Fakta-fakta Soal Dualisme Persebaya, Siapa yang Benar?

Oleh Defri Saefullah pada 05 Jan 2014, 20:39 WIB
persebaya-140105c.jpg
Persebaya Surabaya akan segera berlaga kembali di kancah Indonesia Super League (ISL). Persiapan tim sudah cukup matang karena hadirnya beberapa pemain bintang dan pelatih kelas atas, Rahmad Darmawan.

Meski demikian, langkah Persebaya ternyata masih saja direcoki masalah non teknis. Ini dengan munculnya demo suporter Persebaya 1927 yang menuntut Walikota Surabaya, Tri Rismaharini untuk mengembalikan Persebaya 1927 sebagai klub yang sah.

Ini membuat bonek terpecah. Masih ada yang bertahan sebagai pendukung Persebaya 1927, meskipun pemainnya sudah tidak ada dan klubnya meningalkan tunggakan utang .

Para suporter loyalis Persebaya 1927 ini percaya, Persebaya yang ada sekarang bukan yang asli karena dibentuk lewat memboyong pemain Persikubar.  Bagi suporter Persebaya 1927, keberadaan Persebaya yang dibentuk Wisnu Wardhana di Divisi utama terlalu dipaksakan.

Meski, Wisnu Wardana kala itu terpaksa melakukan hal tersebut.Hal itu karena keterbatasan waktu menyiapkan tim. Tetapi berdasarkan informasi yang diterima Liputan6.com, pemain Persikubar sudah tidak ada lagi di Persebaya sejak 2011. Bahkan sederet nama pemain bintang yang kini bertengger di Persebaya seolah coba ditutupi dengan isu Persikubar.

Saleh Ismail Mukadar melalui media sosial facebook dan surat kabar terus menghimbau bonek agar mengambil sikap dengan tetap berada di sisi Persebaya 1927. Demo pun digelar untuk menuntut agar Persebaya 1927 menjadi klub yang sah ikut ISL.

Padahal tahun 2010 lalu, memilih keluar dari PSSI dengan alasan dizolimi, dan memilih mengikuti kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) di luar PSSI. LPI didanai oleh Arifin Panigoro yang belakangan tak mau lagi menggelontorkan uang.

"Bahkan Arifin Panigoro sempat menawarkan Konsorsium LPI kepada pengusaha media Harry Tanoesoedibjo untuk diambil alih senilai Rp 80 miliar. Namun Harry Tanoe tak  mengiyakan," ujar seorang sumber yang tak mau disebutkan namanya.

Sejarah Persebaya

Seperti diketahui, Persebaya didirikan oleh Paijo dan M. Pamoedji pada 18 Juni 1927, dengan nama Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Dalam perjalanannya, hingga tahun 1943 SIVB berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja). Dan pada tahun 1960, pada era perserikatan, nama Persibaja diubah menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya).

Di era 2000-an, Persebaya meraih Trofi pada kompetisi PSSI tahun 2004. Saat itu Ketua Umum Persebaya dijabat Walikota Surabaya Sunarto Sumoprawiro.

Gejolak dan gonjang-ganjing Persebaya dimulai saat Persebaya dipimpin Bambang Dwi Hartono dengan Manajer Saleh Ismail Mukadar. Saat itu pada kompetisi tahun 2005, Persebaya menyatakan mundur dari babak 8 besar Divisi Utama. Ini mengakibatkan Persebaya degradasi ke divisi satu.

Bambang DH selaku Ketua Umum Persebaya diskorsing 10 tahun. Sedangkan Manajer Persebaya saat itu, Saleh Ismail Mukadar, diskorsing 2 tahun.

Kedua orang inipun lantas meninggalkan Persebaya dalam keaadaan terpuruk berada di kompetisi amatir, Divisi Satu. Beruntunglah ada Arif Afandi yang akhirnya bersedia menjadi Ketua Umum Persebaya untuk menjalani kompetisi Divisi Satu. Dan pada 2006, Persebaya berhasil menjadi Juara Divisi Satu, dan Promosi ke Divisi Utama.

Namun pada kompetisi Divisi Utama tahun 2007, Persebaya berada di posisi ke-14, Wilayah Timur, sehingga tidak lolos ke Super Liga, dan harus kembali kelas di Divisi Utama.

Namun rupanya ada pihak yang tidak puas, dan meminta Arif Afandi mundur. Arif pun mundur, dan digantikan Saleh Ismail Mukadar. Mantan Manajer Persebaya yang pernah diskor dua tahun dan membawa Persebaya terpuruk ke Divisi Satu.

Pada kompetisi Divisi Utama 2008, Persebaya di bawah Saleh Ismail Mukadar, berada di peringkat ke-4. Mengalahkan PSMS Medan dalam babak Playoff lewat drama adu penalti. Kemudian, secara otomatis Persebaya lolos ke Indonesia Super League (ISL).

Untuk mengikuti ISL, dalam statuta PSSI, klub peserta disyaratkan berbadan hukum dan tidak menerima APBD. Oleh karena itu, Persebaya di bawah Saleh Ismail Mukadar, mendirikan badan hukum yang bernama PT Persebaya Indonesia.

 Dengan komposisi saham, 80 persen perorangan (yang terdiri dari Saleh Ismail Mukadar 55% dan Cholid Goromah 25%), sisanya 20 persen milik Koperasi Mitra Surya Abadi, dimana sahamnya dipercayakan kepada Suprastowo.

Terdaftarlah Persebaya di bawah PT Persebaya Indonesia di Badan Liga Indonesia sebagai klub profesional peserta kompetisi Indonesia Super League.

Saat itu pula Saleh Ismail Mukadar menerima dana Rp 11 miliar lebih dari APBD Kota Surabaya untuk menjalankan klub ini. Kedekatan Saleh dengan Walikota Bambang Dwi Hartono membuat dana tetap cair.

Sayang, Persebaya tetap kesulitan berprestasi meski telah digelontor uang APBD belasan miliar.Pada kompetisi 2009, Persebaya kembali terdegradasi ke Divisi Utama. Saleh Ismail Mukadar saat itu berdalih, bahwa hasil yang diterima Persebaya adalah akibat ketidakbecusan dan kesewenang-wenangan pengurus PSSI Pusat.

Awal Dualisme

Sejak itu, Saleh menegaskan tidak ikut kompetisi PSSI musim 2010/11.Penolakan untuk mengikuti kompetisi PSSI tentu dapat dianggap sebagai pelanggaran Statuta PSSI. Mengingat dalam Statuta jelas disebutkan bahwa kewajiban anggota PSSI (dalam hal ini klub) adalah mengikuti kompetisi yang digelar PSSI.

Akibat penolakan Saleh Ismail Mukadar untuk mengikuti kompetisi PSSI tahun 2010, maka status Persebaya yang terdaftar melalui PT. Persebaya Indonesia pada 2009, sebagai klub anggota PSSI Pusat terancam dikeluarkan dari keanggotaan. Seperti terjadi pada Persema dan Persibo yang memilih tidak mengikuti kompetisi PSSI dan memilih mengikuti kompetisi di luar PSSI atau breakaway league, yang saat itu bernama Liga Primer Indonesia (LPI).

Menyusul penolakan tersebut, Saleh Ismail Mukadar yang juga Ketua Pengurus Cabang PSSI Kota Surabaya mendapat sanksi dari Komisi Disiplin Pengurus Provinsi PSSI Jawa Timur berupa pembekuan Pengurus Cabang (Pengcab) PSSI Kota Surabaya.

Caretaker Pengcab PSSI Kota Surabaya akhirnya memilih Wishnu Wardhana sebagai Ketua Pengcab PSSI Kota Surabaya Muscablub pada 7 Juni 2010.

Setelah terpilih, Wishnu diminta untuk menyelamatkan Persebaya dari ancaman pencoretan keanggotaan dari PSSI. Inilah awalnya sehingga muncul apa yang disebut dualisme. Wisnu yang mencoba untuk selamatkan Persebaya akhirnya membentuk tim, meski diboyong dari Persikubar.

Atas hal itu, Persebaya terselamatkan dari sanksi pemecatan dari keanggotaan PSSI, seperti  diberikan kepada Klub Persema Malang dan Persibo Bojonegoro, yang nyata-nyata menolak mengikuti kompetisi PSSI dan memilih mengikuti kompetisi di luar PSSI, yaitu kompetisi LPI.

Sedangkan Saleh Ismail Mukadar mendirikan Persebaya baru yaitu Persebaya 1927 untuk mengikuti kompetisi breakaway league LPI. Saleh tak bisa memakai nama Persebaya karena tidak mendapatkan izin dari kepolisian jika memiliki nama sama.

Saleh Ismail Mukadar bersama  Cholid Goromah mengusung semua pemain dan official tim Persebaya ke dalam Persebaya 1927 untuk mengikuti kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI).

Sebaliknya Wishnu Wardhana yang sudah menjalankan Persebaya Surabaya sebagai peserta Divisi Utama menghadapi kenyataan pahit yakni tidak memiliki pemain dan official tim. Atas bantuan pegiat sepakbola Vigit Waluyo, Wishnu Wardhana mendapatkan skuad pemain dari mantan skuad Persatuan Sepakbola Kutai Barat (Persikubar).

Kini, Saleh dan Cholid Ghoromah ngotot ingin kembali ikut Indonesia Super League. Padahal, seperti dilansir beberapa media pada 13 Februari 2011, Saleh dengan tegas mengatakan bukan anggota PSSI.(Def)