Lolos, Napi Ini Ceritakan Kejamnya Penjara Korea Utara

Oleh Azwar Anas pada 07 Apr 2016, 11:02 WIB
Diperbarui 07 Apr 2016, 11:02 WIB
Lolos, Napi Ini Ceritakan Kejamnya Penjara Korea Utara
Perbesar
Setelah 1 dekade, Chol Hwan berhasil lolos dari kamp paling mengerikan di Korea Utara itu.

Citizen6 Jakarta - Kang Chol Hwan telah menjalani hidup selama lebih dari 10 tahun di Kamp Yodok, salah penjara Korea Utara. Ia ditahan setelah mendiang kakeknya dituduh mengkhianati pemerintahan Kim di tahun 1980. Korea Utara mempunyai banyak kamp yang dikhususkan untuk warga dengan kejahatan tertentu. Kamp Yodok khusus diisi oleh orang-orang yang dituduh mengkhianati negara. 

Setelah 1 dekade, Chol Hwan berhasil lolos dari kamp paling mengerikan di Korea Utara itu. Chol Hwan sempat merekam bagaimana aktivitas tahanan-tahanan lain dan betapa mengerikannya tumbuh di kamp tersebut. "Kami bangun jam 5 pagi dan dipaksa bekerja sampai matahari terbenam," kata Chol Hwan, dilansir dari Reddit, Rabu (6/4/2016).

Chol Hwan juga diketahui membawa USB yang berisi data dan rekaman film dokumenter tentang kehidupan orang-orang di sana. "Tak jarang kita dipaksa menonton orang yang disiksa lalu dihukum mati," ujarnya.

Ia mengaku berhasil meloloskan diri karena bantuan dari Pemerintah Korea Selatan. Ia merasa tidak tahan dengan kehidupan yang ia rasakan di sana. "Semuanya serba dikekang. Ketika Anda merencanakan akan liburan ke mana, maka di sana Anda akan serba diawasi," ujarnya.

Bahkan Chol Hwan menyebut seandainya, negara-negara perbatasan mau membuka akses untuk setiap orang yang berada di kamp, tidak menutup kemungkinan akan terjadi pembelotan massal. Oleh karena itu, Chol Hwan berharap pemerintah di negara-negara lain di seluruh dunia bisa membantu 'membebaskan' tahanan di kamp-kamp Korea Utara.

Sebagai pemimpin diktator saat ini, Kim Jong-un sengaja memberikan hukuman yang berat untuk warganya yang membelot. Kim juga getol menutup segala macam informasi dari luar agar warganya tidak terpengaruh. "Harapan cerah di Korea Utara di masa depan tergantung pada, apakah Kim Jong-un masih hidup atau tidak," katanya.

Selama melarikan diri, ia tinggal di Korea Selatan. Sementara keluarga Chol Hwan yang berhasil meloloskan diri sebelum ditangkap, diketahui tinggal di Jepang. Dalam masa itu lah Chol Hwan membandingkan betapa beda kehidupan di Korea Utara dan Korea Selatan.

Chol Hwan mencontohkan tentang perlakuan terhadap perempuan. Di Korea Utara, khususnya di kamp, perempuan diperlakukan amat kasar. Sementara di Korea Selatan, perempuan begitu dihormati bahkan mendapat hak yang sejajar dengan laki-laki. "Di sini (Korea Selatan) saya melihat wanita merokok, yang itu tak bisa dibayangkan terjadi di Utara.

Kendati demikian, Chol Hwan percaya rezim Kim Jong-un tidak akan bertahan selama lima tahun ke depan. Sehingga Korea Utara akan mempunyai harapan yang bagus di masa depan.

(war)