Tukang Jam Ciptakan Kipas Angin yang Tak Butuh Listrik

Oleh Sulung Lahitani pada 17 Jan 2018, 08:00 WIB
Diperbarui 19 Jan 2018, 07:13 WIB
Tukang Jam Ciptakan Kipas Angin Hidup Tanpa Listrik dan Baterai

Liputan6.com, Jakarta - Seorang pembuat jam tangan berusia 69 tahun dari Lucena City, Filipina, berhasil menciptakan kipas angin yang tak butuh listrik. Pria bernama Ramon Salva itu hanyalah seorang lulusan sekolah dasar dan telah bekerja memperbaiki jam selama 50 tahun belakangan.

Namun, hal itu tidak menghentikannya membuat terobosan dengan penemuan kipas angin hemat listrik. Proyek yang disebut SalFan itu diciptakan dengan menggunakan mekanisme clockworm.

Pengalamannya sebagai pembuat jam membuat dia menguasai keahlian yang mengkonseptualisasikan SalFan pada tahun 1996. Akan tetapi karena keterbatasan biaya, ia tak bisa menyelesaikan proyek tersebut secepatnya.

Tak heran, butuh waktu lebih dari 20 tahun baru ia bisa menyelesaikan kipas angin tersebut.

Salfan sendiri berasal dari suku kata pertama dari nama keluarganya, sementara 'fan' berarti kipas angin. Dengan pengamatan Ramon yang tajam, mekanisme kipas yang ia ciptakan sangat mirip dengan arloji, tapi tanpa baterai.

 

 

 

2 of 3

Selanjutnya

Tukang Jam Ciptakan Kipas Angin Hidup Tanpa Listrik dan Baterai
Seorang pembuat jam tangan berhasil menciptakan kipas angin yang tak butuh listrik.

Meski bangga dengan apa yang ia ciptakan, Ramon mengaku tak mampu membeli suku cadang yang dibutuhkan untuk memperbaiki penemuannya. Ia juga tak bisa mendaftarkan paten untuk proyeknya di pemerintahan.

Hal ini dikarenakan, jarak dari tempat tinggalnya ke Manila telah menjadi penghalang agar karyanya bisa dikenali. Pada salah satu acara tv, Sunday ABS CBN, ia mengungkapkan bahwa uang yang bisa digunakan untuk ongkos, selalu berakhir dengan digunakan untuk memberi makan keluarga dengan 10 anak.

3 of 3

Selanjutnya

Tukang Jam Ciptakan Kipas Angin Hidup Tanpa Listrik dan Baterai
Seorang pembuat jam tangan berhasil menciptakan kipas angin yang tak butuh listrik.

Beruntung, acara tersebut membantu pria itu membawa temuannya ke kantor Institut Aplikasi dan Promosi Teknologi (TAPI) di Departemen Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (DOST), Taguig, Filipina. Menurut Senior Spesialis Riset Ilmu Pengetahuan, Janeth Cruzada, masih banyak yang harus dilakukan untuk mendaftarkan penemuan itu. Proses pendaftaran paten tersebut termasuk bukti bahwa temuan Ramon tidak identik dengan penemuan lain di seluruh dunia.

Di sisi lain, Ramon percaya diri bahwa penemuannya adalah yang pertama di dunia. Ia memiliki harapan tinggi bahwa pengabdiannya bertahun-tahun pada akhirnya akan bermanfaat.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓