Cek Fakta: Tidak Benar Guru dan Dosen Jadi Kelinci Percobaan Vaksin Covid-19

Oleh Adyaksa Vidi pada 16 Okt 2020, 16:02 WIB
Diperbarui 16 Okt 2020, 16:02 WIB
Cek Fakta kelinci percobaan vaksin covid-19
Perbesar
Cek Fakta guru dan dosen jadi kelinci percobaan vaksin covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Beredar di media sosial postingan terkait daftar penerima pertama vaksin covid-19 di Indonesia sebagai kelinci percobaan. Postingan tersebut ramai dibagikan sejak awal bulan ini.

Salah satu yang membagikannya adalah akun Facebook bernama Mon Mon. Ia mempostingnya di Facebook pada 3 Oktober 2020 lalu.

Dalam postingannya ia memberikan tangkapan layar dari sebuah portal online dengan judul "Perpres Disiapkan, Guru dan Dosen Bakal Masuk Kelompok Pertama yang Disuntik Vaksin"

Kemudian dia menambahkan narasi, "Nah kan jadi adil sama sama dapat bantuan Pertanyaannya...Ini bantuan atau kelinci percobaan???

Lalu benarkah penerima pertama vaksin covid-19 seperti dosen dan guru merupakan kelinci percobaan?

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Penelusuran fakta

CEK FAKTA Liputan6
Perbesar
CEK FAKTA Liputan6 (Liputan6.com/Abdillah)

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri fakta dan menemukan artikel berjudul "Jamin Keamanan Vaksin COVID-19, Jubir Wiku: Evaluasi Uji Klinik dari BPOM" yang tayang 16 Oktober 2020.

Dalam artikel tersebut Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmioto mengungkapkan vaksin akan dievaluasi dulu oleh BPOM sebelum disuntikkan pada masyarakat.

"Pada prinsipnya, pengawalan pengadaan vaksin, selama ini dilakukan oleh Badan POM. Kita betul-betul memastikan bahwa Badan POM melakukan evaluasi terhadap protokol uji klinik," ujar Wiku saat konferensi pers di Media Center COVID-19, Graha BNPB, Jakarta, Kamis (15/10/2020).

"BPOM selalu melakukan inspeksi terhadap pelaksanaan uji klinik tersebut. Tentunya, untuk mencapai tujuan memastikan bahwa keamanan dan efektivitas dari vaksin COVID-19."

Saat ini, uji klinis fase tiga vaksin COVID-19 Sinovac sedang dilakukan di Bandung, Jawa Barat. Para relawan disuntikkan vaksin dan dipantau perkembangannya.

"Sejauh ini, memang belum ada laporan terkait efek samping yang diterima relawan dalam uji klinis vaksin tersebut," Wiku menambahkan.

Selain itu bukan hanya guru dan dosen yang menjadi prioritas pertama pemberian vaksin. Hal ini pernah dijelaskan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Senin (12/10/2020) dalam artikel Liputan6.com berjudul "Ini Daftar Kelompok Prioritas Penerima Vaksin Covid-19 di Indonesia" yang tayang 12 Oktober 2020.

"Kelompok pertama yang diprioritaskan mendapat vaksinasi adalah, paramedis, TNI, Polri, aparat hukum, dan pelayanan publik sebanyak 3,4 juta orang dengan total kebutuhan 6,9 juta dosis," ujar Airlangga.

"Kemudian (kelompok kedua) masyarakat, tokoh agama, daerah, kecamatan, RT/RW 5,6 (juta orang), (kebutuhan vaksin) 11 juta (dosis)," katanya menambahkan.

Kelompok ketiga yang jadi prioritas vaksin Covid-19, yakni seluruh tenaga pendidik mulai dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi.

Airlangga mengatakan, setidaknya ada 4,3 juta orang yang masuk kelompok prioritas ini dengan toral kebutuhan vaksin sebanyak 8,7 juta dosis. Lalu, aparatur pemerintah baik di pusat maupun daerah serta anggota legislatif sebanyak 2,3 juta orang dengan kebutuhan 4,6 juta dosis.

Kelompok prioritas kelima yakni, peserta BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) sekitar 86 juta orang dengan total kebutuhan vaksin 173 juta dosis.

Terakhir, adalah masyarakat yang berusia 19-59 tahun sebesar 57 orang dengan kebutuhan vaksin sekitar 115 juta dosis. Dengan begitu, Airlangga mengatakan, ada 160 juta penduduk Indonesia yang ditargetkan mendapatkan vaksin Covid-19 dengan total kebutuhan 320 juta dosis.

Airlangga mengatakan, pemerintah menargetkan 135 juta penduduk Indonesia dapat disuntik vaksin Covid-19 pada 2021. Nantinya, satu orang akan divaksin dua kali, sehingga total kebutuhan vaksin tahap awal sekitar 270 juta."

Selain itu ada artikel dari Merdeka.com berjudul "Penjelasan Satgas Soal Rencana Penyuntikan Vaksin Covid-19 di Bulan November" yang tayang 15 Oktober 2020. Berikut isinya:

"Merdeka.com - Pemerintah akan menyuntikkan vaksin darurat atau emergency yang ditujukan untuk orang-orang yang memiliki risiko tinggi pada bulan November 2020. Vaksin yang digunakan adalah vaksin impor. Ada lima vaksin impor yang yang sedang dipersiapkan pemerintah. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Satgas Penanganan covid-19, Wiku Adisasmito.

"Saat ini terdapat beberapa jenis vaksin yang sedang dipersiapkan oleh pemerintah, Sinovac, Sinopharm, CanSino, Astra Zeneca dan Genexine," kata Wiku saat konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta, Kamis (15/10).

Terkait target penyuntikan vaksin prioritas itu, Wiku memastikan bahwa semua proses akan mengutamakan asas keadilan dan mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2020 tentang Pengadaan Vaksin Dan Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19.

"Seluruh alokasi vaksin prioritas ini akan mempertimbangkan kriteria dan prioritas penerima serta wilayah, tentunya mengacu pada Perpres 99 Tahun 2020," kata Wiku.

Meskipun rencananya pada bulan November vaksin Covid-19 akan segera disuntikkan untuk kalangan prioritas, dia meminta masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan vaksin saja. Menurutnya, protokol kesehatan tetap harus ditegakkan.

"Walaupun vaksin akan dipersiapkan atau diproduksi dalam waktu dekat, kita tidak boleh terlena. Kita harus memahami bahwa solusi penanganan Covid-19 bukan tunggal. Saat ini hal baik yg harus kita lakukan menegakan protokol kesehatan, ini upaya sederhana tp berdampak besar," kata dia.

Sebelum vaksin-vaksin tersebut diproduksi ke masyarakat, Wiku menegaskan bahwa pemerintah akan selalu memperhatikan keamanan masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya tahap penelitian dan pengembangan vaksin yang butuh proses cukup panjang. Proses penelitian dan pengembangan tersebut, kata Wiku juga berguna untuk menentukan rentang dosis yang aman untuk digunakan oleh masyarakat.

"Keamanan vaksin bagi masyarakat itu menjadi prioritas dan tugas utama pemerintah. Tahapan pengembangan bertujuan untuk memastikan keamanan pada masyarakat," kata dia.

Oleh karena itu, dia meminta masyarakat untuk selalu bersabar dan terus memantau informasi resmi dari Satgas Covid-19 terkait tahapan vaksinasi dengan cermat. Selain itu, ia juga meminta masyarakat untuk lebih mengenal istilah-istilah vaksinasi. Pasalnya, ia mengakui bahwa masih banyak masyarakat yang belum paham dan bertanya padanya. Guru Besar FKUI ini pun akhirnya menjelaskan dengan rinci mengenai istilah-istilah vaksinasi.

"Banyak orang menanyakan apa itu vaksin, vaksinasi, dan imunisasi?" kata dia

"Perlu kami jelaskan satu persatu, vaksin sendiri adalah sebuah produk zat yang dimasukan ke tubuh manusia, vaksin akan menstimulasi sistem imun di tubuh manusia untuk akhirnya bisa memproteksi/ melindungi manusia tersebut dari penyakit yang sedang kita lawan," ujar Wiku menjelaskan.

Wiku menjelaskan, Vaksinasi adalah suatu prosedur untuk memasukan vaksin ke dalam tubuh. Biasanya dengan cara disuntikkan untuk menstimulasi sistem imun tubuh, dan akhirnya bisa memproduksi imunitas terhadap suatu penyakit.

Wiku mengatakan bahwa vaksinasi jelas berbeda dengan imunisasi. Imunisasi adalah suatu proses memampukan tubuh, sehingga akhirnya terproteksi dari suatu penyakit melalui proses vaksinasi tersebut.

"Selanjutnya orang akan bertanya apa itu imunitas. Imunitas adalah kemampuan tubuh untuk memerangi penyakit. Apabila terjadi imunisasi maka akan terbentuk imunitas maka kita bisa terlindungi," ujarnya.

3 dari 4 halaman

Kesimpulan

Banner Cek Fakta: Salah
Perbesar
Banner Cek Fakta: Salah (Liputan6.com/Triyasni)

Postingan yang menyebut kelompok pertama penerima vaksin covid-19 sebagai kelinci percobaan adalah tidak benar.

4 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Lanjutkan Membaca ↓