Studi Ungkap Pengguna Media Sosial Cenderung Percaya Hoaks

Oleh Adyaksa Vidi pada 23 Feb 2021, 10:00 WIB
Diperbarui 23 Feb 2021, 10:00 WIB
Ilustrasi hoax
Perbesar
Ilustrasi hoaks. (via: istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Studi dari Pew Research Center menemukan bahwa orang yang mengandalkan platform media sosial untuk mendapatkan berita lebih cenderung percaya hoaks atau informasi palsu. Terutama untuk topik yang penting seperti politik dan covid-19.

Hasil studi ini diumumkan ke publik oleh Pew Research Center Senin (22/2/2021). Studi itu dilakukan Pew pada 9000 orang dewasa di Amerika Serikat pada periode November 2019 hingga Desember 2020.

Dari studi ditemukan bahwa ada 18 persen responden yang mendapatkan berita politik atau pemilu melalui media sosial. Namun 18 persen responden tersebut cenderung tidak menjawab berdasarkan fakta yang benar tentang politik dan peristiwa terkini ketimbang mereka yang mengandalkan siaran, aplikasi berita dan media cetak.

Selain itu responden yang mengandalkan berita dari media sosial juga lebih banyak mendapat informasi yang tidak benar atau hoaks terkait covid-19. Seperti klaim yang menyebut vitamin C bisa mencegah infeksi.

Sementara hasil studi lain juga menemukan bahwa mayoritas responden tidak percaya dengan media sosial. Facebook menjadi platform yang tingkat kepercayaannya rendah ketimbang platform lain.

 

2 dari 3 halaman

Temuan Lain

Ilustrasi Hoax
Perbesar
Ilustrasi Hoax. (Liputan6.com/Rita Ayuningtyas)

Di sisi lain studi Pew juga mengungkap tiga dari 10 pengikut Partai Republik mengandalkan akun mantan Presiden Donald Trump sebagai sumber utama berita tentang pemilu dan virus corona covid-19.

Mereka juga cenderung menganggap pandemi covid-19 telah dibesar-besarkan dan lebih cenderung melihat kecurangan pemilih sebagai ancaman signifikan terhadap integritas pemilu.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓