Beragam Langkah TikTok Lawan Hoaks di Media Sosial

Oleh Hanz Jimenez Salim pada 17 Mei 2021, 07:00 WIB
Diperbarui 17 Mei 2021, 07:00 WIB
Ilustrasi TikTok, Aplikasi TikTok.
Perbesar
Ilustrasi TikTok, Aplikasi TikTok. Kredit: antonbe via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Situs berbagi video, TikTok terus berupaya mencegah dan melawan hoaks di media sosial. Teranyar, TikTok meluncurkan kampanye bertajuk #FactCheckYourFeed.

Kampanye tersebut merupakan langkah TikTok mendorong peningkatan literasi digital dan mencegah penyebaran informasi palsu atau hoaks.

"Kami mengambil tanggung jawab untuk membantu mendidik pengguna kami dengan serius, yang berarti memastikan bahwa setiap orang memiliki akses ke informasi yang baik dan akurat kapan pun mereka membutuhkannya. Untuk mencapai ini, penting bahwa pengguna kami dapat mengidentifikasi dengan benar apa yang mereka tonton," demikian pernyataan TikTok, dikutip dari socialmediatoday.com, Jumat (14/5/2021).

TikTok tak menampik bahwa platformnya menjadi sasaran kelompok untuk menyebarkan informasi yang salah dan disinformasi.

Sesuai laporan transparansi platform terbaru, TikTok menghapus lebih dari 340 ribu video di Amerika Serikat pada paruh kedua tahun lalu karena melanggar aturannya seputar misinformasi pemilu. Sementara itu juga digunakan untuk menyebarkan propaganda dan konten yang berfokus pada politik di berbagai wilayah.

Selain meluncurkan kampanye #FactCheckYourFeed, berikut beberapa langkah TikTok melawan hoaks di media sosial. Berikut rangkumannya.

 

2 dari 5 halaman

Gandeng WHO untuk Cegah Hoaks Vaksin Covid-19

Ilustrasi penyuntikan vaksin Covid-19 (Liputan6.com / Abdillah)
Perbesar
Ilustrasi penyuntikan vaksin Covid-19 (Liputan6.com / Abdillah)

TikTok kembali mengumumkan serangkaian langkah baru untuk membantu meningkatkan kesadaran pentingnya mengikuti program vaksinasi Covid-19 sebagai bagian dari Pekan Imunisasi Dunia.

Selain mendukung program vaksinasi, TikTok juga terus berupaya mencegah hoaks vaksin Covid-19. Pertama, TikTok mendorong pengguna untuk membagikan alasan mereka mendapatkan vaksinasi dengan menggunakan tagar #VaccinatedFor, untuk menginspirasi orang lain untuk juga mendapatkan vaksin Covid-19.

Pengguna dapat membagikan cerita mereka dengan menggunakan tagar #VaccinatedFor, yang akan ditampilkan di halaman Discover aplikasi.

TikTok juga bekerjasama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). TikTok mengadakan siaran langsung dengan Katherine O'Brien, Direktur Departemen Imunisasi, Vaksin, dan Biologi WHO pada Kamis 29 April 2021 mendatang. O'Brien akan menjawab pertanyaan pengguna tentang vaksin Covid-19 dan masalah kesehatan lainnya.

TikTok juga bermitra dengan NowThis untuk meluncurkan seri langsung lima bagian baru yang disebut VIRAL, yang bertujuan mendidik pengguna tentang vaksin Covid-19.

"Kami berusaha untuk segera mengidentifikasi dan menghapus informasi yang salah terkait dengan Covid-19, dan sebagian besar video menyesatkan tentang virus corona dihapus dalam waktu 24 jam setelah diupload, seperti yang dijelaskan dalam Laporan Transparansi terakhir kami. Kami melakukan investasi penting dalam deteksi baru. mekanisme saat kami bekerja untuk menutup celah ini dan meningkatkan kemanjuran kami," demikian pernyataan TikTok dikutip dari socialmediatoday.com, Sabtu (23/4/2021).

Selain itu, hal tersebut dilakukan guna membantu menutup kesenjangan informasi dan mengurangi keraguan vaksin Covid-19. TikTok juga mencatat bahwa mereka terus meningkatkan proses pendeteksian dan penghapusan kesalahan informasi vaksin.

 

3 dari 5 halaman

Hapus 340 Ribu Video Hoaks

banner Hoax
Perbesar
banner Hoax (Liputan6.com/Abdillah)

TikTok menghapus lebih dari 340 ribu video di Amerika Serikat karena melanggar aturan platform tentang misinformasi pemilu, manipulasi, hoaks, dan disinformasi.

Beberapa bulan sebelum pemilihan presiden 2020, TikTok mengumumkan bahwa mereka akan berpasangan dengan organisasi pemeriksa fakta sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memerangi pemilihan umum dan misinformasi Covid-19.

Pada saat pengumuman tersebut, TikTok berada di bawah tekanan luar biasa oleh pemerintahan Trump dan anggota parlemen atas dugaan hubungannya dengan pemerintah China.

Microsoft dan Oracle termasuk di antara beberapa perusahaan yang mengajukan penawaran untuk kepemilikan TikTok dari ByteDance, sebuah perusahaan China. Kesepakatan terakhir antara Oracle dan TikTok masih ditangguhkan.

"TikTok adalah komunitas global yang beragam yang didorong oleh ekspresi kreatif. Kami bekerja untuk menjaga lingkungan di mana setiap orang merasa aman untuk berkreasi, menemukan komunitas, dan dihibur," kata Wakil Presiden TikTok, Michael Beckerman seperti dilansir dari theverge.com, Kamis (25/2/2021).

"Kami berkomitmen untuk bersikap transparan tentang cara kami menjaga keamanan platform kami, karena hal itu membantu membangun kepercayaan dan pemahaman dengan komunitas kami," sambung dia.

Selain itu, TikTok juga menghapus 1.750.000 akun yang digunakan "untuk otomatisasi" selama pemilu AS 2020.

"Meskipun tidak diketahui apakah ada akun yang digunakan secara khusus untuk memperkuat konten terkait pemilu, penting untuk menghapus rangkaian akun ini untuk melindungi platform pada saat kritis ini," bunyi laporan transparansi.

 

4 dari 5 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓