Mitos Kesehatan Sepekan: Vaksin AstraZeneca Dibuat pada 2018 hingga Penemuan Singapura Autopsi Jenazah Covid-19

Oleh Hanz Jimenez Salim pada 02 Agu 2021, 11:00 WIB
Diperbarui 02 Agu 2021, 11:00 WIB
ilustrasi Cek Fakta kesehatan
Perbesar
ilustrasi Cek Fakta

Liputan6.com, Jakarta - Informasi hoaks terus bermunculan di media sosial, tidak terkecuali hoaks dan mitos kesehatan yang dapat mempengaruhi masyarakat. Satu di antaranya klaim vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca telah dibuat sejak 2018.

Klaim ini salah satunya disebarkan akun Facebook Hurshida Yuldasheva pada 29 Juli 2021. Dalam postingannya terdapat gambar kardus kemasan vaksin covid-19 AstraZeneca. Di sisi kardus kemasan itu terdapat tulisan "2018.07.15"

Akun tersebut menambahkan narasi:

"Kotak vaksin AstraZeneca Covid-19 tanggal rilis 15/07/2018. Covid-19 diluncurkan pada akhir 2019.

Vaksin AstraZeneca Covid-19, box isi 10 botol. Bagi yang tidak bisa melihatnya, tanggal produksinya adalah 15/7/2018 (15 Juli 2018)."

Namun setelah ditelusuri, postingan gambar yang mengklaim vaksin covid-19 AstraZeneca dibuat pada 15 Juli 2018 adalah tidak benar. Faktanya gambar dalam postingan itu sudah dimanipulasi.

Selain klaim vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca telah dibuat sejak 2018, terdapat mitos kesehatan lain yang telah ditelusuri. Berikut rangkumannya.

 

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Alat Swab Antigen Positif Covid-19 Saat Diberikan Air Keran

Cek Fakta air keran pada swab antigen
Perbesar
Cek Fakta air keran pada swab antigen positif covid-19.

Beredar di media sosial postingan video terkait alat tes swab antigen yang diberikan air keran hasilnya positif covid-19. Video itu ramai dibagikan sejak pekan lalu.

Salah satu akun yang membagikannya adalah bernama Sahril Al Hamid. Dia mengunggahnya di Facebook pada 26 Juli 2021.

Dalam video berdurasi satu menit 29 detik itu terdapat satpam yang mencoba memasukkan air keran dalam tes swab antigen. Ternyata setelah ditunggu hasilnya positif.

Selain itu dalam video juga terdapat ajakan untuk tidak mau dites swab antigen karena isinya pembohongan. Akun tersebut juga menambahkan narasi "Air keran positif corona".

Setelah ditelusuri, postingan video alat tes swab antigen positif setelah diberikan air keran adalah tidak benar. Faktanya alat swab antigen akan rusak jika digunakan tidak sesuai instruksi. Hasil yang tertera menjadi tidak valid.

Baca selengkapnya di tautan berikut ini.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Informasi Penemuan Singapura Autopsi Jenazah Covid-19

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim penemuan Singapura negara pertama outopsi jenazah Covid-19
Perbesar
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim penemuan Singapura negara pertama outopsi jenazah Covid-19

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim penemuan Singapura negara pertama outopsi jenazah Covid-19. Klaim klaim Singapura negara pertama outopsi jenazah Covid-19 dan penyakit tersebut berasal dari bakteri beredar lewat aplikasi percakapan WhatsApp.

Berikut klaim penemuan Singapura negara pertama outopsi jenazah Covid-19 tersebut:

() Singapura menjadi negara pertama di dunia yang melakukan otopsi (post-mortem) untuk jenazah Covid-19. Setelah penyelidikan menyeluruh, ditemukan bahwa Covid-19 tidak ada sebagai virus, melainkan bakteri yang telah terpapar radiasi dan menyebabkan kematian manusia dengan pembekuan dalam darah. Penyakit Covid-19 ditemukan menyebabkan pembekuan darah, yang menyebabkan pembekuan darah pada manusia dan menyebabkan pembekuan darah di pembuluh darah, yang membuat seseorang sulit bernapas karena otak, jantung, dan paru-paru tidak dapat menerima oksigen sehingga menyebabkan orang meninggal. dengan cepat.

Untuk mengetahui penyebab kekurangan energi pernapasan, dokter di Singapura tidak mendengarkan protokol WHO dan melakukan otopsi pada COVID-19. Setelah dokter membuka lengan, kaki, dan bagian tubuh lainnya dan memeriksanya dengan cermat, mereka melihat bahwa pembuluh darah melebar dan dipenuhi gumpalan darah, yang menghambat aliran darah dan juga mengurangi aliran oksigen. Di dalam tubuh itu menyebabkan kematian pasien. Setelah mengetahui penelitian ini, Kementerian Kesehatan Singapura langsung mengubah protokol pengobatan Covid-19 dan memberikan aspirin kepada pasien positifnya. Saya mulai mengonsumsi 100 mg dan Imromac. Hasilnya, pasien mulai pulih dan kesehatannya mulai membaik. Kementerian Kesehatan Singapura mengevakuasi lebih dari 14.000 pasien dalam satu hari dan memulangkan mereka. Setelah periode penemuan ilmiah, dokter di Singapura menjelaskan metode pengobatan dengan mengatakan bahwa penyakit ini adalah trik global, “Ini tidak lain adalah koagulasi di dalam pembuluh darah (bekuan darah) dan metode pengobatan. Tablet antibiotik Anti inflamasi dan Minum antikoagulan (aspirin). Ini menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk mengobati penyakit. Menurut ilmuwan Singapura lainnya, ventilator dan unit perawatan intensif (ICU) tidak pernah diperlukan. Protokol untuk efek ini telah diterbitkan di Singapura China sudah mengetahui hal ini, tetapi tidak pernah merilis laporannya. Bagikan informasi ini kepada keluarga, tetangga, kenalan, teman, dan kolega Anda agar dapat menghilangkan rasa takut akan Covid-19 dan menyadari bahwa ini bukan virus, melainkan bakteri yang hanya terpapar radiasi. Hanya orang dengan kekebalan yang sangat rendah yang harus berhati-hati. Radiasi ini juga menyebabkan peradangan dan hipoksia. Korban harus mengonsumsi Asprin-100mg dan Apronik atau Paracetamol 650mg.

Sumber: Kementerian Kesehatan Singapura"

Setelah ditelusuri, klaim penemuan Singapura negara pertama outopsi jenazah Covid-19 tidak benar. Faktanya, Kementerian Kesehatan Singapura telah membantah informasi tersebut, karena belum pernah melakukan autopsi jenazah Covid-19.

Baca selengkapnya di tautan berikut ini.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya