Mitos Kesehatan Sepekan: Ramuan Herbal Penyembuh Covid-19 hingga Cuci Hidung Cegah Corona

Oleh Hanz Jimenez Salim pada 20 Sep 2021, 19:00 WIB
Diperbarui 20 Sep 2021, 19:00 WIB
Ilustrasi Cek Fakta kesehatan
Perbesar
Ilustrasi Cek Fakta

Liputan6.com, Jakarta - Informasi hoaks terus bermunculan di media sosial, tidak terkecuali hoaks dan mitos kesehatan yang dapat mempengaruhi masyarakat. Satu di antaranya informasi tentang ramuan herbal untuk menyembuhkan virus corona Covid-19.

Informasi ini juga mengklaim bahwa resep herbal tersebut bisa dikonsumsi untuk yang sedang mengalami Covid-19. Berikut adalah narasi yang tersebar:

Resep herbal untuk kesehatan paru2 dan otak

- 1 biji jeruk purut sedang

- 2 nbiji jeruk nipis sedang

- Garam 1 sdt

- Madu 100 ml

- Classic enzyme 1 tutup botol

- Air minum 10 literatau cukup campurkan 1 liter air, tapi sewaktu mau diminum diencerkan lagi 1:10 dengan air minum.

Campurkan semua bahan termasuk kulit jeruk nya ( jeruknya di potong dan peras airnya) masukin jadi satu dan diamkan 10 menit kemudian baru diminum, kalo gak habis bisa simpan di kulkas utk minum besok nya lagi.

Awalnya sy gak ngeh kenapa asisten Dr Rosukon membagikan resep ke sy saat isoman ini utk menjaga melindungi kesehatan paru2 dan otak dan apa kaitan nya dengan otak? Selama ini sy Taunya kena covid-19 itu hanya masalah di pernafasan. Nah setelah sy renungkan dan banyak teman2 yg sesudah selesai isoman mengatakan agak pelupa atau pikun, sy baru mulai paham.

Dan setelah sy ikuti YouTube tentang penjelasan para dokter yg mengatakan bahwa virus Corona tidak hanya menyerah pernafasan dan saraf penciuman kita, tapi juga menginfeksi sistem saraf dan otak. Dari sini sy baru paham Mari jaga kesehatan paru2 dan otak kita dimasa pandemic ini.

-Jokoryanto EEN.

Namun setelah ditelusuri, informasi terkait ramuan herbal untuk obat Covid-19 yang beredar di aplikasi pesan WhatsApp adalah salah. Faktanya, hingga saat ini belum ada satupun herbal yang teruji secara klinis untuk penyembuhan Covid-19.

Selain informasi terkait ramuan herbal untuk obat Covid-19, terdapat mitos kesehatan lain yang telah ditelusuri. Berikut rangkumannya.

 

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kemenkes Tak Lagi Tanggung Biaya Pasien Covid-19

Cek Fakta biaya pasien covid-19 tak ditanggung Kemenkes.
Perbesar
Cek Fakta biaya pasien covid-19 tak ditanggung Kemenkes.

Beredar di media sosial dan aplikasi percakapan postingan terkait Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang tidak menanggung biaya pasien covid-19. Postingan itu ramai dibagikan sejak tengah pekan kemarin.

Salah satu yang mengunggahnya ada di Facebook. Dalam postingan pada 16 September 2021 terdapat narasi sebagai berikut:

"Ingat mulai 1 Oktober pasien Covid tidak ditanggung Kemenkes lagi, BPJS hanya cover maksimal 18Juta.! Alternatif lain pake Asuransi sendiri. Jaga diri baik-baik,"

Selain itu akun tersebut juga menambahkan narasi "Sudah fix dan benar ya? #kemenkesri"

Setelah ditelusuri, postingan yang menyebut Kemenkes tak lagi menanggung biaya pasien covid-19 adalah hoaks.

Baca selengkapnya di tautan berikut ini.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Belum Terbukti Membersihkan Hidung dengan Air Garam Dapat Menghancurkan Covid-19

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri informasi membersihkan hidung dengan air garam dapat menghancurkan Covid-19 di tubuh
Perbesar
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri informasi membersihkan hidung dengan air garam dapat menghancurkan Covid-19 di tubuh

Cek Fakta Liputan6.com mendapati informasi membersihkan hidung dengan air garam dapat menghancurkan Covid-19 di tubuh. Informasi tersebut beredar lewat aplikasi percakapan WhatsApp.

Informasi tersebut menyebutkan, campuran garam krosok sebanyak satu sendok makan hingga menggunung dan air sebanyak 1 liter akan menghancurkan virus pada Covid-19.

Berikut isi dari klaim tersebut:

"Virus covid langsung hancur.. Sdh teruji...

Protokol Rakyat19 July 2021Oleh : Dahlan Iskan

CARA ahli virus ini tampil di YouTube sangat merakyat. Pun bahasanya, bahasa rakyat. Dicampur bahasa Jawa –ia alumnus SMAN 3 Semarang.

Sekilas ia bukan seperti ahli virus. Mirip orang desa pada umumnya. Duduknya santai, sambil merokok, dan hanya pakai kaus.

Tapi penjelasannya menarik. Ia mengistilahkan cara yang ditemukannya itu sebagai ''protokol rakyat''.

Menurutnya, rakyat berhak punya protokolnya sendiri.

Nama ahli virus itu, Anda sudah tahu: Indro Cahyono. Ia dokter hewan. Lulusan Universitas Gadjah Mada Jogja. Begitu banyak ahli virus yang latar belakangnya dokter hewan. Prof Dr Fedik Abdul Rantam, ketua Tim Vaksin Merah Putih Unair adalah juga dokter hewan. Prof Nidom ahli vaksin pendukung VakNus itu juga dokter hewan.

''Protokol Rakyat'' itu sederhana sekali. Juga murah sekali. Indro bisa mempertanggungjawabkan secara ilmiah.

''Protokol Rakyat'' itu didasari oleh penelitiannya sendiri pada virus Covid-19. Di sebuah lab di Bogor. Berbulan-bulan.

Memang cara drh Indro menyampaikan ''Protokol Rakyat'' itu seperti tidak ilmiah dan seperti bukan dari seorang ilmuwan.

Padahal ia seorang ilmuwan virus. Setelah jadi peneliti virus lebih 5 tahun, Indro ke University of Adelaide, Australia. Untuk memperdalam virology. Ia jadi student by research. Tidak harus kuliah. Ikut riset di sana. Bersama profesor-profesor virology di University of Adelaide.

Indro mempelajari gabungan molekular genetik dan sifat keganasan isolate virus dari paramyxovirus ,virus ND asal Indonesia

Peralatan ''Protokol Rakyat'' dari drh Indro itu sangat sederhana: sendok makan, botol plastik, baskom cuci baju, botol kecap atau botol cuka, dan corong kertas. Bahannya hanya dua macam: garam krosok dan air mineral.

Harga garam itu hanya Rp 3.000/kg. Harga air mineralnya Anda sudah tahu.

Jenis garam yang dipakai harus garam asli. Disebut garam krosok. Yang murah itu. Yang belum diolah di pabrik. Yang belum dicampur yodium.

Drh Indro menghindari bahasa ilmiah: NHCL. Rakyat tahunya ya garam krosok. Padahal maksudnya sama.

Caranya: garam satu sendok makan (sampai menggunung di sendok) dimasukkan ke dalam air 1 liter. Lalu dikocok sampai tercampur jadi air.

Air NHCL itu dimasukkan ke botol kecap atau botol cuka. Yang tutupnya berlubang kecil itu. Satu liter itu bisa dipakai beberapa kali.

Cara memakainya: duduklah di kursi. Anda pangku baskom besar untuk cuci baju. Atau baskom itu Anda taruh di meja di depan Anda. Lalu Anda ambil botol kecap yang sudah berisi NHCL tersebut. Tundukkan sedikit kepala. Miringkan ke kiri. Masukkan lubang tutup botol kecap itu ke lubang hidung kanan. Semprotkan NHCL ke dalam hidung –dengan cara memencet botolnya. Tiga atau lima kali. NHCL yang Anda semprotkan ke lubang kanan itu akan keluar di lubang kiri –jatuh ke baskom yang Anda pangku.

Lantas miringkan kepala ke kanan. Masukkan NHCL ke lubang hidung kiri. Air NHCL itu akan keluar dari lubang kanan, tumpah ke baskom.

Bisa juga tidak perlu pakai baskom. Anda bisa melakukan dengan cara duduk di kursi di dekat watafel. Wastafel itulah baskomnya. Seperti yang dilakukan Nick Nurrachman –komisaris Pelindo II yang dulu komisaris Kimia Farma.

Nick melakukan itu tiap empat jam sekali di siang hari. Dalam tiga hari Covidnya negatif. Pekan lalu.

Syaratnya Anda harus tahu kapan virus mulai masuk ke hidung. Atau ke mulut Anda. Protokol Rakyat itu harus dilakukan sebelum hari ke 5 terkena Covid. Yakni sebelum virusnya pindah ke paru atau ke bagian lain tubuh.

Begitu mudah. Begitu murah. Begitu tidak merepotkan orang lain. Tidak mengganggu APBN. Tapi Anda akan dimusuhi orang yang punya proyek di Covid.

Cara itu memang sederhana. Tapi untuk sampai di sana penelitiannya tidak sederhana. Berbulan-bulan drh Indro berada di lab. Di Bogor.

Virus Covid-19 itu begitu kuat melekat di dasar tabung lab. Berbagai cara melepaskannya tidak berhasil. Kuat sekali. Maka drh Indro memasukkan cairan NHCL.

Berbagai kadar NHCL sudah dicoba. Akhirnya ia menemukan: NHCL kadar 0,9 yang bisa melepaskan virus itu dari dasar tabung. Dan menghancurkannya.

Tentu rakyat akan sulit kalau berurusan dengan NHCL. Apalagi harus di kadar 0,9. Maka drh Indro membuat rumus yang sesuai dengan pemahaman rakyat: satu sendok-makan garam itu sama dengan 10 gram. Kalau dimasukkan ke air 1 liter berarti kadarnya sekitar 0,9. Kurang dari itu tidak ampuh. Kelebihan sedikit tidak apa-apa.

Penjelasan itu begitu mudah dipahami.

Bolehkah kita langsung beli NHCL 0,9 dari apotek? Tidak perlu beli garam?

“Boleh. Tapi lebih baik pakai garam krosok," katanya.

Berarti bagi yang merasa belum terkena Covid baik juga melakukan itu. Setidaknya tiga hari sekali –siapa tahu ada virus yang masuk ke hidung dan belum pindah ke paru.

Drh Indro orang yang santai. Ia orang yang mandiri. Kini ia memilih sebagai konsultan independen virology.

Sampai sekarang pun ia belum mau membuat tesis –sehingga belum bisa mendapat gelar S-2. Dan ia tidak peduli. "Sekarang pun kalau saya mau membuat tesis masih diterima," katanya. "Saya masih tetap menjadi partner riset profesor virology di University of Adelaide," tambahnya.

Tanpa ijazah S-2 ribuan orang sudah merasakan hasil risetnya. Ratusan ribu orang melaporkan hasil baik dari menjalankan protokol rakyat drh Indro.

(Dahlan Iskan)

https://youtu.be/ouUeJMV1WXg

Setelah ditelusuri, informasi membersihkan hidung dengan air garam dapat menghancurkan Covid-19 di tubuh tidak benar.

Informasi membersihkan hidung dengan air garam dapat menghancurkan virus pada Covid-19 belum ada pengujiannya dan belum terbukti secara ilmiah.

Baca selengkapnya di tautan berikut ini.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya