12 Tahun Tsunami, Kisah Pagi Mencekam di Banda Aceh

Oleh Angga Utomo pada 26 Des 2016, 20:00 WIB
Diperbarui 26 Des 2016, 20:00 WIB
Campus CJ

Liputan6.com, Jakarta Peristiwa ini sudah berlalu 12 tahun lalu, namun bayangannya tidak mungkin bisa hilang begitu saja dari ingatan. Tragedi terbesar abad 21 yang telah menewaskan 230.000 orang di 14 negara di dunia ini masih begitu membekas di ingatan Heri Suhendra, salah seorang Sahabat Liputan 6 yang saat ini bekerja dan tinggal di kota Bogor. Fakta bahwa Indonesia berada di wilayah rawan bencana sudah sering ia di dengar melalui pelajaran di sekolah maupun di media,namun ia tidak pernah membayangkan bahwa pada hari Minggu, 26 Desember 2004 ia harus merasakan gempa bumi maha dahsyat selama 10 menit dengan kekuatan setara 2 juta bom atom yang berujung pada terjadinya gelombang tsunami.

Pagi hari yang biasanya ramai oleh masyarakat berolah raga maupun berbelanja di pasar, berubah menjadi kepanikan massal tak kala bencana maha dahsyat ini terjadi. Mayoritas masyarakat disaat itu tidak mengenal tsunami dan mitigasi bencana apabila hal ini terjadi sehingga bisa dibayangkan, ribuan manusia panic berusaha menyelamatkan diri masing-masing.

Kota Banda Aceh yang rata dengan tanah hingga suasana mencekam usai gelombang tsunami melanda, dimana listrik dan semua alat komunikasi tidak berfungsi, isak tangis dan jerit histeris warga yang mencari sanak saudara adalah sebuah pengalaman yang mengguncang jiwa. Saat peristiwa ini terjadi, ia masih duduk di bangku kelas 3 SMP di Gampong Geuceu Garot, Keutapang Dua, Kabupaten Aceh Besar. Walau sempat merasa telah kehilangan sang ayah tercinta, akhirnya ia berjumpa kembali dengan sang ayah yang berhasil menyelamatkan diri ke gunung.

“Tempat bapak kerja di sebelah laut, karena ia bekerja di pabrik semen yang punya pelabuhan sendiri dan saat detik-detik sebelum terjadinya Tsunami ia melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana air laut yang tiba-tiba menyusut dan banyak ikan yang menggelepar karena laut mendadak kering. Tidak lama kemudian, ia melihat tembok raksasa warna putih  dari arah laut yang terus bergerak kea rah daratan dan rupanya itulah gelombang tsunami. Secepat kilat, para pekerja berhamburan menyelamatkan diri, termasuk bapak menggunakan motor trail bersama temannya dan memacu motor kearah gunung di tengah suasana kota yang chaos dan penuh kepanikan” tutur Heri kepada Liputan6.com. Selengkapnya baca artikel ini disini.

 

Penulis :

Hery Suhendra

Sahabat Liputan6.com

Jadilah bagian dari Komunitas Sahabat Liputan6.com dengan berbagi informasi & berita terkini melalui e-mail: SahabatLiputan6@gmail.com serta follow official Instagram @SahabatLiputan6 untuk update informasi kegiatan-kegiatan offline kami.