[Cek Fakta] Benarkah Pemerintah Hentikan Program Pencetakan Alquran? Ini Faktanya

Oleh Hanz Jimenez Salim pada 10 Jul 2019, 14:42 WIB
[Cek Fakta] Gambar Tangkapan Layar Tentang Berita Percetakan Alquran

Liputan6.com, Jakarta - Kabar tentang program percetakan Alquran dihentikan oleh pemerintah belakangan viral di media sosial. Kabar ini beredar lewat sebuah gambar tangkapan layar artikel berita berjudul "Program Percetakan Alquran Dihentikan, Mantan Menag 'Menangis" yang dimuat situs Pikiran Lampung.

Dalam gambar itu terdapat foto mantan Menteri Agama M Maftuh Basyuni, dan ditambahkan sebuah narasi. Berikut isinya:

Astaghfirullah Wahai Umat Islam Bangkit...!!!

KIAN HARI SEMAKIN GAMBLANG KEMANA ARAH KIBLAT REZIM INI, LAMBANG PKI BERTEBARAN. YAHUDI DIAKUI, SYIAH DIPELIHARA SEMENTARA PERCETAKAN ALQURAN DIHENTIKAN.

Gambar ini kemudian diunggah oleh akun Facebook bernama Nia Rahma pada 8 Juli 2019.

Konten yang diunggah akun Facebook Nia Rahma telah 6.500 kali dibagikan dan mendapat 64 komentar warganet.

2 of 4

Penelusuran Fakta

Setelah ditelusuri, kabar tentang program percetakan Alquran yang dihentikan oleh pemerintah ternyata tidak sepenuhnya benar.

Fakta ini sebagaimana dikutip dari situs Liputan6.com dengan judul artikel "Percetakan Alquran Pemerintah Kembali Beroperasi di Bogor".

 

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin merilis percetakan Alquran di Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (25/10/2016) sore.

Percetakan Alquran milik Kementerian Agama ini sempat dihentikan pengoperasiannya selama satu tahun karena tidak mendapatkan anggaran dari pusat.

Percetakan Alquran yang digagas dan diresmikan oleh Almarhum mantan Menteri Agama Maftuh Basyuni pada 2009 ini, diharapkan mampu memenuhi pengadaan satu rumah umat Islam memiliki satu Alquran dan meminimalisasi kesalahan penulisan Alquran.

"Permintaan Alquran di Indonesia sangat tinggi. Dengan beroperasinya pencetakan dan bisa memproduksi sendiri, tentu membantu memenuhi permohonan tersebut," kata Lukman.

Namun, ia berharap Unit Pencetakan Alquran (UPQ) ini mendapat dukungan dari wakil rakyat di Senayan untuk mengalokasikan anggaran. Sebab, pada 2015 UPQ tidak mendapatkan anggaran sehingga produksi Musaf Alquran sempat terhenti.

"Untuk memperbanyak cetakan Alquran tentu harus diimbangi dengan anggarannya," ujar Lukman.

Lukman mengaku bangga karena bisa mencetak Mushaf Alquran standar Indonesia. Sebab selama ini ayat suci umat Muslim dicetak oleh pihak swasta.

"Selama ini Alquran dicetak oleh beberapa penerbit, dan ketika ada kesalahan mereka selalu lempar tanggung jawab," kata dia.

Akan tetapi, sekarang ini Alquran resmi dicetak oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah binaan Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama, sehingga pemerintah bertanggungjawab jika terjadi kesalahan cetak.

"Karena pencetakan ini juga jadi rujukan semua pihak, karenanya perlu kehati-hatian, kecermatan, dan ketelitian," terang Lukman.

Ketua Unit Percetakan Alquran Fakhruddin menjelaskan, dalam dua bulan ke depan akan mencetak 35.000 Mushaf Alquran.

"UPQ sudah dilengkapi mesin cetak hingga finishing dengan kapasitas produksi 15.000–17.500 mushaf per bulan," beber Lukman.

 

 

Isu tentang dihentikannya program percetakan Alquran sebenarnya pernah beredar pada 2015 lalu.

Faktanya, program percetakan Alquran memang sempat berhenti pada 2015, namun sifatnya hanya sementara. Hal ini disebabkan keterbatasan anggaran. 

Setahun kemudian, Ppmerintah melalui Kementeria Agama (Kemenag) kembali mengaktifkan program percetakan Alquran. Pemerintah telah menyetujui penggunaan APBN 2016 untuk melanjutkan program tersebut.

Fakta ini sebagaimana dikutip dari situs merdeka.com dengan judul "Mengintip percetakan Alquran yang disebut nyaris mati".

 

Merdeka.com - Lahirnya Lembaga Percetakan Alquran (LPQ) milik Kementerian Agama di Jalan Raya Puncak, Km 65, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, yang diresmikan pada 15 Nopember 2008 menjadi hal yang menggembirakan bagi jutaan umat Islam di Indonesia. Percetakan yang digagas dan diresmikan oleh Mantan Menteri Agama M Maftuh Basyuni diharapkan mampu memenuhi pengadaan dan meminimalisasi kesalahan penulisan Alquran.

Namun harapan untuk program satu rumah umat Islam dapat memiliki satu Alquran, dalam perjalannya segera masuk 'liang kubur' alias mati tak terurus. Menteri agama periode Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I, Maftuh tidak habis pikir percetakan Alquran milik Kementerian Agama (Kemenag) segera 'dikubur' dan mesin-mesinnya yang bernilai Rp 28 miliar segera jadi besi tua.

"Ya, jadi mesin besi karatan dan besi tua," ungkap Maftuh seperti dilansir Antara, Rabu malam.

Menurut Maftuh ada pihak di lingkungan Kementerian Agama yang tidak suka dengan percetakan Alquran berjalan dengan baik. Alasannya kata dia, bila percetakan itu berjalan bagus tentu ke depan pengadaan Alquran tidak lagi dilakukan dengan tender. Jika dengan tender, tentu ada komisinya.

"Ujungnya, ya komisi," sebut Maftuh yang saat itu pembicaraan kerasnya didengar penulis biografinya, Lingga Akbar.

Untuk cetakan pertama, yang secara operasional mulai berproduksi pada Mei 2009, LPQ berhasil mencetak 1,5 juta Alquran. Selama bulan Ramadan, biasanya jumlah pesanan meningkat melebihi bulan lain.

"Saya mencari mesin cetak terbaik. Saat itu, saya minta rekomendasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," kenang Maftuh dengan nada meninggi.

Dibangun di atas lahan seluas 1.530 meter persegi dengan biaya hingga Rp 30 miliar dari anggaran negara, LPQ dilengkapi berbagai alat percetakan modern. Kapasitas produksinya sampai 1,5 juta eksemplar per tahun.

Saat Merdeka.com mendatangi LPQ di Ciawi memang tidak banyak aktivitas di sana. Pos penjagaan pintu masuk kompleks LPQ pun tampak sepi. Tidak ada kegiatan apa pun di kompleks percetakan yang terletak satu area di Wisma Ciawi milik Kemenag dan suara-suara mesin percetakan pun tidak terdengar.

Ketua Unit Percetakan Alquran, Fakhruddin menjelaskan memang saat ini tidak ada produksi untuk mencetak karena pada 2015 pihaknya tidak mendapatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan baru diberikan anggaran pada 2016. Dia juga menceritakan manajemen UPQ saat ini menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama berdasarkan Peraturan Menteri Agama No. 27/2013 tertanggal 28 Maret 2013.

"Kenapa dibilang 2015 tidak memproduksi Alquran karena memang kita tidak mendapat anggaran APBN 2015 dan baru anggarkan pada 2016 itu pun masih ada kendala pegawai, pengelola DIPA (Daftar Isian Pelaksana Anggaran)," kata Fakhruddin ketika ditemui di kantor UPQ, Jalan Raya Puncak, Km 65, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/8).

Mesin-mesin cetak yang terdapat di percetakan pun kata dia, sudah kembali bisa digunakan dan siap untuk mencetak Alquran pada Oktober mendatang. "Mesin cetak yang dibilang pak Maftuh akan dikubur itu tidak benar, kita sudah service dan sudah siap digunakan, tinggal menunggu kertas saja yang kita tenderkan," ungkap Fakhruddin sambil menunjukkan beberapa mesin cetak di ruang percetakan Alquran.

Karena percetakan Alquran sudah diurus oleh Dirjen Bimas Islam, kata Fakhruddin manajemen percetakan pun berubah. Mulai dari pegawai yang akan mencetak Alquran hingga hafiz yang mengoreksi isi Alquran tersebut.

"Karena manajemen berubah ya otomatis kita harus rombak semua dan itu alasan saat ini tidak ada aktivitas. Kita perlu merekrut kembali pegawai yang akan bekerja di sini, yang kapasitasnya masing-masing 80 persen PNS dan 20 persen swasta," tutur Fakhruddin.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Machasin juga membantah bahwa mesin cetak LPQ tidak jalan. Menurut dia, sampai saat ini mesin-mesin yang ada masih beroperasi.

"Mesin cetak utama siap operasi, tetapi kapasitasnya tidak didukung dengan mesin-mesin untuk finishing. Sekarang sedang dilakukan proses pembelian mesin-mesin pendukung supaya kapasitas produksinya bisa lebih cepat," jelas Machasin ditemui di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat.

Pada 2015, Kementerian Agama telah mengalokasikan anggaran pengadaan kitab suci agama Islam dengan jumlah 1,5 juta eksemplar. Jumlah itu terdiri dari 700.000 mushaf Alquran, 500.000 juz Amma, serta 300.000 Alquran dan terjemahannya.

"Insya Allah mesin cetak milik Unit Percetakan Alquran (UPQ) ini akan mulai jalan kembali untuk mencetak 35.000 mushaf Alquran yang akan dimulai pada bulan September 2016 setelah bahan-bahan cetak tersedia seperti kertas yang sekarang sedang ditenderkan," tutup Machasin.

 

 

3 of 4

Kesimpulan

Program percetakan Alquran memang sempat berhenti pada 2015, namun sifatnya hanya sementara. Hal tersebut disebabkan keterbatasan anggaran.

Kabar yang menyebut pemerintah menghentikan program percetakan Alquran tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.

Isu lama ini kembali disebarkan dan dikait-kaitkan dengan terpilihnya Jokowi sebagai presiden untuk periode kedua.

Banner Cek Fakta: Salah
Banner Cek Fakta: Salah (Liputan6.com/Triyasni)
4 of 4

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama 49 media massa lainnya di seluruh dunia.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi hoax yang tersebar di masyarakat.

Jika anda memiliki informasi seputar hoax yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Lanjutkan Membaca ↓