Bung Hatta, Teladan Seorang Negarawan Sejati

Oleh Rina Nurjanah pada 22 Agu 2015, 14:02 WIB
Diperbarui 22 Agu 2015, 14:02 WIB
Kisah Bung Hatta dan Kucing-kucing `Diktatornya`
Perbesar
Banyak yang menyukai kucing, termasuk salah satu bapak proklamator Indonesia. Seperti apa kisahnya?

Citizen6, Jakarta Siapa tidak mengenal dan salut pada ketokohan Bung Hatta. Bahkan Iwan Fals pun menyuguhkan sebuah lagu untuk sang proklamator tercinta yang jujur, lugu lagi bijaksana. Nampaknya, mengagumi sosok Bung Hatta tidaklah cukup dengan kondisi seperti ini. Kita membutuhkan lebih dari sekedar mengagumi dan menyanyikan lagunya, yaitu meneladani kebijaksanaannya. 

Lahir dengan nama Muhammad Athar di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902, kecintaan Bung Hatta pada tanah air bahkan dibuktikan dengan janjinya untuk tidak menikah selama Indonesia belum merdeka. Sosok yang pertama kali mengenalkan nama 'Indonesia' yang bercita-cita menjadi sebuah negara-bangsa ini kemudian menjadi Wakil Presiden 1 Indonesia, menemani Soekarno menjadi Dwitunggal.

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetaplah hidup sederhana. Dia menolak segala rupa jenis dana taktis, tunjangan dan sebagainya. Bagi Bung Hatta, menjadi pria terhormat tidak harus menjadi kaya raya dan dia menolak semua dana yang tidak bisa dia pertanggungjawabkan pada rakyat. Bandingkan dengan para pejabat sekarang yang mengeluh jika gaji dan tunjangan tidak naik, yang bahkan untuk membeli pulsa pun menggunakan uang negara dengan adanya tunjangan komunikasi.

Pasca pengunduran dirinya sebagai seorang wakil presiden karena perbedaan pandangan dengan Bung Karno, Hatta bukan tidak mampu untuk mencari posisi dan jabatan lain. Dirinya ditawari beragam jabatan komisaris baik di perusahaan nasional ataupun perusahaan asing. Namun semuanya ditolak, karena jabatan tersebut membuat dirinya menerima gaji buta tanpa harus bekerja.

Ketika ingin naik haji pun, Hatta tidak mau menggunakan fasilitas negara. Bagi dirinya, dia ingin naik haji sebagai seorang Hatta bukan sebagai wakil presiden. Dia harus menabung untuk berangkat pergi haji bersama istrinya dari hasil honorarium penjualan bukunya. Bandingkan dengan pejabat kini yang aji mumpung "memanfaatkan" fasilitas negara untuk hidup bermewah-mewah. Teladan sejati dari Bung Hatta bahwa seorang negarawan terhormat tak perlu hidup bermewah-mewah. (rn)