Masyarakat Kurang Verifikasi, Jumlah Hoaks Meningkat Tajam Tahun Lalu

Oleh Liputan6.com pada 27 Feb 2021, 14:00 WIB
Diperbarui 27 Feb 2021, 16:34 WIB
Ilustrasi Hoaks Hoax
Perbesar
Ilustrasi Hoaks. (Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Operasional Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), Dewi Sari menyebut, jumlah hoaks pada 2020 mengalami kenaikan cukup signifikan. Jumlahnya mencapai 2.298 konten, naik 1.221 konten dari tahun sebelumnya.  

"Di Indonesia perlu berhati-hati karena berdasarkan data Mafindo, tiga topik utama yang banyak di media sosial adalah terkait kesehatan, politik, dan kriminalitas. Hoaks bisa tergolong jenis satire atau parodi, konten menyesatkan, konten tiruan, konten palsu, konten dengan koneksi yang salah, konten yang salah, maupun konten yang dimanipulasi," kata Direktur Operasional Mafindo, Dewi Sari seperti dilansir dari Antara, Jumat (26/2/2021).

Pada umumnya, hoaks banyak beredar luas melalui media sosial karena jarang terjadi pengecekan sumber fakta sebelum dibagikan antara satu pengguna ke pengguna lain.

"Perlu dilihat juga bahwa ciri-ciri hoaks adalah sumber berita yang tidak jelas, membangkitkan emosi, meminta agar disebarkan, dan artikel yang tidak menyebutkan fakta. Langkah utama dalam mencegah dampak buruk hoaks adalah dengan mengidentifikasi informasi yang kita terima," tutur dia.

Menurut Dewi, edukasi kepada masyarakat mengenai cara menyaring informasi maupun menanggapi hoaks dengan bijak juga perlu diberikan.

Selain itu, dipaparkan juga bahwa mengetahui mekanisme atau tata cara pengaduan informasi hoaks juga penting untuk menghentikan penyebaran informasi yang tidak tepat tersebut.

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓