Kegalauan Bung Tomo Antara Pernikahan dan Revolusi

Oleh Rina Nurjanah pada 07 Feb 2015, 17:10 WIB
Diperbarui 07 Feb 2015, 17:10 WIB
Pernikahan Bung Tomo
Perbesar
Pernikahan Bung Tomo dan Sulistina di Masa Revolusi

Citizen6, Jakarta Siapa yang tidak kenal Bung Tomo, pahlawan bernama asli Sutomo ini mampu membangkitkan semangat perjuangan rakyat di Surabaya kala itu untuk melawan Belanda. Hari bersejarah yang kemudian kita peringati sebagai Hari Pahlawan, 10 November 1945. Bung Tomo yang sempat bersekolah di HBS itu menjadi pemimpin bagi rakyat Surabaya dan juga terbilang sebagai jurnalis yang sukses dimasanya.

Perjuangan dan revolusi Indonesia ketika itu seolah menuntut totalitas dari para pejuang. Hingga tiba kegalauan Bung Tomo saat dia hendak menikah di masa-masa revolusi tersebut. Muncul pro dan kontra di kalangan para pejuang yang menilai Bung Tomo tidak konsekuen dengan janjinya untuk tidak menkah sebelum revolusi selesai.

Demi menikahi Sulistina, Bung Tomo meminta izin dan persetujuan dari kelompok yang dipimpinnya kala itu, Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). Dalam Bung Tomo Suamiku, Sulistina menyebutkan, “Kami dapat menerima kekecewaan ini tetapi tak dapat menjelaskan secara pribadi apa yang menjadi dasar pertimbangan pernikahan kami”. Bung Tomo menyetujui perjanjian dengan BPRI yang menyebutkan bahwa pernikahannya akan memperhebat perjuangan rakyat untuk revolusi dan tidak menjalankan hak serta kewajibannya sebagai suami istri sebelum kedaulatan negara dan rakyat diperoleh.

Bung Tomo menikahi Sulistina pada tanggal 19 Juni 1947 dan mengajak Sulistina untuk berpuasa selama 40 hari. Konon bila pemimpin pasukan atau negara menikah di masa perang, pantang untuk melakukan hubungan suami istri selama 40 hari. Karena jika dilanggar akan ada medan perang yang bisa dikuasai lawan. Bung Tomo dan Sulistina pun menjalankan puasa selama 40 hari. (sumber: Historia)

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini