Literasi Digital Jadi Komponen Penting dalam Merdeka Belajar

Oleh Liputan6.com pada 04 Okt 2022, 21:30 WIB
Diperbarui 04 Okt 2022, 21:30 WIB
Bebas Polusi dan Ramah Lingkungan Jadi Konsep Gedung Sekolah di Jakarta
Perbesar
Siswa mengikuti kegiatan belajar di salah satu ruang kelas SDN Ragunan 08 yang termasuk sekolah berkonsep net zero carbon di Jakarta, Kamis (29/9/2022). (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Literasi digital di taraf siswa  bisa sangat membantu memajukan program kurikulum Merdeka Belajar. Hal ini diungkap akademisi dari Politeknik Negeri Batam, Kepulauan Riau, Uuf Brawidagda.

Menurut Uuf, literasi digital adalah salah satu kompenen penting di dalam penerapan kurikulum Merdeka Belajar di Indonesia.

“Karena siswa akan lebih cepat mengakses sumber-sumber yang diinginkan. Kalau tingkat literasi digitalnya tinggi, dampaknya akan lebih besar dan prosesnya lebih cepat. Literasi digital salah satu komponen penting dalam Merdeka Belajar,” ujar Uuf kepada Antaranews di Batam, Senin (3/10).

Tetapi menurutnya tidak semua aspek pembelajaran ini bisa diterima oleh sektor digitalisasi, seperti dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis maupun bekerja dalam tim. Ia menambahkan, pihak sekolah harus melakukan penggeseran di proses pembelajaran dengan penerapan kurikulum Merdeka Belajar.

“Masih ada aspek-aspek yang tidak bisa disentuh digitalisasi seperti emosi, cinta, rasa, dan kemampuan berpikir kritis. Hal itu tidak bisa melalui digital atau tersedia di sektor digital. Meski digital memang jago dalam merambah ke berbagai hal, tetapi dititik kelemahan itulah yang mesti kita isi,” ujarnya.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Asah Kemampuan yang Tak Terjangkau Digitalisasi

Uuf mengatakan, dengan hal ini bisa menjadi peluang bagi para pengajar untuk menyediakan ruang atau wadah kepada sang murid untuk lebih mengasah kemampuan yang tidak terjangkau oleh digitalisasi.

“Pendidikan mesti shifting untuk melakukan inovasi terbaru. Belajar untuk berpikir kritis,kerja tim itu tidak ada dalam teorinya, tetapu bisa diasah dengan caranya megasah itu dengan dilakukan, itu yang saat ini sedang kami lakukan, lebih mengasah soft skill siswa,” kata Uuf sebagai penutup.

 

Hinggis Leonanda/Universitas Multimedia Nusantara

 


Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya