Deretan Hoaks yang Catut Nama WHO: dari Vaksin Hingga Anjuran Pakai Masker

Oleh Adyaksa Vidi pada 09 Feb 2021, 11:00 WIB
Diperbarui 09 Feb 2021, 11:00 WIB
Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus
Perbesar
Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Liputan6/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjadi salah satu sasaran hoaks selama pandemi virus corona covid-19. Beragam hoaks kerap mencatut atau menyerang salah satu badan PBB ini.

Bahkan hoaks yang mencatut nama WHO sudah beredar sejak Februari tahun lalu. Hoaks ini menyebar melalui seluruh platform media sosial.

WHO sendiri tak menganggap remeh adanya hoaks yang menyertai pandemi covid-19 ini. Mereka menyebut hoaks sama berbahayanya dengan virus corona covid-19 sendiri.

Lalu apa saja hoaks yang mencatut nama WHO, berikut beberapa diantaranya:

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 7 halaman

1. Cek Fakta: WHO Serukan Dunia Isolasi China karena Darurat Virus Corona? Ini Faktanya

Covid-19 Jadi Nama Penganti Virus Corona
Perbesar
Petugas laboratorium melakukan pengujian sampel dari orang yang akan diuji untuk virus corona COVID-19 di sebuah laboratorium di Shenyang, provinsi Liaoning timur laut China, Rabu (12/2/2020). Pemimpin WHO di Jenewa mengganti nama virus corona Wuhan menjadi Covid-19. (STR/AFP)

Kabar tentang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan mengisolasi China karena darurat virus corona beredar di media sosial.

Kabar ini disebarkan oleh situs eramuslim.com dengan judul artikel "Darurat Corona, WHO Serukan Dunia Isolasi Cina".

Berikut isinya:

"Eramuslim.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya resmi mengumumkan darurat kesehatan global pada Jumat (31/1). Pengumuman itu seiring dengan semakin banyak dan luasnya korban yang terinfeksi virus Novel Corona (2019-nCoV).

Selain mengumumkan darurat corona, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus juga meminta semua negara tidak membiarkan warganya melakukan perjalanan ke China. Termasuk untuk urusan dagang.

“WHO tidak merekomendasikan dan benar-benar menentang untuk melakukan perjalanan atau perdagangan dengan China,” ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti diberitakan Reuters, Jumat (31/1).

Sejumlah negara kini telah melakukan evakuasi terhadap warga negaranya yang berada di Wuhan, Provinsi Hubei yang menjadi tempat kali pertama virus ditemukan.

Presiden Joko Widodo juga sudah ambil keputusan untuk segera mengevakuasi warga negara Indonesia yang terjebak di Wuhan. KBRI Beijing mencatat ada sebanyak 243 WNI yang butuh evakuasi dari Wuhan.

Berdasarkan data dari Center for System Science and Engineering (CSSE) pada Kamis (30/1), jumlah korban terinfeksi sudah meningkat menjadi 8.236 kasus dengan 171 orang meninggal dunia dan pulih sebanyak 143.

Sebarannya pun semakin luas, yaitu mencapai 22 negara/wilayah, meliputi daratan China, Thailand, Jepang, Hong Kong, Singapura, Australia, Taiwan, Malaysia, Makau, Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Kanda, Vietnam, Kamboja, Finlandia, India, Nepal, Filipina, dan Sri Lanka."

Benarkah WHO menyerukan isolasi China? Simak dalam artikel berikut ini...

3 dari 7 halaman

2. Cek Fakta: Hoaks Saran WHO Orang Sehat Berhenti Memakai Masker

Ilustrasi orang pakai masker saat wabah Virus Corona COVID-19 di Indonesia. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)
Perbesar
Ilustrasi orang pakai masker saat wabah Virus Corona COVID-19 di Indonesia. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)

Beberapa hari terakhir ini, netizen Facebook ramai-ramai membagikan kicauan Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) yang menyebut orang sehat tidak perlu memakai masker di masa pandemi covid-19.

Mereka membagikan kicauan akun Twitter World Health Organization Western Pacific soal orang sehat tidak perlu masker dengan narasi sebagai berikut:

"If you do not have any respiratory symptoms, such as fever, cough, or runny nose, you do not need to wear a medical mask. When used alone, masks can give you a false feeling of protection and can even be a source of infection when not used correctly."

Bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi:

"Jika Anda tidak mengalami gejala gangguan pernapasan, seperti demam, batuk, atau pilek, Anda tidak perlu menggunakan masker. Saat digunakan sendiri, masker dapat memberi Anda perasaan perlindungan yang salah dan bahkan dapat menjadi sumber infeksi jika tidak digunakan dengan benar."

Itu merupakan unggahan akun Facebook Kim Moran pada 25 Januari 2021. Unggahan berupa tangkapan layar dari akun Twitter WHO regional Western Pacific mendapat banyak respons dari netizen.

Lalu, benarkah WHO sudah menyarankan orang sehat tidak perlu menggunakan masker lagi di masa pandemi covid-19? Simak dalam artikel berikut ini...

4 dari 7 halaman

3. Cek Fakta: Tidak Benar WHO Ungkap Vaksin Covid-19 Buatan Sinovac Paling Lemah

Distribusi Vaksin Corona Sinovac di Puskesmas Cilincing
Perbesar
Petugas kesehatan menunjukkan vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech Ltd. di Puskesmas Cilincing, Jakarta, Rabu (13/1/2021). Pemprov DKI akan menggelar vaksinasi di 453 fasilitas kesehatan DKI Jakarta dengan jumlah dosis vaksin yang sudah diterima sebanyak 39.200 vaksin. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Beredar di media sosial postingan soal WHO yang menyebut vaksin covid-19 buatan Sinovac punya respons imun paling rendah dibanding 10 vaksin lainnya. Kabar itu ramai dibagikan sejak akhir pekan kemarin.

Salah satu akun yang membagikannya adalah bernama Leo. Dia mengunggahnya pada 20 Desember 2020.

Dalam postingannya ia mengunggah tangkapan layar berita berjudul "WHO Ungkap Pengaruh Vaksin Sinovac China terhadap Imun Tubuh Ternyata Paling Rendah".

Postingan tersebut juga menyertakan sembilan vaksin covid-19 lainnya. Di sana juga terdapat narasi:

"Sebanyak 1,2 juta Vaksin Sinovac buatan China telah tiba di Indonesia.

Presiden Joko Widodo alias Jokowi pun langsung menyampaikan kabar yang ia nilai sebagai kabar baik tersebut.

“Saya ingin menyampaikan kabar baik.Hari ini pemerintah sudah menerima 1,2 juta dosis vaksin Covid-19. Vaksin ini buatan Sinovac yang kita uji secara klinis di Bandung sejak Agustus 2020,” kata Jokowi,Minggu (6/12/2020).

Berdasarkan informasi yang didapat berita AL JAZEERA,Dari 20 negara yang telah tercatat memesan Vaksin Virus Corona, memang baru INDONESIA yang memesan VAKSIN SINOVAC.

AL JAZEERA juga mengungkap data bersumber dari REUTERS dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dari 10 jenis vaksin yang siap edar, ternyata VAKSIN SINOVAC memiliki pengaruh terhadap imunitas tubuh yang PALING LOW atau RENDAH.

Berdasarkan tabel di bawah ini dipaparkan dampak ke-10 jenis vaksin tersebut terhadap imunitas tubuh relawan uji coba.

Sekadar contoh, VAKSIN MODERNA berdampak 94,5 % terhadap imunitas tubuh.VAKSIN PFIZER berdampak 95 % terhadap imunitas tubuh.

TETAPI, SINOVAC memiliki dampak terhadap imunitas tubuh yang masuk kategori low atau rendah.

Bukan itu saja, CHINA dan RUSIA juga dua negara yang dinilai sangat berani karena telah memproduksi vaksin meski uji klinis tahap 3 belum selesai.

Media berbasis di DOHA, QATAR, mengungkap data hasil riset terkait pengaruh 10 jenis vaksin terhadap imunitas tubuh.

Hasilnya, VAKSIN SINOVAC pengaruhnya masuk KATEGORI LOW (RENDAH),Sementara beberapa merek vaksin lain masuk kategori moderat atau 94-95 persen seperti VAKSIN PFIZER dan MODERNA.

PFIZER dan MODERNA adalah vaksin buatan Amerika Serikat.

Berdasarkan data yang diungkap Al Jazeera,Ada 20 negara (tidak termasuk Uni Eropa) yang telah memesan vaksin untuk mengatasi pandemi Virus Corona atau Covid-19.

Ke-20 negara yang telah memesan vaksin tersebut adalahAMERIKA SERIKAT, JEPANG, INGGRIS, ITALIA, DENMARK, BELANDA, PRANCIS, KANADA, CHINA, BRAZIL, MEKSIKO, ARGENTINA, INDIA, SPANYOL, AUSTRALIA, INDONESIA, UZBEKISTAN, MESIR, NEPAL, dan ISRAEL.

Data REUTERS menunjukkan bahwa ada 10 jenis Vaksin Virus Corona yang siap dan telah diproduksi sejumlah perusahaan farmasi dari sejumlah negara seperti InggYris, AMERIKA SERIKAT, JERMAN, dan CHINA.

Ke-10 jenis Vaksin Virus Corona tersebut adalah sebagai berikut:

1. AstraZeneca (Inggris)

2. Cansino Bilogics

3. Gamaleya Reserach Institute

4. Inovio-Cepi (Amerika Serikat)

5. Johnson & Johnson Barda Janssen

6. Moderna (Amerika Serikat).

7. Novavax (Amerika Serikat).

8. Pfizer-Biontech(Amerika Serikat-Jerman)

9. Sinopharm-Beijing Institute ofBilogical Products (China)

10. Sinovac (China)

Al Jazeera juga mengungkap tabel negara-negara mana saja yang telah memesan 10 jenis vaksin.

Hasilnya, HANYA INDONESIA yang memesan VAKSIN SINOVAC BUATAN CHINA.

Indonesia memesan 40 juta Vaksin Sinovac.

CHINA sendiri justru memesan vaksin AstraZeneca buatan Inggris sebanyak 200 juta.

Lebih lengkap bisa dilihat dalam tabel di bawah ini."

Lalu benarkah postingan yang menyebut vaksin covid-19 buatan sinovac punya respons imun paling rendah dibanding 10 vaksin lainnya menurut WHO? Simak dalam artikel berikut ini...

5 dari 7 halaman

4. Cek Fakta: Hoaks Pesan Berantai Berisi Link Pendaftaran Vaksin Covid-19 Gratis dari WHO

FOTO: Ribuan Tenaga Kesehatan Jalani Vaksinasi Dosis Pertama Secara Massal
Perbesar
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 dosis pertama produksi Sinovac kepada tenaga kesehatan saat vaksinasi massal di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Kegiatan yang digelar Kemenkes dan Pemprov DKI Jakarta tersebut sebagai upaya percepatan vaksinasi COVID-19. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Beredar di aplikasi percakapan Whatsapp pesan berantai yang mencatut nama Organisasi Kesehatan Dunia, WHO. Pesan berantai ini ramai dibagikan sejak beberapa waktu lalu.

Dalam pesan berantai tersebut menyebutkan WHO sedang menggelar pendaftaran program vaksin covid-19 gratis. Berikut isi lengkap pesan berantai tersebut:

"Organisasi Kesehatan Dunia memberikan vaksin COVID-19 gratis.

Saya mendapat vaksin COVID-19 gratis, senang sekali. Keluarga dan teman-teman saya juga sudah divaksinasi.

Anda harus mengajukan vaksinasi sesegera mungkin.

Klik tautan untuk mengajukan vaksinasi. https://www.svwa.cn/tiaoban.php?app=yimiao"

Lalu benarkah WHO sedang mengadakan program pendaftaran vaksin covid-19 gratis? Simak dalam artikel berikut ini...

6 dari 7 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

7 dari 7 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓