7 Kuliner Khas Sunda Ini Bertahan dari Gempuran Junk Food

Oleh Yulia Lisnawati pada 26 Jun 2017, 08:00 WIB
Diperbarui 26 Jun 2017, 08:00 WIB
 7 Kuliner Khas Sunda Ini Bertahan dari Gempuran Junk Food

Liputan6.com, Jakarta - Serbuan kuliner dari barat membuat makanan khas Sunda terancam punah. Padahal kuliner khas tradisional memiliki sejarah dan filosofi yang memiliki arti dalam kehidupan. Untunglah kreasi anak Bandung menyelamatkan kuliner khas Sunda hingga masih bertahan saat ini.

Meskipun terkadang agak sulit untuk ditemukan di pasar tradisional maupun pasar modern, penjajanya masih bisa ditemukan di beberapa sudut kota. Penasaran apa saja? Berikut ulasannya.

1. Colenak

Colenak adalah dicocol enak. Dari namanya saja sudah menggoda selera. Colenak ini merupakan kuliner khas Sunda dengan bahan tapai yang dibakar kemudian dicocol dengan gula merah. Dalam perkembangannya colenak bahkan bisa dipadukan dengan aneka buah seperti durian. Rasanya tentu saja semakin menggugah selera.

2. Peuyeum

Peyeum atau tapai merupakan hasil fementasi dari singkong sehingga memiliki cita rasa manis dengan tekstur yang lembut. Jika berkunjung ke Bandung, kamu bisa memilih peyeum yang belum matang sehingga masih bisa awet untuk buah tangan bagi keluarga di kampung halaman. Selain dari Jawa Barat, tapai yang terkenal enak juga berasal dari Bondowoso, Jawa Timur.

Kini, kuliner ini jadi bahan baku kuliner kekinian seperti cake tapai keju, bolu tapai keju hingga shcotel peyeum.

3. Surabi

Boleh jadi inilah salah satu makanan khas Bandung yang paling adaptif dengan zaman. Surabi awalnya hanya dijual oleh nenek-nenek dipinggir jalan dengan tungku arang. Kini malah sudah dijajakan di kafe-kafe dengan tampilan dan berbagai varian rasa yang beragam.

Selengkapnya bisa kamu baca di sini.

(ul)

 

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6