Cek Fakta: Benarkah Sejumlah Negara Mengakhiri Lockdown karena Saran dari Presiden Dunia?

Oleh Hanz Jimenez Salim pada 17 Mei 2020, 14:29 WIB
Diperbarui 20 Mei 2020, 19:29 WIB
Gambar Tangkapan Layar Berita Tentang Djuyoto Suntani

Liputan6.com, Jakarta - Klaim tentang Presiden The World Peace Committee, Djuyoto Suntani yang meminta kepada sejumlah negara untuk mengakhiri lockdown beredar di media sosial.

Kabar ini disebarkan situs sindikatpost.com dengan judul artikel "Presiden Dunia Mr Djuyoto Suntani Minta Indonesia Akhiri PSBB, Bumi Bersih Corona".

Berikut isinya:

Tokoh paling berpengaruh, paling dihormati dan dijunjung tinggi oleh masyarakat international pada 202 Negara yang menjabat Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani, Minta Pemerintah Republik Indonesia serta Sejumlah Gubernur dan Walikota untuk mengakhiri kebijakan PSBB (Perbatasan Sosial Berskala Besar).

“Saya atas nama masyarakat international minta di seluruh penjuru Dunia untuk mengakhiri kebijakan lock down, termasuk Pemerintah Republik Indonesia. Planet Bumi bersih dari virus corona, jangan sengsarakan masyarakat dengan kebijakan salah hanya karena terpengaruh isu virus corona yang diciptakan oleh konspirasi global,” tegas Presiden Dunia HE Mr Djuyoto Suntani (9/5/2020).

Presiden Dunia HE Mr Djuyoto Suntani memberi saran kepada banyak Negara yang langsung mencabut kebijakan lock down. Negara Swedia, Israel, Jepang, Arab Saudi, Uni Emirates Arab, Brazil, Equador, Kanada, dll, langsung menghentikan kebijakan Lock Down, setelah diberi masukan Presiden the World Peace Committee.

“Sebagai Pemimpin Dunia yang lahir di Indonesia, saya punya empati pada rakyat Indonesia. Tiap Hari saya dapat Laporan masyarakat yang menderita karena kebijakan PSBB. Aparat yang Jaga PSBB juga stress, bingung, tidak tahu jaga apa?. Saya Minta Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Daerah yang buat kebijakan PSBB, untuk mengakhiri PSBB,” tegas Presiden Dunia Mr Djuyoto Suntani.

Presiden Dunia HE Mr Djuyoto Suntani Minta Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk tidak takut pada tekanan konspirasi global yang menciptakan isu sesat tentang virus corona.

“Jangan takut dan kawatir dengan tekanan konspirasi global yang menciptakan isu sesat tentang virus corona. Takutlah pada Tuhan yang menciptakan kita. Raja Salman di Arab Saudi setelah Saya sadarkan, langsung akhiri kebijakan Lock Down,” tegas Tokoh paling berpengaruh di Planet Bumi ini.

 

2 dari 5 halaman

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim Djuyoto yang meminta kepada sejumlah negara untuk mengakhiri lockdown. Satu di antaranya Kanada.

Penelusuran dilakukan menggunakan situs pencari Google Search dengan memasukkan kata kunci "Justin Trudeau eases lockdown". Hasilnya terdapat beberapa artikel yang menjelaskan mengenai rencana pelonggaran lockdown di Kanada.

Satu di antaranya artikel berjudul "Trudeau and premiers agree: This is what's necessary for provinces to start reopening" yang dimuat situs ctvnews.com pada 1 Mei 2020.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa beberapa provinsi di Kanada telah merencanakan dan melaksanakan pelonggaran lockdown secara bertahap. Pemerintah federal, provinsi, dan teritorial di Kanada telah sepakat dengan berbagai pertimbangan.

Kepala Pejabat Kesehatan Masyarakat di Kanada, dr. Theresa Tam mengatakan, bahwa penyebaran kasus COVID-19 telah mereda di beberapa provinsi. Dalam artikel tersebut tidak disebutkan bahwa rencana pelonggaran lockdown karena saran dari Djuyoto.

Selain Kanada, ada sejumlah negara lain yang berencana melonggarkan lockdown. Di antaranya Jepang, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Israel. Keempat negara tersebut beralasan pelonggaran lockdown dilakukan karena menurunnya jumlah pasien COVID-19 dan untuk memulihkan kondisi ekonomi.

Namun ada sejumlah negara yang menolak lockdown. Negara-negara tersebut di antaranya Swedia dan Brasil. Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, memperingatkan bahwa langkah isolasi sosial yang lebih ketat dapat menghancurkan negara. Jair Bolsonaro tidak menyebut penolakan lockdown merupakan saran dari Djuyoto.

Sedangkan Pakar penyakit pemerintah Swedia, Anders Tegnell berkata, strategi tanpa lockdown bisa sukses karena sistem kesehatan Swedia yang kuat. Pemerintah Swedia juga tidak menyebut alasan mereka menolak lockdown karena saran dari Djuyoto.

"(Kebijakan) Ini berfungsi dalam beberapa aspek," ujar Tegnell seperti dikutip BBC.

"Ini bisa berfungsi karena sistem kesehatan kita bisa menanggulanginya. Selalu ada setidaknya 20 persen kasur perawatan intensif yang kosong dan bisa merawat pasien COVID-19 kita," ucapnya.

 

Siapa Djuyoto Suntani?

Dalam artikel berjudul Presiden Komite Perdamaian Dunia Djuyoto Suntani Minta PSBB Diakhiri, Sengsarakan Rakyat yang dimuat Liputan6.com disebutkan, Djuyoto Suntani menjabat sebagai Presiden Komite Perdamaian Dunia atau President of The World Peace Committee (TWPC) yang ia dirikan sejak 7 Maret 1997 di Basel, Swiss.

Dalam situs The World Peace Committee, www.twpc202.org, organisasi ini didirikan di Kota Basel, Swiss pada 7 Maret 1997. Nama Djuyoto Suntani disebut sebagai ketua (president) sekaligus pendirinya.

Sementara, berdasarkan penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, tidak ada gelar Presiden Dunia atau President of the World yang dikenal dana tata hubungan internasional. 

 

3 dari 5 halaman

Repons Pihak Presiden The World Peace Committee

Hudi Wantoro, Direktur Program The World Peace Committee merespons artikel cek fakta ini. Berikut isinya:

Terkait Beberapa Negara Mengakhiri Lock Down atas saran HE Mr Djuyoto yang dianggap tidak benar dalam tulisan Berita Liputan6.com kami menjelaskan bahwa tulisan itu sebuah opini dan terkesan menyesatkan karena nara sumber yang diambil dari pencarian berita di Google. Tidak langsung ke nara sumber yang sah mewakili negara tersebut.

Jadi Terkait hal itu kami tegaskan :

1. Pernyataan HE Mr Djuyoto Suntani yang disampaikan ke masyarakat dunia bahwa beliau menyarankan beberapa negara untuk Mengakhiri Lock Down itu benar adanya.

2. Secara Etika Diplomatic, suatu Negara tidak mungkin bicara ke publik bahwa mereka mengambil kebijakan karena tekanan dan saran pihak lain. Ini menyangkut harga diri suatu Negara. Kedua :

Terkait penyebutan Presiden Dunia yang di tulis Liputan6.com tidak ada penyebutan Presiden Dunia dalam tata internasional. Dari hal itu kami Tegaskan

1. Liputan6.com telah membuat opini yang menyesatkan masyarakat dunia.

2. Penyebutan Presiden Dunia (World President) biasa dilakukan oleh semua Pengurus the World Peace Committee di seluruh Dunia. Itu Etika dan sudah Tradisi dalam the World Peace Committee.

3. The World Peace Committe adalah Organisasi Dunia, dan mempunyai aturan dan Etika tersendiri tanpa bisa ditekan atau dipaksa mengikuti aturan organisasi dunia lainnya. Suatu penyebutan Jabatan disuatu organisasi adalah hal yang biasa, sama halnya anggota dan pengurus the World Peace Committee 2020 negara menyebut HE Mr Djuyoto Suntani sebagai Presiden Dunia. Tidak ada yang salah dalam penyebutan itu.

4 dari 5 halaman

Kesimpulan

Klaim Presiden The World Peace Committee Djuyoto Suntani yang sejumlah negara mengakhiri lockdown ternyata tidak terbukti. Sejumlah negara yang akan mengakhiri lockdown menyatakan angka COVID-19 sudah mulai menurun.

Selain itu, alasan ekonomi juga membuat sejumlah negara tersebut melonggarkan lockdown. Mereka tidak menyebut pelonggaran lockdown karena saran dari Djuyoto. 

Berdasarkan penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, tidak ada gelar Presiden Dunia atau President of the World yang dikenal dana tata hubungan internasional.

Banner Cek Fakta: Salah
Banner Cek Fakta: Salah (Liputan6.com/Triyasni)
5 dari 5 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Lanjutkan Membaca ↓