Laporan Hoaks dari Kominfo: Masih Diselimuti Informasi Palsu Vaksin Covid-19

Oleh Cakrayuri Nuralam pada 25 Feb 2021, 14:30 WIB
Diperbarui 26 Feb 2021, 08:58 WIB
Ilustrasi vaksin corona, vaksin covid-19
Perbesar
Ilustrasi vaksin corona, vaksin covid-19. Kredit: fernando zhiminaicela via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menemukan tiga konten hoaks yang tersebar di media sosial hingga Kamis, 25 Februari 2021. Tiga hoaks tersebut masih seputar isu palsu vaksin covid-19.

Pertama, Kominfo menemukan isu Direktur Pascasarjana STIK Tamalatea Makassar, Eha Soemantri meninggal karena vaksin covid-19. Klaim ini berasal dari salah satu saluran di YouTube.

Namun, berdasarkan hasil penelusuran, informasi tersebut telah diklarifikasi oleh Komda KIPI Sulawesi Selatan pada 23 Februari 2021. Dalam klarifikasinya, dijelaskan bahwa Eha Soemantri meninggalsetelah dinyatakan positif terkonfirmasi Covid-19 pada 8 Februari.

Dalam kronologi disebutkan jika sebelumnya Eha Soemantri sudah mendapatkan suntik vaksinasi Covid-19 tahap 1 pada 14 Januari, lalu melakukan perjalanan ke Mamuju 5 hari sebelum vaksin tahap 2 yakni pada 28 Januari.

Kemudian, yang bersangkutan menunjukan gejala Covid-19 berupa demam dan sesak pada hari ketiga setelah vaksinasi tahap 2 yakni pada 31 Januari. Sebagaimana yang juga dijelaskan oleh Komda KIPI Sulawesi Selatan, bahwa kekebalan tubuh baru terbentuk maksimal setelah 28 hari sejak vaksin pertama diberikan.

Hal tersebut sekaligus membantah klaim yang menyebut bahwa Eha Soemantri meninggal diakibatkan suntik vaksin, melainkan akibat Covid-19 yang menyerang pada masakekebalan tubuh belum terbentuk secara maksimal.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

 

2 dari 5 halaman

2. Klaim Video Seorang Pria di Israel Meninggal Usai Vaksinasi

banner cek fakta ilustrasi makam
Perbesar
banner cek fakta ilustrasi makam (Liputan6.com/Triyasni)

Beredar sebuah unggahan video yangmenampilkan seorang pria di Israel jatuhterlentang di lantai. Pria dalam video tersebut diklaim langsung meninggal sesaat setelah menerima vaksin.

Faktanya, klaim bahwa pria dalam video tersebut meninggal akibat vaksin adalah keliru. Dilansir dari reuters.com, penyedia layanan kesehatan terbesar Israel, Clalit, mengklarifikasi bahwa pria itu memang terjatuh pingsan, namun bukan disebabkan oleh vaksin.

Istri dari pria tersebut juga menuturkan, kondisi sang suami yang lemah dan merasa kurang baik menjadi faktor ia pingsan saat hendak divaksin. Ia juga menyebut sang suami memiliki ketakutan oleh vaksin.

Selanjutnya disebutkan juga bahwa sejauh ini, sekitar 44% dari 9,1 juta warga Israel telah menerima setidaknya satu suntikan vaksin Pfizer dan tidak ada laporan kasus meninggal karena efek samping vaksinCovid-19.

 

 

3 dari 5 halaman

3. Klaim Ketua Satgas Covid-19 Sebut Hirup Uap Air Panas Bisa Membunuh Virus Corona

Ilustrasi Covid-19, virus corona
Perbesar
Ilustrasi Covid-19, virus corona. Kredit: Miroslava Chrienova via Pixabay

Beredar sebuah pesan berantai di media sosial WhatsApp sebuah narasi yangmenyebutkan Ketua Satgas Covid-19 bernama Dwiyono menjelaskan terkait pencegahanpenularan Covid-19 dapat melalui metode menghirup uap air panas. Menurut beliau uapdan air panas dapat membunuh virus Corona.

Faktanya, klaim tentang terapi uap air panas dapat membunuh virus Corona adalah tidak benar. Pesan berantai melalui WhatsApp yang mengatasnamakan Ketua Satgas Covid-19 Dwiyono adalah salah.

Ketua Satgas Covid-19 saat ini bernama Doni Monardo, bukan Dwiyono seperti yang disebutkan di dalam pesan berantai tersebut. Lebih lanjut, dalam berbagai pernyataan dan penjelasan Doni Mordano sebagai Ketua Satgas Covid-19, tidak ada satupun informasi bahwa beliau menyebutkan uap air panas dapat menghilangkan virus Corona.

 

4 dari 5 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓