Cegah Penyebaran Hoaks, TikTok Jajaki Kerja Sama dengan Ahli Cek Fakta

Oleh Liputan6.com pada 17 Okt 2020, 18:00 WIB
Diperbarui 18 Okt 2020, 09:09 WIB
Ilustrasi TikTok, Aplikasi TikTok.
Perbesar
Ilustrasi TikTok, Aplikasi TikTok. Kredit: antonbe via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - TikTok terus berupaya mencegah penyebaran misinformasi dan kabar hoaks di media sosial. Kini, perusahaan tersebut mulai menjajaki kerjasama dengan sejumlah ahli cek fakta.

"Kami telah memulai Program cek fakta Asia Pasifik, bekerja sama dengan pemeriksa fakta terkemuka di industri, AFP dan Lead Stories," ujar Director, Trust & Safety, TikTok, Asia Pacific Arjun Narayan dilansir dari Antara, Sabtu (17/10/2020).

Arjun mengatakan, TikTok sebagai platform media sosial bertanggung jawab untuk melindungi dan meningkatkan pengalaman edukasi pengguna serta mencegah penyebaran hoaks.

"Kami telah meningkatkan upaya kami untuk mengidentifikasi konten yang tidak terverifikasi yang beredar di internet, yang mungkin terlihat sebagai fakta atau berita di mata publik," kata Arjun.

Selain itu, TikTok telah menerapkan sistem untuk memungkinkan pengguna dengan mudah melaporkan misinformasi dalam aplikasi.

TikTok juga memperluas tim internal yang bertanggung jawab untuk mendeteksi dan mencegah misinformasi serta disinformasi.

"Misinformasi atau disinformasi yang disengaja seperti itu dapat menyebabkan kerusakan di dunia nyata, dan bertentangan dengan misi kami untuk membangun komunitas berbasis kepercayaan, di mana interaksi yang otentik dapat berkembang," ucap Arjun.

 

2 dari 3 halaman

Hapus Konten

TikTok
Perbesar
TikTok. Dok: money.com

Program pemeriksa fakta pihak ketiga ini memanfaatkan tim pemeriksa fakta yang meninjau dan memverifikasi laporan konten.

Setelah informasi dipastikan salah atau menyesatkan, TikTok mengambil langkah proaktif untuk menghapus konten sesuai dengan Panduan Komunitas dan memberi tahu pengguna.

"Kami berkomitmen untuk memerangi misinformasi yang berbahaya, yang berhubungan dengan bidang medis, pemilu, media sintetis, berita palsu, dan konspirasi di platform kami, dengan Program Pemeriksaan Fakta baru ini," kata Arjun.

Kemitraan ini akan mencakup AFP yang bertugas di Filipina, Indonesia, Pakistan, Australia, dan Selandia Baru, sedangkan Lead Stories memperluas cakupannya ke Thailand dan Korea.

Tim ini juga akan memeriksa dan memberikan rekomendasi seputar fungsi tertentu, termasuk kebijakan, produk, dan proses.

Awal bulan ini, TikTok juga telah meluncurkan Dewan Penasihat Keamanan Asia Pasifik, yang akan membantu memberikan saran tentang kebijakan moderasi konten dan masalah kepercayaan dan keamanan khusus untuk Asia Pasifik.

Dalam rangka membangun komitmen terhadap transparansi, TikTok juga merilis Laporan Transparansi Global untuk enam bulan pertama pada 2020. Laporan itu merinci bagaimana TikTok bekerja untuk menciptakan platform yang aman dan terjamin.

"Misinformasi dan disinformasi adalah tantangan yang terus dihadapi industri ini dan kami yakin Program Pemeriksaan Fakta Asia Pasifik ini akan membantu memastikan bahwa pengguna kami dapat terus membuat dan belajar di TikTok dengan aman dan nyaman," tambah Arjun.

 

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓