Deretan Penyebab Masyarakat Masih Percaya Hoaks

Oleh Adyaksa Vidi pada 23 Feb 2021, 09:00 WIB
Diperbarui 23 Feb 2021, 09:00 WIB
Ilustrasi Hoaks Hoax
Perbesar
Ilustrasi Hoaks. (Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Hoaks dan informasi palsu terus menyebar di masyarakat. Apalagi di tengah pandemi covid-19 seperti sekarang.

Hoaks menyebar melalui media sosial maupun aplikasi percakapan. Hoaks ini tentu sangat berbahaya karena bisa menimbulkan keresahan bahkan hal-hal negatif jika dibiarkan.

Seluruh pihak telah berupaya untuk mengurangi peredaran hoaks. Tak terkecuali platform media sosial yang menerapkan banyak kebijakan untuk melawan hoaks ini.

Meski demikian kunci untuk menghentikan hoaks adalah kembali ke masyarakat itu sendiri.

Lalu apa saja alasan masyarakat masih percaya hoaks? Berikut beberapa di antaranya seperti dilansir dari akun Instagram @jabarsaberhoaks yang dikelola Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat:

 

 

2 dari 4 halaman

Alasan Pertama dan Kedua

banner Hoax
Perbesar
banner Hoax (Liputan6.com/Abdillah)

1. Malas Cross Check

Hal ini kerap menjadi sumber permasalahan. Pasalnya ketika seseorang menerima informasi, mereka langsung menerima begitu saja informasi tersebut tanpa mencek ulang kebenarannya.

Beberapa alasan orang malas cross check yakni:

- Tidak tahu caranya.

- Algoritma media sosial sering menampilkan konten yang memiliki banyak aktivitas yang tinggi seperti like, comment dan share.

- ketika sebuah konten telah viral maka banyak orang menganggap benar meskipun belum tentu.

2. Baru membaca judul tapi sudah memberikan opini

Tingkat literasi yang rendah membuat orang malas membaca utuh sebuah informasi. Seringkali mereka hanya membaca judul kemudian membuat sebuah opini yang bisa jadi melenceng dari isi informasi.

Ada beberapa alasan orang melakukan hal demikian yakni:

- Hemat kuota.

- Judul bombastis, click bait, menimbulkan emosi pembaca.

- Tidak bisa membedakan sindiran dan kebohongan.

3 dari 4 halaman

Alasan Selanjutnya

3. Info yang muncul berulang

Semakin sering seseorang melihat sebuah informasi maka lama-lama orang tersebut bisa jadi percaya. Ketika sebuah hoaks sering berseliweran di timeline, atau berkali-kali didapatkan dari broadcast grup WA, maka orang yang awalnya skeptis lama-lama bisa mempercayainya.

4. Informasi sesuai dengan opini dan sikapnya

Orang akan mudah percaya hoaks jika info atau konten yang beredar sesuai dengan opini dan sikapnya, demikian juga sebaliknya.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini

Lanjutkan Membaca ↓