[Cek Fakta] Benarkah Fenomena Aphelion Sebabkan Embun Es di Dieng?

Oleh Edmiraldo Siregar pada 09 Jul 2018, 12:21 WIB
Diperbarui 09 Jul 2018, 12:21 WIB
banner cek fakta  embun es Dieng
Perbesar
banner cek fakta embun es Dieng (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Embun es atau yang dikenal warga setempat sebagai bun upas kembali menyelimuti Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, 6 Juli 2018 lalu. Embun es waktu itu lebih tebal dibanding kemunculan sebelumnya, akhir Juni 2018.

Kawasan yang diselimuti es pun semakin luas. Salah satunya, Kompleks Candi Arjuna, Dieng. Embus es juga tampak di Banjarnegara hingga Bukit Sikunir Desa Sembungan, Kejajar, Wonosobo.

Embun es ini menempel di rerumputan sehingga tampak seperti salju.

Pengurus Paguyuban rumah penginapan Desa Sembungan Bukhori mengatakan, kemunculan embun es lebih tebal ini telah diperkirakan warga sejak beberapa hari sebelumnya. Indikasinya, kemunculan awan tebal menggelayut selama tiga hari berturut-turut.

Mendadak, pada Kamis malam, 5 Juli 2018, suhu turun drastis, meski tak jua bertiup angin, seperti hari-hari biasanya. Suhu turun hingga 5 derajat celcius.

Lalu pada Jumat subuh, 6 Juli 2018, embun es telah terbentuk di kawasan yang cukup luas. "Mulai dari Sikunir, Dieng, kena semua," ucapnya.

Klaim

Fenomena embun es di Dieng itu pun memunculkan beragam spekulasi. Terutama bagi para warganet di media sosial.

Banyak di antaranya yang mengait-ngaitkan kemunculan embus es itu dengan fenomena aphelion. Sebuah kondisi ketika posisi bumi berada pada titik terjauh dengan matahari.

Salah satunya, akun Twitter @10ne_Juventini yang mengaku menerima  informasi seputar fenomena aphelion yang terjadi, 4-6 Juli. Termasuk di Dataran Tinggi Dieng.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Bantahan LAPAN

Embun es Dieng berpeluang tinggi muncul pada Juli-Agustus 2018. (Foto: Liputan6.com/Pemdes Dieng/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Embun es Dieng berpeluang tinggi muncul pada Juli-Agustus 2018. (Foto: Liputan6.com/Pemdes Dieng/Muhamad Ridlo)

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan, kondisi cuaca yang terjadi saat ini tak ada hubungannya dengan aphelion. Suhu udara itu dipengaruhi distribusi panas di bumi akibat perubahan tahunan posisi matahari.

"Saat ini matahari berada di belahan utara, sehingga belahan selatan mengalami musim dingin," kata Thomas dalam akun Facebooknya yang dikutip Liputan6.com, Jakarta, Jumat (6/7/2018).

Dia menambahkan, tekanan udara di belahan selatan juga lebih tinggi daripada belahan utara. Akibatnya angin bertiup dari selatan ke utara. Angin ini pula yang mendorong awan menjauh ke utara sehingga di Indonesia mengalami musim kemarau.

"Di Indonesia pada musim kemarau saat ini angin bertiup dari arah Australia yang sedang musim dingin. Itu sebabnya masyarakat di Jawa pada saat ini mengalami udara yang dingin," ujar dia.

"Tidak ada hubungannya dengan aphelion, karena perubahan jarak matahari ke bumi tidak terlalu signifikan mempengaruhi suhu permukaan bumi," imbuh Thomas.

 


Penjelasan BMKG

Keindahan embun es Dieng layaknya hamparan salju di negari empat musim. (Foto: Liputan6.com/Istimewa/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Keindahan embun es Dieng layaknya hamparan salju di negari empat musim. (Foto: Liputan6.com/Istimewa/Muhamad Ridlo)

Deputi Bidang Meteorologi Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mulyono R Prabowo dalam keterangannya menyatakan penurunan suhu pada Juli ini lebih dominan karena dalam beberapa hari terakhir, di wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT, kandungan uap di atmosfer cukup sedikit.

Hal ini terlihat dari tutupan awan yang tidak signifikan selama beberapa hari terakhir. Secara fisis, uap air dan air merupakan zat yang cukup efektif dalam menyimpan energi panas.

Rendahnya kandungan uap di atmosfer ini menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer dan energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di atmosfer lapisan dekat permukaan bumi tidak signifikan.

"Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau relatif lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan," ucapnya, dikutip dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Jumat malam.

Menurut dia, kondisi ini bertolak belakang dengan kondisi saat musim hujan atau peralihan di mana kandungan uap air di atmosfer cukup banyak, sehingga atmosfer menjadi semacam "reservoir panas" saat malam hari.

Selain itu, pada Juli ini wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin dan kering. Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia semakin signifikan.

"Akibatnya, terjadi penurunan suhu udara yang cukup signifikan pada malam hari di wilayah Indonesia khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT," jelasnya.

banner Hoax
Perbesar
banner Hoax (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama 53 media massa lainnya di seluruh dunia.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi hoax yang tersebar di masyarakat.

Jika anda memiliki informasi seputar hoax yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta@liputan6.com.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya