[Cek Fakta] Video Lama Tentang Gelombang Tinggi Kembali Viral

Oleh Hanz Jimenez Salim pada 29 Jul 2019, 17:59 WIB
[Cek Fakta] Gambar Tangkapan Layar Video Gelombang Tinggi

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah daerah dilaporkan dilanda bencana alam pada beberapa hari terakhir. Di tengah bencana alam itu, viral sebuah video tentang bencana gelombang tinggi di sejumlah daerah.

Video ini diunggah oleh akun facebook Muji Yono pada 24 Juli 2019 lalu. Video berdurasi 1 menit 36 detik itu merupakan video pemberitaan dari iNews TV.

Dalam pemberitaan itu disebutkan bahwa gelombang tinggi terjadi di kawasan pesisir Jawa dan Bali.

Video tersebut memperlihatkan beberapa bangunan roboh akibat terjangan ombak. Selain bangunan, terdapat Pura di Bali yang turut rusak diterjang ombak.

Konten yang diunggah oleh akun facebook Muji Yono telah 2.217 kali dibagikan dan mendapat 58 komentar warganet.

2 of 4

Penelusuran Fakta

Setelah ditelusuri, kabar video yang diunggah akun facebook Muji Yono ternyata video lama. Bukan kejadian yang baru saja terjadi.

Fakta ini sebagaimana dikutip dari akun YouTube RCTI Seputar iNews pada 25 Juli 2019 lalu dengan judul "Ngeri!! Gelombang Tinggi 8 Meter Terjang Pantai Gunung Kidul - SIP 26/07".

Peristiwa gelombang tinggi di pesisir Jawa dan Bali terjadi 25 Juli 2018, bukan 24 Juli 2019, sebagaimana yang diunggah oleh akun facebook Muji Yono.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan gelombang pasang yang terjadi di laut selatan Jawa dan Bali bukan disebabkan karena pengaruh supermoon. Gelombang tinggi tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh tiupan angin kencang musim angin timur.

Fakta ini dilihat dari situs Liputan6.com dengan judul artikel "Bukan Supermoon, Ini Pemicu Gelombang Pasang di Pesisir Selatan".

Liputan6.com, Cilacap - Ombak perairan selatan Jawa dan Samudera Hindia belakangan mengganas. Bahkan, Selasa, 11 Juni 2019 lalu, gelombang pasang melabrak dan memorakporandakan pesisir selatan Kebumen dan berdampak di Cilacap.

Saat itu, sedikitnya 120 warung sederhana yang terbuat dari bambu berantakan. Pada musim lebaran, warga sekitar pantai wisata di Kebumen memang kerap membuat warung dadakan.

Kadang kala, warung itu didirikan di kawasan sempadan pantai. Makanya, saat ada gelombang pasang yang menerjang daratan kisaran 50 meter, warung-warung itu roboh dan rusak.

Fenomena gelombang pasang yang sempat terekam video itu pun meramaikan dunia maya. Lantas, ada yang menghubungkan terjadinya gelombang pasang ini dengan supermoon seperti yang terjadi pada akhir 2018 dan awal 2019 lalu.

Supermoon adalah fenomena ketika bulan berada di titik terdekat dengan bumi. Kondisi ini bisa memicu gelombang rob saat bulan penuh.

Supermoon bisa menjadi malapetaka jika bersamaan dengan terjadinya sejumlah faktor regional dan lokal. Pada Desember 2018 dan Januari 2019 misalnya, supermoon memicu banjir rob dan merusak sejumlah kawasan wisata Cilacap maupun Kebumen.

Namun, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan gelombang pasang yang terjadi di laut selatan kali ini bukan lah merupakan pengaruh supermoon. Gelombang tinggi tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh tiupan angin kencang musim angin timur.

 

3 of 4

Kesimpulan

Video tentang gelombang tinggi yang diunggah akun facebook Muji Yono bukan terjadi pada akhir Juli 2019 ini. Video tersebut merupakan kejadian pada Juli 2018 silam.

Akun facebook Muji Yono memviralkan video tersebut seakan-akan peristiwanya baru saja terjadi.

Banner Cek Fakta: Salah
Banner Cek Fakta: Salah (Liputan6.com/Triyasni)
4 of 4

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama 49 media massa lainnya di seluruh dunia.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi hoax yang tersebar di masyarakat.

Jika anda memiliki informasi seputar hoax yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Lanjutkan Membaca ↓