Waspada, 5 Taktik Yang Kerap Digunakan Penyebar Hoaks Agar Orang Tak Mau Divaksinasi

Oleh Adyaksa VidiLiputan6.com pada 28 Okt 2021, 07:00 WIB
Diperbarui 28 Okt 2021, 13:43 WIB
ilustrasi Hoax{Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
ilustrasi Hoaks (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah pelaksanaan program vaksinasi covid-19 dan pemulihan pandemi dilangsungkan, sebagian masyarakat masih ada yang takut dan tidak mau untuk divaksin. Beberapa dari mereka justru percaya terhadap informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Dilansir dari ADN ada lima taktik penyebar misinformasi yang biasanya digunakan mengecoh warganet melalui hoaks yang disebar di media sosial. Berikut penjelasannya:

1. Mendorong masyarakat yang skeptis terhadap informasi resmi Pemerintah

Baker, salah satu penulis “Lifestyle Gurus” mengungkap kini telah hadir fenomena komunitas kesehatan online yang menjadi terkenal di tengah krisis kepercayaan terhadap otoritas resmi, seperti Pemerintah, lembaga kesehatan dan sains, dan media arus utama.

Penyebar misinformasi biasanya menghadirkan forum keraguan informasi Pemerintah yang dihubungkan dengan pihak lain penganut kesehatan tradisional. Keraguan ini biasanya mencakup kesehatan dan keselamatan atau pengalaman buruk terkait sistem perawatan kesehatan.

2. Menyebutkan diri mereka sebagai pencari kebenaran atau truth seeker

Tak hanya masyarakat awam saja, banyak petugas medis kesehatan berlomba-lomba menjadi peneliti dan menghadirkan spekulasi baru yang belum terverifikasi kebenarannya dan disebarkan melalui media sosial.

Para ahli, dilansir ADN mengatakan penting untuk mengenali apakah ada motif bisnis terselubung yang disebarkan dari alasan mereka menyebarkan informasi palsu ini. Terdapat beberapa influencer berakhir mempromosikan dan menjual terapi alternatif, contoh tincture herbal dan minyak esensial, yang belum terbukti ampuh mengobati dan menangani covid-19 dibanding vaksin dan obat-obatan yang disetujui oleh FDA.

"Ada banyak konten yang mengarah ke 'Anda tidak boleh menggunakan vaksin ini. Sebaliknya, Anda harus membeli colloidal silver saya. Sebaliknya Anda harus membeli minyak esensial saya," ujar Renee DiResta seorang manajer penelitian di Stanford Internet Observatory yang mempelajari penyebaran narasi jahat di jejaring sosial.

 

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Selanjutnya

CEK FAKTA Liputan6
Perbesar
CEK FAKTA Liputan6 (Liputan6.com/Abdillah)

3.  Menghubungkan teori yang disebarkan dengan sains meski berada di luar konteks

"Lakukan penelitian Anda sendiri" adalah pengulangan umum di ruang anti-vaksinasi, ujar Renee Diresta, Manajer Peneliti di Stanford Internet Observatory.

Taktik lain yang biasanya mereka gunakan adalah menghadirkan Sistem Pelaporan Kejadian Buruk Vaksin, atau dikenal dengan VAERS. Sistem tersebut menghadirkan bukti kematian dan cedera yang meluas akibat vaksin. Namun golongan antivaksin kerap mengabaikan keterbatasan data yang diakui secara luas.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan, yang mensponsori database bersama CDC dan FDA, menjelaskan laporan saja tidak dapat digunakan untuk menentukan apakah vaksin menyebabkan atau berkontribusi pada kejadian yang merugikan.

4.  Menghadirkan pengobatan atau penanganan alternatif seputar kesehatan

Masyarakat yang tertarik terhadap pengobatan alami dan kesehatan alternatif rentan menjadi salah satu alasan mudah terjebak misinformasi.

"Konten ini 'dipercantik' untuk Instagram dan sering ditulis dalam bahasa pilihan pribadi dan realisasi diri yang cukup ambigu yang merupakan ciri khas komunitas ini," ujar Cecile Simmons, dari Institute for Strategic Dialogue.

ADN menambahkan, konten anti-vaksin yang ditampilkan cenderung menekankan penguatan sistem kekebalan menggunakan makanan alami dan kebugaran, daripada mengandalkan intervensi buatan manusia.

5.  Membangun komunitas

Kini penyebar misinformasi juga menggunakan grup kesehatan online yang terlihat ramah, bukti yang disebarkan terlihat sangat meyakinkan, dan intim antar sesama anggota. Berbeda dengan informasi resmi yang disampaikan oleh sebuah institusi kesehatan yang memberikan informasi satu arah dan berdasarkan fakta.

Anggota kelompok biasanya berbagi cerita pribadi yang sering berhubungan dan menarik. Tak lupa membangun komunikasi secara intim agar dianggap sebagai informasi asli dan benar melalui  interaksi online dengan seseorang yang sebenarnya tidak anda kenal.

Melalui permasalahan ini, Cécile Simmons, seorang peneliti di Institute for Strategic Dialogue berharap agar masyarakat dapat saling membantu pengguna media sosial mengembangkan literasi sebagai bentuk pertahanan terhadap konten berbahaya dan mengajarkan mereka teknik pelaporan jenis konten ini ke platform.

(Penulis: Azarine Jovita Halim)

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi partner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya