar bertugas sebagai raja, ia nantinya akan diperlakukan dengan baik selama masa gerhana berlangsung. Sementara itu, raja asli akan menyamar sebagai warga biasa atau tak terlihat sama sama sekali.

Menurut E. C. Krupp, direktur Observatorium Griffith di Los Angeles, California, raja pengganti biasanya dilenyapkan setelah gerhana berlalu.

2 dari 4 halaman

2. Suku Inca: Jaguar melahap Bulan

Melihat Festival Inti Raymi di Peru
Sejumlah pemain melakukan adegannya dalam Festival Inti Raymi di kompleks benteng Sacsahuaman, Peru (24/6). Acara ini untuk merayakan Tahun Baru Inca dan titik balik matahari pada musim dingin. (AFP Photo/Cris Bouronce)

Saat Gerhana Bulan terjadi, suku Inca percaya tentang cerita mitos jaguar menyerang dan melahap Bulan.

Hal ini disebabkan mereka melihat penampakan Bulan bewarna kemerahan. Sehingga mereka percaya bahwa jaguar benar-benar menyerang Bulan. Masyarakat suku Inca merasa takut jaguar akan turun ke Bumi untuk memakan orang-orang, setelah menyerang Bulan. 

Mereka mencegah hal itu terjadi dengan menimbulkan suara yang bising. Bahkan tak tanggung-tanggung, mereka juga sampai memukul anjing agar melolong dan membuat jaguar tersebut menjauh.

3. Peradaban Tiongkok: pemicu makar

 

Tang dari Shang,  raja pertama dari dinasti Shang di Tiongkok. Source: http://herodotohistoriant.blogspot.com

Tertulis pada sejarah bambu atau Zhúshū Jìnián, sempat mengacu kepada fenomena Gerhana Bulan Total yang terjadi pada 1059 SM. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan terakhir dari Raja Dinasti Shang.

Banyak masyarakat menganggap gerhana dapat memicu peristiwa politik yang menggulingkan pemerintahan Dinasti Shang. Selain memicu politik, fenomena lainnya seperti Gerhana Matahari juga dianggap oleh peradaban kuno Tiongkok, sebagai gambaran naga atau anjing hitam melahap Matahari.

3 dari 4 halaman

4. Suku Hupa dan Luiseño: Bulan diserang

Suku Indian sebagai penduduk asli Amerika
Suku Indian

Sebagai peradaban asli dari Amerika, suku Hupa yang terletak di utara California percaya bahwa bulan memiliki 20 istri dan hewan peliharaan.

Kebanyakan hewan peliharaan yang dimiliki Bulan berupa singa hutan serta ular. Karena tidak memberikan mereka cukup makanan, akhirnya Bulan diserang.

Warna kemerahan pada Bulan ditandai dengan terlukanya Bulan akibat serangan dari hewan-hewan peliharaannya. Gerhana yang berlalu dijadikan cerita bahwa istri-istri Bulan telah datang untuk melindunginya serta mengumpulkan darahnya agar ia kembali sehat.

Sedangkan suku Luiseño yang terletak di Selatan California menganggap, terjadinya gerhana merupakan simbol bahwa bulan mengalami sakit. Biasanya masyarakat suku Luiseño akan menyanyikan lagu untuk bulan agar ia sehat.

4 dari 4 halaman

5. Peradaban Hindu: Legenda dewa vs setan

Wanita Hindu Nepal Sembah Dewa Matahari di Festival Chhath Puja
Ekspresi seorang wanita Nepal yang mengenakan bubuk vermilion saat melakukan doa di tepi Sungai Bagmati selama festival Chhath Puja di Kathmandu, Nepal (26/10). Acara ini merupakan ritual Hindu kuno. (AP Photo/Niranjan Shrestha)

Cerita tentang fenomena gerhana dalam peradaban Hindu punya cerita yang menarik. Sekelompok dewa menginginkan untuk membuat sebuah obat mujarab yang abadi. Hal ini mendorong mereka untuk meminta bantuan kepada beberapa setan untuk mengaduk samudra kosmik.

Dari proses tersebut ternyata juga menyebabkan terjadinya penciptaan Bulan dan Matahari. Setelah obat itu selelsai, para dewa berjanji akan membagikan obat mujarab dengan setan.

Dewa Wisnu menyamar sebagai wanita dan mendorong para setan untuk mencuri bagian obat mujarab mereka.

Salah satu setan, yakni Rahu, menyelinap untuk mencuri obat dalam tegukan yang besar. Tindakan Rahu kemudian diketahui oleh Matahari dan Bulan. Setelah memberitahu tindakan Rahu dengan suara peluit.

Dewa Wisnu memotong kepala Rahu, sayangnya ia telah menjadi abadi. Akibat Bulan dan Matahari membongkar tindakannya.

Rahu merasa marah dan akhirnya berusaha menangkap Bulan dan Matahari di langit. Jika ia berhasil mengejar salah satunya, maka ia akan melahapnya.

Tapi karena kepalanya terputus, Bulan dan Matahari yang telah ia lahap bisa tergelincir kembali melalui lehernya yang terputus. Walaupun begitu Rahu masih tetap berusaha mengejar mereka.

Cerita tentang gerhana ini ditulis dalam teks Mahabharata.

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini:

 

Lanjutkan Membaca ↓
Selain Diminum, Manfaat Buah Naga Dapat Jadi Masker