Pemerintah Afrika Selatan Didorong Cegah Penyebaran Hoaks Vaksin Covid-19

Oleh Hanz Jimenez Salim pada 20 Okt 2021, 07:00 WIB
Diperbarui 20 Okt 2021, 07:00 WIB
Ilustrasi penyuntikan vaksin Covid-19 (Liputan6.com / Abdillah)
Perbesar
Ilustrasi penyuntikan vaksin Covid-19 (Liputan6.com / Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Afrika Selatan diminta mengambil langkah mencegah penyebaran misinformasi dan hoaks terkait vaksin Covid-19. Sebab, banyak warga di negara yang enggan divaksin diduga karena terpapar hoaks.

Perdana Menteri KwaZulu-Natal Sihle Zikalala mengungkapkan, hingga kini baru 29 persen orang yang sudah divaksin. Padahal, pemerintah menargetkan vaksinasi terhadap 7,2 juta orang untuk mencapai kekebalan kelompok pada akhir Desember 2021.

Zikala menduga, salah satu penyebab warga enggan divaksin karena terpengaruh hoaks. Ia pun menyayangkan banyaknya hoaks dan misinformasi terkait vaksin Covid-19.

Eksekutif Senior Perdagangan Strategis di Aspen Pharmacare, dr Stavros Nicolaou mengatakan, pemerintah harus mengambil sikap tegas untuk menangani masalah tersebut.

"Vaksin menyebabkan lebih sedikit replikasi virus Covid-19. Kita harus mengeksplorasi penegakan perubahan perilaku, mirip dengan larangan merokok.," ujarnya dikutip dari iol.co.za, Senin (18/10/2021).

Nicolaou menambahkan, masalah lain yang dihadapi yakni meningkatnya jumlah pengangguran akibat 18 bulan pandemi Covid-19 dan kebijakan penguncian wilayah atau lockdown.

"Ekonomi kita tidak bisa menahan tekanan dan sesuatu yang lebih drastis perlu dilakukan. Sektor swasta telah mendukung program vaksin publik dan tidak dapat kehilangan momentum itu," kata Nicolaou.

Ketua Unity of Forum of Family Practitioners dan mantan Ketua Medical Association Afrika Selatan, Dr Norman Mabasa, setuju dengan pendapat Nicolau. Ia menilai, perlu tindakan persuasif untuk membujuk mereka yang menolak divaksin Covid-19.

"Kami tidak ingin Afrika Selatan masuk ke gelombang keempat dan lockdown yang ketat. Begitu juga dengan sistem kesehatan. Orang ingin dapat melakukan perjalanan ke negara lain," ucap Mambasa.

 

Penulis: Geiska Vatikan Isdy

 

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya