Dari Raket Kayu ke Internasional, Simak Kisah Perjuangan Apriyani Rahayu Raih Emas Olimpiade Tokyo 2020 : Tiap Tidur Saya Peluk Raket

Oleh Isyhari Maheswar pada 03 Agu 2021, 14:30 WIB
Diperbarui 03 Agu 2021, 14:30 WIB
Ekspresi Emas Greysia / Apriani
Perbesar
Selebrasi ganda putri Indonesia Apriyani Rahayu usai bersama Greysia Polii mendapatkan poin atas pasangan China pada final badminton ganda putri Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sport, Senin (2/8/2021). Indonesia mendapatkan medali emas pertama di Olimpiade Tokyo 2020 (Alexander NEMENOV/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Greysia Polii / Apriyani Rahayu sukses meraih medali emas badminton Olimpiade Tokyo 2020. Ganda putri bulu tangkis Indonesia itu menumbang pasangan nomor satu Tiongkok Chen Qing Chen / Jia Yi Fan dua gim langsung 21-19 dan 21-15 di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Senin, 1 (8/8/2021).

Sukses ini membuat Greysia / Apriyani menorehkan sejarah sebagai ganda putri Indonesia pertama yang meraih medali emas Olimpiade. Rakyat Indonesia dan sejumlah pejabat seperti Presiden RI Joko Widodo berterima kasih dan terharu atas sukses pasangan ini.

Di balik kemenangan emas tersebut, perlu diketahui bahwa perjuangan karier Apriyani Rahayu sebagai atlet bulu tangkis untuk mencapai naik podium nomor satu di Olimpiade Tokyo tidaklah mudah.

Atlet asal Lawulo, Sulawesi Tenggara, kelahiran 29 April 1998 ini harus berjuang bekerja keras untuk menggapai hobi yang disukai dari kecil sampai internasional.

Apriyani menyuk bulu tangkis sejak kecil. Sang Ayah Amirudiin P membuat raket untuknya karena tidak ada biaya. Ia membuat raket dengan bahan dari kayu.

“Waktu akhirnya punya satu raket, setiap senarnya putus, saya sambung sendiri, bukan disenar di tukang senar raket. Tiap tidur, saya peluk raket itu," kata Apriyani dikutip dari sumber live instagram PP PBSI.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Perjalanan Karier Apriyani Rahayu

7 Perjalanan Apriyani Rahayu, Pernah Terima Kabar Ibunda Meninggal Dunia saat Berlaga
Perbesar
Perjalanan Apriyani Rahayu. (Sumber: Instagram.com/r.apriyanig)

Waktu kecil, raket kayunya pernah rusak. Akibat rusak tersebut, orang tuanya melihat arpiyani tidur bersama raket hingga membuat sang ayah merasa iba.

Kemudian sang ayah membelikan sebuah raket bekas yang senarnya berasal dari benang pancing. Shuttlecock yang digunakan Apriyani pun sudah hancur, namun tetap dipakainya terus menerus.

Ia juga membagikan kisahnya saat kecil, sebelum ke Jakarta perlu perjalanan panjang agar bisa sampai ke kota Makassar.

 “Saya pernah naik kapal selama tiga hari dari kampung saya ke Makassar. Ayah saya yang mencari bantuan dana supaya saya bisa bertanding, semua bertekad memberi support untuk saya," kata Apriyani.

Apriyani juga menyayangkan banyak atlet dikampungnya tidak bisa berkembang menjadi atlet nasional yang bisa meraih level internasional karena kendala biaya yang tidak ada.

"Banyak atlet di kampung saya yang tidak berkembang, tidak bisa sampai level internasional karena kendala biaya," ucap Apriyani Rahayu.

Saksikan highlight kemenengan Greysia / Arpiyani Olimpiade Tokyo 2020 melalui live streaming Vidio.com ekslusif Champions TV.

Ajang multievent Olimpiade Tokyo 2020 bisa pembaca Liputan.6 saksikan melalui TV teresterial INDOSIAR dan O Channel. Selain itu juga bisa di layanan over the top (OTT) VIDIO baik gratis maupun berbayar dengan 12 channel tambahannya, serta channel Champions TV 1, 2 dan 3 yang dikelola IEG (Indonesia Entertainment Group), salah satu anak perusahaan di Emtek Group. Yuk nikmati sajian live streamingnya dengan mengklik tautan ini.

Penulis : AULIA (VIDIO)

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan berikut ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya