Filosofi Kue-Kue Lebaran di Betawi

Oleh Fadjriah Nurdiarsih pada 30 Jun 2016, 17:26 WIB

Diperbarui 02 Jul 2016, 07:15 WIB

Kue-Kue Betawi

Liputan6.com, Jakarta Lebaran di Betawi, alangkah meriahnya. Ini adalah salah satu dari dua hari raya yang dilaksanakan dengan megah dan besar-besaran. Banyak persiapan yang dilakukan orang Betawi untuk menyambut hari raya kemenangan yang suci ini.

Mulai dari mengecat rumah, mencuci gorden, membersihkan segala perabot dan perkakas, hingga membeli baju baru. Semuanya merupakan simbol dari persiapan batin untuk menyambut luruhnya dosa-dosa yang lampau dan kembali kepada yang fitri.

Yang menarik dicermati adalah kue-kue lebaran yang terhidang di meja orang Betawi. Meja Nyai, namanya. Nyai, sebagaimana diketahui, adalah sebutan untuk ibu dalam bahasa Betawi.  

Berdasarkan sejarahnya, Meja Nyai adalah tempat menyajikan makanan, biasanya diisi sejumlah makanan khas Betawi saat lebaran. Sajian itu ditujukan untuk sanak famili, tetangga, dan semua orang yang datang bersilaturahmi. Makanan itu disajikan dalam toples-toples kaca dan tak dikeluarmasukkan, sehingga para tamu yang datang langsung bisa mencicipinya.

Nah, yang unik adalah kue-kue yang tersaji di atas Meja Nyai ini. Benar-benar mencerminkan pluralitas seperti yang menjadi identitas dan penanda kaum Betawi—yakni sebuah suku baru yang terbentuk dari percampuran suku bangsa di Batavia berabad-abad yang lampau.

Menariknya, Suku Betawi yang seringkali diasosiasikan dekat dengan Islam ternyata tak menyerap banyak pengaruh Islam dalam kue lebaran. Sangat sedikit kuliner lebaran di Betawi yang terpengaruh oleh negeri-negeri di Timur Tengah. Malah jika dicermati, lebih banyak terlihat pengaruh Tionghoa dan Belanda.

Contohnya adalah nastar dan kastengel. Kedua penganan ini jelas-jelas merupakan pengaruh Negeri Kincir Angin. Wikipedia menyebut asal kata nastar adalah ananas tart. Ananas memiliki arti ‘nanas’ dan tart berarti ‘kue tar’. Digabungkan menjadi ananastart—yang kemudian oleh lidah kita disebut sebagai nastar. Sementara kastengel berasal dari kata bahasa Belanda kaas yang berarti ‘keju’ dan stengels yang berarti ‘batangan’.  Oleh karena itu disebut kaastengels atau batangan keju.

Bila ditelusuri sejarah kuliner Indonesia, sangat mungkin resep kue nastar dan kastengel dibawa oleh nyonya-nyonya Belanda di zaman pemerintahan Hindia Belanda.

Contoh lain keanekaragaman itu adalah adanya unsur pra-Islam dalam hidangan orang Betawi ketika lebaran. Misalnya adalah adanya ketupat dan tradisi potong sapi atau kerbau—biasanya disebut andilan—yang mengikuti kebiasaan kaum agraris umat Hindu. Tentu dalam prasasti-prasasti kita telah membaca berita tentang Raja Purnawarman yang menyembelih ribuan sapi untuk para dewa setelah selesainya pembangunan saluran irigasi.

Adapun pengaruh Tionghoa tercermin dari adanya kue kerancang dan dodol Cina dalam hantaran orang Betawi. Ada pula manisan macam-macam, seperti manisan buah pala atau manisan kolang-kaling. Rasa manis dalam hidangan ini diibaratkan seperti masa depan yang diharapkan akan manis juga. Dan, jangan lupakan pula kebiasaan anak-anak Betawi bermain petasan jedar-jeder di malam takbiran.

Demikianlah Lebaran di Betawi yang notabene bagian dari perayaan umat muslim, namun sajian makanannya justru mencerminkan keanekaragaman yang bukan dominan Islam. Selamat berlebaran!

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini.

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6.