Pola Pikir Kritis Bisa Tangkal Kejahatan di Ruang Digital

Oleh Liputan6.com pada 14 Jul 2022, 20:30 WIB
Diperbarui 14 Jul 2022, 20:30 WIB
Ilustrasi Internet, Digital, Gaya Hidu Digital
Perbesar
Ilustrasi Internet, Digital, Gaya Hidu Digital. Kredit: Nattanan Kanchanaprat via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Ruang digital tidak menjamin keamanan secara digital, justru berpotensi menimbulkan kejahatan. Maka dari itu, pola pikir kritis penting untuk dimiliki masyarakat dalam beraktivitas di ruang digital.

Dilansir dari Antara, masifnya penggunaan internet juga diikuti dengan masifnya praktik penipuan di dunia digital. Salah satunya adalah penipuan yang berbasis aplikasi digital yang menawarkan kemudahan bertransaksi dan berkomunikasi dengan berbagai masyarakat.

Maka dari itu, selain pola pikir kritis, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan guna mencegah penipuan-penipuan yang dapat terjadi di ruang digital.

Head of Creative Visual Brand Hello Monday Morning-UMKM Investor, Andry Hamida, pada Webinar "Makin Cakap Digital 2022", turut mengajak masyarakat untuk memikirkan dampak negatif digitalisasi sebelum tergiur dengan berbagai penawaran yang ada di dunia digital. Dengan selalu bersikap dan berpikir kritis serta tidak mudah memakai perasaan saja, tetapi juga menggunakan otak.

Semakin teknologi digital diadopsi, masyarakat pun semakin merasa nyaman dan percaya ketika melakukan transaksi atau aktivitas lain yang berkaitan dengan keuangan digital yang berisiko tinggi. Melihat tren ini, tentu akan ada oknum-oknum yang memanfaatkan digitalisasi untuk menipu dan mencuri akun.

Pemberian data pribadi konsumen di suatu aplikasi, mendorong pencuri akun untuk dapat lebih leluasa mengoleksi data calon incarannya. Mereka mampu memperoleh data pribadi target yang dapat digunakan untuk menipu, mencuri, atau bahkan memanfaatkan untuk kebutuhan lain.

Maka, Andry juga menegaskan agar masyarakat tidak mudah membagikan data pribadi di ranah digital, terutama media sosial dan aplikasi ilegal.

"Kita harus lihat dulu, aplikasi belanja daring tersebut apa? Aman atau legal tidak? Kalau legal,mereka sudah ada hukumnya sehingga dijamin data tersebut aman. Kalau bocor pun mereka akanbertanggung jawab," ungkap Andry.

Sementara, Digital Marketer, Lim Sau Liang, mengatakan bahwa setiap orang yang cakap digital di Indonesia cenderung akan memanfaatkannya untuk hal-hal produktif. Seperti misalnya, memanfaatkan media sosial untuk menjual produk/jasa.

Terutama, di masa pandemi ini, pemanfaatan teknologi digital kian masif. Namun, meski angka tersebut terbilang besar, Survei Literasi Digital di Indonesia pada tahun 2021, indeks atau skor literasi digital di Indonesia berada di angka 3,49 dari 5. Angka ini mengindikasikan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori sedang.

 

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Gerakan Nasional Literasi Digital

Kondisi ini juga yang membuat Kementerian Komunikasi dan Informatika kian gencar melaksanakan program Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi dan kolaborasi, hingga mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital. Dengan target memberi literasi digital 50 juta warga Indonesia

Program ini memiliki empat pilar dasar literasi digital, yaitu kemampuan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Upaya-upaya tersebut diharapkan mampu mendorong masyarakat lebih melek digital. Namun, tentu saja tetap mengutamakan berpikir kritis untuk mengantisipasi dampak negatif yang timbul dari digitalisasi.

Peningkatan literasi digital ini bukan hanya menjadi perhatian pemerintah saja, tetapi juga perlu adanya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Penulis: Viona PricillaSumber: https://www.antaranews.com/berita/2977153/pentingnya-berpikir-kritis-untuk-hindari-penipuan-digital


Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya