Kisah Ironis, Seorang Dokter Pembantai Hewan Langka

Oleh Sulung Lahitani pada 29 Jul 2015, 14:49 WIB
Diperbarui 29 Jul 2015, 14:49 WIB
Akhir Kisah Dokter Algojo Hewan Dilindungi
Perbesar
Seorang dokter biasanya identik menyelamatkan nyawa. Namun dokter ini malah suka membunuh hewan-hewan yang dilindungi

Citizen6, Jakarta Penyebaran dan pertumbuhan populasi hewan langka di Indonesia banyak mengalami penurunan. Selain faktor lingkungan, penyebab berkurangnya jumlah hewan langka yang hidup bebas di alam adalah fator manusia sendiri. Eksploitasi besar-besaran, perburuan liar, bahkan perdagangan ilegal, membuat jumlah hewan yang dilindungi semakin menurun.

Tak hanya di Indonesia, ternyata permasalahan tersebut juga terjadi di belahan bumi lain. Baru-baru ini, Taman Nasional Hwange di Zimbabwe, Afrika, dikejutkan dengan penemuan bangkai seekor singa yang telah dipenggal dan dikuliti. Diketahui, bangkai singa tersebut merupakan tubuh Cecil, singa jantan berusia 13 tahun yang amat dicintai di taman nasional tersebut.

Dari hasil penyelidikan, ditemukan bahwa Cecil dipancing keluar dari taman dengan menggunakan umpan baru ditembak dengan panah. Kontan, kematian Cecil membuat berang banyak orang. Terlebih Cecil merupakan singa yang dilindungi.

Penyelidikan dilakukan secara cepat. Sang pemburu pun diketemukan. Seorang dokter gigi berkebangsaan Amerika bernama Walter Palmer diidentifikasi sebagai algojo di balik terbunuhnya Cecil.

Segera, setelah nama Palmer disebut bertanggung jawab atas kematian Cecil oleh The Telegraph, Selasa (28/07/2015), nama Palmer langsung menjadi nama yang paling dicari di Twitter dan Google.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Dihujat Netizen

Pemburu singa
Perbesar
Telegraph

Tak hanya dicari oleh netizen, polisi Zimbabwe pun tengah mencari keberadaan Walter Palmer yang telah membunuh Cecil. "Ini bukan hanya karena ia singa yang dicintai, tapi juga karena ia hewan yang dilindungi," ujar pihak kepolisian Zimbabwe.

Berbagai kritik dan hujatan mengalir deras pada Palmer atas kelakuannya membunuh hewan yang dilindungi. Terlebih, Cecil bukanlah hewan langka pertama yang dibunuh oleh Palmer. Netizen pun berbagi foto-foto Palmer yang tampak bangga membunuh rusa, badak, macan tutul, bahkan domba yang terancam punah Nevada Bighorn.

Tak hanya akun pribadi Palmer, tempat praktek Palmer, River Bluff Dental, pun tak lolos dari hujatan netizen. Komentar-komentar bernada satir netizen membandingkan Palmer sebagai dokter gigi yang membuat senyum seseorang menjadi indah, dengan hobinya membunuh hewan dilindungi yang kejam. Kini, tempat praktek tersebut tampak sepi. 

Dalam pembelannya, Palmer mengaku tidak tahu menahu bahwa singa yang ia bunuh adalah singa yang dicintai oleh banyak orang. Menurutnya, ia tidak melakukan hal yang salah. Ia mengikuti perburuan tersebut pun setelah membayar US$50.000 pada pihak yang menyelenggarakan perburuan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Petisi Menuntut Keadilan

Pemburu singa 2
Perbesar
Telegraph

Bagaimanapun, pembelaan Palmer tidak berarti apa-apa bagi orang-orang yang mendukung pelestarian hewan yang dilindungi. Beberapa orang bahkan telah membuat petisi menyerukan keadilan akan kematian Cecil. Petisi tersebut telah ditandatangani oleh lebih dari 12.000 orang.

Kabar terbaru menyebutkan, para pemburu yang terlibat dengan kematian Cecil dapat menghadapi tuduhan kriminal. Setidaknya, satu kepastian telah didapatkan. Habiskan waktumu di penjara, Palmer. (sul)

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin Dapat Ponsel Gratis ikuti #LebaranNarsis di sini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya