Cek Fakta: China Akui Simpan Virus Corona di Laboratorium, Rahasia soal Kebocoran Terkuak?

Oleh Hanz Jimenez Salim pada 27 Mei 2020, 14:22 WIB
Diperbarui 27 Mei 2020, 16:48 WIB
Gambar Tangkapan Layar Kabar Hoaks Tentang Virus Corona

Liputan6.com, Jakarta - Kabar tentang China yang menyimpan dan membocorkan virus corona COVID-19 beredar di media sosial. Kabar ini disebarkan situs berita.nusantara.digital dengan judul artikel "Akhirnya China Akui Simpan Virus Corona di Lab, Rahasia Soal Kebocoran Terkuak, Ini Fakta Ilmiahnya".

Berikut isinya:

Misteri yang selama ini terus dipertanyakan mulai terkuak sedikit demi sedikit. Akhirnya China mengakui menyimpan sampel virus Corona di Laboraturiumnya di Wuhan.

Rahasia yang selama ini terus ditutup-tutupi pun terkuak sedikit demi sedikit. China tak bisa lagi menghindarinya karena fakta ilmiah yang sudah terbukti dari berbagai penelitian.

Asal muasal virus yang kini membuat pusing seluruh negara di dunia tersebut akhirnya terus terjawab. Salah satu teori yang banyak berkembang terkait asal muasal virus Corona penyebab Covid-19 adalah berasal dari kebocoran yang terjadi di laboratorium di Wuhan, China.

Ya, memang terlihat sangat kebetulan virus corona diketahui pertama kali menginfeksi manusia terjadi di Wuhan. Sementara di kota yang sama, terdapat sebuah laboratorium milik Institut Virologi China yang banyak meneliti mengenai perkembangan virus.

Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo bahkan mengaku memiliki bukti bahwa virus corona memang berasal dari lab tersebut.

Setelah sekian lama bungkam, petinggi dari Institut Virologi China akhirnya buka suara mengenai kondisi di laboratorium mereka.

Salah satu yang akhirnya mengejutkan, atau mungkin memuaskan dugaan, banyak pihak adalah pengakuan bahwa laboratorium tersebut memang memiliki virus Corona.

Bahkan, virus Corona tersebut diakui berasal dari kelelawar yang terdiri dari tiga galur (strain).

Namun, meski mengakui hal tersebut, mereka berani menjamin bahwa kebocoran adalah hal yang mustahil terjadi karena mereka memiliki suatu bukti yang kuat.

Teori konspirasi bahwa laboratorium di Wuhan bertanggung jawab dalam mewabahnya Covid-19 sebenarnya sudah menyeruak selama berbulan-bulan.

Namun, Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo kemudian melontarkannya ke permukaan, di mana mereka mengklaim sudah melihat bukti.

Lab itu kemudian menerima virus misterius tersebut pada 30 Desember, menentukan urutan genome, dan menginformasikannya kepada Badan Kesehatan Dunia (WHO) di 11 Januari.

Di wawancara yang disiarkan Sabtu malam (23/5/2020), Wang mengaku sebelum wabah ini ada, mereka tidak pernah menyimpan atau meneliti SARS-Cov-2.

"Faktatnya, seperti yang lainnya, kami malah tak tahu virus ini ada. Jadi, bagaimana bisa bocor jika kami saja tak pernah menyimpannya?" tanya dia.

WHO kemudian menyatakan bahwa Washington sama sekali tidak memberikan bukti konkret untuk mendukung klaim bahwa virus itu bocor.

Dalam wawancara dengan Scientific American, Shi mengungkapkan urutan genome SARS-Cov-2 tidak menyamai virus corona yang mereka punya.

Institut virologi China memang mengaku mempunyai tiga galur ( strain) virus corona yang berasal dari kelelawar.

Namun berdasarkan keterangan dari laboratorium, saat ini tidak ada koleksi mereka yang cocok dengan virus yang mewabah di dunia.

Awalnya peneliti berpikir Covid-19, yang sudah membunuh 340.000 orang di dunia, berasal dari kelelawar dan menular ke manusia melalui hewan perantara.

Karena itu dalam wawancaranya dnegan CGTN, Direktur Institut Virologi Wuhan, menyebut klaim AS bahwa virus corona bocor dari laboratorium mereka "kebohongan murni".

Dalam wawancara yang dilakukan pada 13 Mei, Wang Yanyi menyatakan mereka mempunyai galur virus yang berasal dari kelelawar.

"Kini kami mempunyai tiga strain virus hidup. Namun, kemiripan mereka dengan SARS-Cov-2 hanya mencapai 79,8 persen," papar Wang.

Salah satu tim peneliti mereka, dipimpin Profesor Shi Zhengli, sudah menangani coronavirus sejak 2004, dan fokus kepada sumber "pelacakan SARS".

Dilansir AFP Minggu (24/5/2020), mereka merujuk kepada Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) yang mewabah pada 2003-2004 silam.

"Kami tahu bahwa keseluruhan genome SARS-Cov-2 hanya sekitar 80 persen dari SARS. Jadi sangat berbeda," beber sang direktur.

Wang menuturkan, berdasarkan penelitian Profesor Shi terdahulu, mereka tidak memerhatikan jika ada virus yang hampir mirip dengan SARS.

 

2 dari 4 halaman

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kabar tentang China yang menyimpan dan membocorkan virus corona COVID-19. Penelusuran dilakukan menggunakan situs pencari Google Search dengan memasukkan kata kunci "Wang Yanyi". Wang Yanyi disebut dalam artikel tersebut, dia merupakan Direktur Institut Virologi Wuhan.

Hasilnya terdapat beberapa artikel yang membantah kabar tersebut. Satu di antaranya artikel berjudul "Controversial Wuhan lab admits it had THREE live coronavirus strains before pandemic – but insists none match Covid-19" yang dimuat situs thesun.co.uk pada 26 Mei 2020.

Dalam artikel tersebut dijelaskan, Direktur Institut Virologi Wuhan, Wang Yanyi menyebut bahwa mereka memiliki tiga jenis virus corona yang disimpan di laboratorium. Namun, tidak ada sampel virus yang cocok dengan COVID-19.

Wang pun mengecam teori konspirasi, yang menyebut bahwa COVID-19 yang telah membunuh hampir 350.000 jiwa di seluruh dunia dan menginfeksi 5,6 juta orang berasal dari laboratoriumnya. Dia menyebut segala klaim terkait adalah rekayasa belaka. 

"Faktanya, seperti orang lain, kami bahkan tidak tahu virus itu ada. Bagaimana itu bisa bocor dari laboratorium kami ketika kami tidak pernah memilikinya?" kata Wang.

Menurut artikel tersebut, klaim tentang China yang menyimpan dan membocorkan virus corona COVID-19 berasal dari pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Namun, Trump menolak memberikan bukti spesifik terkait tudingannya itu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak AS membuktikan klaim spekulatif bahwa virus corona berasal dari laboratorium, bukan alami. 

 

3 dari 4 halaman

Kesimpulan

Institut Virologi Wuhan memang menyimpan tiga jenis virus corona di laboratorium. Namun, pihak laboratorium tidak ada sampel virus yang cocok dengan COVID-19.

Banner cek fakta
Banner cek fakta (Liputan6/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Lanjutkan Membaca ↓