Cek Fakta: 2 Dokter Amerika Klaim Tak Perlu Ada Karantina di Tengah Pandemi COVID-19, Faktanya?

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 06 Mei 2020, 19:15 WIB
Diperbarui 06 Mei 2020, 19:16 WIB
Video Pendapat Dokter California Tentang COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Viral pernyataan dua dokter yang menyebut karantina orang sehat untuk memutus penularan virus corona baru (COVID-19) tidak tepat, sebab virus tersebut tidak mematikan akan mati sendiri.

Video tersebut salah satunya diunggah oleh akun Facebook Pipa Zei, pada 3 Mei 2020.

Berikut transkrip video tersebut:

"Mereka dipaksa memasukan daftar diagnostik

wartawan: Siapa yang memaksa?

Dokter: Mungkin datang dari administrasi RS. Saya tidak bertanya ke mereka secara spesifik, tapi mereka bilang mereka dipaksa.

Menambahkan Covid ke daftar diagnostik, ketika virus itu tidak berhubungan dengan penyebab utama kematian.

Mereka mati karena COPD, meski terinfeksi Covid. Covid tidak membunuh, (menghisap) tembakau 25 tahun yang membunuh.

Mengapa kita mengkarantina orang sehat? Jika anda muda dan sehat, mengapa mengkarantina diri sendiri?. Itu tidak masuk akal. Kita harusnya mengkarantina yang sakit

25 persen pasien denga Covis tanpa gejala, makanya kita mendorong tes masif Untuk membuka ekonomi , kita harus melakukan tes masif. Itu nomor satu, tidak mungkin disanggah.

Tapi secara historis, di masa kuno, ada leprosy microbacteria laprae. Saat itu mereka mengisolasi orang yang sakit.

Merka tidak mengisolasi semua orang.

Jadi mengisolasi orang sehat tidak masuk akal dalam pendapat kami.

Ada dua cara menghilangkan virus, yaitu membiarkanya mati sendiri atau dengan kekebalan imun. Selama ratusan tahun kita bergantung pada kekebalan imun. Virus membunuh orang, flu membunuh orang, covid membunuh.

Dan kita sudah lihat, perbandingan data antara yang dilockdown dan tidak. kita punya data masif. secara statistik perbedaanya tidak signifikan Jadi kenapa kita harus lockdown?

YA (lebih aman di luar rumah) saya berpergian tanpa masker.

Sekali lagi: anda mau sistem imun tubuh anda terbangun atau tidak?

Yang mengembangkan sistem imun kita aDalah virus dan baketeri, titik. Itulah cara menguatkanya.

ada bakteri normal yang harus kita dekati. Bakteri atau virus yang tidak ganas adalah sahabat kita.

Mereka melindungi kita dari virus dan bakteri jahat.

kalau andalihat kulit dr Erickson atau kulita saya, ada strep dan staph (infeksi kulit akibat bakteri) strep dan stapj tidak buruk..

Mereka melindungi kita dari infeksi oportunitikitulah mengapa bayi yang lahir selaMA 3-6 bulan mereka sangt lemah terhadap infeksi oporunistik

Karena itu bayi berumur 1 bulan demam di UGD, kita melakukan spinal tap, rontgen, tes darah, tes urin dll.Tapi kalau anda yang demam sya tidak akan melakukan hal yang sama. karena , bayi belum terpapar bakteri dalam flora normal di lingkungan,sementara anda sudah punya, karna anda berinteraksi pergi ke pom bensin ke home depot itulah bedanya.

Kita semua butuh flora normal. Dr Erikson mengatakan jika anda dima di rumah selama 2-3 bulan, andak aka kehilangan flora normal.Jadi sya jamin, jika kita buka lockdown (setelah beberapa bulan akan ada sangat banyak orang yang jatuh sakit.Penyakit akan merajalela karena sistem imun kita melemah. Itu ilmu imonologi dan virologi dasar.

Saya punya beberapa kesimpulan.. Jika saya melihat prinsip-perinsip dasar mikrobiologi..

apakah kita harus mengisolasi diri di rumah? Jawaban kami, tidak. Apakah bisnis harus ditutup? Tidak.

Apakah kita harus mengetes masyarakat dan membiarkan mereka balik bekerja ? Ya.

efek samping dari lockdown seperti kekerasan terhadap anak, alkohol, kerugian ekonomi, adalah hal yang jauh lebih berbahaya.

Bagi masyarakat daripada virus yang terbukti mirip dengan flu musiman yang kita alami setiap tahun.

Kita harus melakukan sesuatu agar penutupan ekonomi tidak terjadi lagi kami ingin kita semua mengerti bahwa karantina adalah untuk orang yang sait bukan orang sehat.

Kaminingin memastikan, jika anda ingin memainkan hak-hak konstitusi warga, anda harus punya alasan saintifik yang baik,bukan cuma teori.

Kita juga akan bekerja untuk menemukan vaksin. Hal yang paling penting adalah kita harus kembali membuka rumah sakit, dokter dan perawat kembali bekerja.

Saya tau ada rumhasakit lokal yang dua latianya ditutup. Kita mempekerjakan staf minimum dalam situasi berat, ini salah.

Saya sudah bekerjasama dengan beberapa pejabat, saya sudah bicara dengan Kepala CDPH (California Public Health)."

Pada unggahan video, akun Facebook Pipa Zei memberikan keterangan sebagai berikut:

"Ahli virus & ahli kesehatan lokal udah sering ngasih tau kalau covid 19 itu biasa aja, nggak berbahaya, apalagi mematikan, pokoknya bisa sembuh dengan sendirinya, tapi sayang banyak yang nggak percaya dan malah dinyinyirin.Ini nih dokter bule juga ngomong serupa bahkan ngasih data lebih lengkap & detail. Intinya covid 19 itu biasa aja, nggak mematikan, bisa sembuh sendiri. Mereka juga mengatakan kalau banyak yang meninggal karena penyakit lain tapi dimasukkan ke daftar covid 19 (kirain di sinih aja yang begitu). Lockdown / PSBB justru menimbulkan dampak yang sangat jauh lebih buruk dibanding covid 19.

Kalau masih percaya bahwa covid 19 itu mematikan, kebangetan banget deh, masih mau disanggah juga ini pendapat dokter bule?"

Benarkah pendapat dua dokter asal California tersebut? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

2 dari 4 halaman

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kebenaran pendapat dua dokter terkait COVID-19, dengan menangkap layar video untuk digunakan sebagai bahan penelusuran melalui Google Reverse Image.

Penelusuran Video Pendapat Dokter California Tentang COVID-19

Penelusuran mengarah pada artikel berjudul "YOUTUBE CENSORS VIRAL VIDEO OF DOCTORS CRITICIZING ‘STAY-AT-HOME’ ORDER" yang dimuat situs infowars.com, pada 28 April 2020.

situs infowars.com menyatakan, YouTube telah menyensor video viral di mana dua dokter, yaitu Dr. Dan Erickson and Dr. Artin Massihi, pemilik pusat perawatan darurat di California, mengkritik logika perlunya tinggal di rumah di tengah wabah virus corona

Video itu dihapus karena melanggar persyaratan layanan YouTube.

CEO YouTube Susan Wojcicki mengatakan kepada CNN bahwa perusahaan akan melarang konten video yang bertentangan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Penelusuran kemudian dilanjutkan menggunakan Google Search menggunakan kata kunci 'Dr. Dan Erickson and Dr. Artin Massihi'.

Penelusuran mengarah pada artikel berjudul "Cue the debunking: Two California doctors go viral with dubious COVID test conclusions" dimuat situs mercurynews.com, pada 28 April 2020.

Dalam situs mercurynews.com para ahli kesehatan masyarakat dengan cepat menyanggah klaim kedua dokter tersebut. 

Para ahli menyebut, temuan para dokter tersebut keliru dan penuh dengan kesalahan statistik. Klaim keduanya dianggap contoh dari jenis informasi yang menyesatkan.

Menurut Dr. Carl Bergstrom, ahli biologi dengan spesialisasi dalam pemodelan penyakit menular dari University of Washington mengatakan, kedua dokter seharusnya tidak mengasumsikan bahwa pasien yang mereka tes atau mendatangi lokasi pengujian COVID-19, serta mendapatkan perawatan atas gejala-gejala yang mereka alami -- sebagai representatif dari populasi secara general.

Dr. Carl Bergstrom menyebut, itu sama saja dengan membuat perkiraan tinggi badan rata-rata orang Amerika Serikat dari tinggi para pemain basket NBA yang menjulang.

Apalagi, dia menambahkan, studi paling kredibel terkait tingkat kematian akibat COVID-19 nyatanya lebih tinggi dari yang diajukan dua dokter itu.

"Mereka menggunakan metode yang menggelikan untuk mendapatkan hasil yang sungguh tidak masuk akal," kata Bergstrom.

American College of Emergency Physicians dan the American Academy of Emergency Medicine bahkan mengeluarkan pernyataan yang mengutuk pendapat yang dikeluarkan Dr. Daniel Erickson dan Dr. Artin Messihi.

Namun, seperti dikabarkan www.mercurynews.com, pernyataan kedua dokter viral. Diberitakan sebuah stasiun lokal, video konferensi pers keduanya dilihat 4,3 juta kali di YouTube.

Miliarder pendiri Tesla, Elon Musk, bahkan memuji kedua dokter di akun Twitternya yang punya 33 juta pengikut.

 

 

Pemilik akun Facebook Pipa Zei mengatakan, kedua dokter menyebut COVID-19 adalah penyakit biasa aja, tidak mematikan, dan bisa sembuh sendiri. Keduanya juga mengatakan bahwa banyak yang meninggal karena penyakit lain tapi dimasukkan ke daftar COVID-19. 

Benarkah COVID-19 penyakit biasa dan tidak mematikan? 

Data dari Johns Hopkins Coronavirus Resource Center pada 6 Mei 2020 menginformasikan sudah ada lebih dari 3,6 juta warga dunia terinfeksi COVID-19. Amerika Serikat ada di posisi tertinggi dengan lebih dari 1,2 juta kasus.

Sementara, lebih dari 257 ribu orang meninggal dunia di seluruh dunia, dilaporkan akibat COVID-19.

Data COVID-19 6 Mei 2020 (Johns Hopkins Coronavirus Resource Center)

3 dari 4 halaman

Kesimpulan

Pendapat yang dikeluarkan Dr. Daniel Erickson dan Dr. Artin Messihi dari California dibantah para ahli kesehatan dan dikutuk American College of Emergency Physicians dan the American Academy of Emergency Medicine. 

Youtube juga telah menghapus video yang menayangkan pendapat kedua doker tersebut, sebab melanggar persyaratan layanan YouTube dan bertentangan dengan rekomendasi WHO.

 

Banner Cek Fakta: Salah
Banner Cek Fakta: Salah (Liputan6.com/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Lanjutkan Membaca ↓