FIGC Bakal Depak Klub Serie A yang Tampil di Liga Super Eropa

Oleh Marco Tampubolon pada 27 Apr 2021, 11:45 WIB
Diperbarui 27 Apr 2021, 11:45 WIB
Banner Infografis European Super League, Layu Sebelum Berkembang? (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Banner Infografis European Super League, Layu Sebelum Berkembang? (Liputan6.com/Trieyasni)

Liputan6.com, Jakarta Resistensi terhadap kehadiran European Super League atau Liga Super Eropa belum berakhir. Kali ini sikap tegas ditunjukkan oleh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Otoritas olahraga balbalan tertinggi di Negeri Pizza itu mengancam bakal menjatuhkan sanksi bagi siapapun yang terlibat liga baru tersebut. 

Beberapa waktu lalu, dunia sepak bola dikejutkan oleh peluncuran Liga Super Eropa. Kompetisi yang rencananya akan diikuti oleh 20 klub itu digadang-gadang sebagai tandingan dari Liga Champions. 

Para pendiri menyakini, kompetisi baru ini menjadi jawaban terhadap situasi finansial pelik yang menimpa klub-klub Eropa pada saat ini karena menawarkan hadiah dan revenue lebih besar. 

Sebanyak 15 klub rencananya akan menjadi peserta tetap Liga Super Eropa. Sementara lima lainnya dapat berganti-ganti sesuai dengan prestasi klub di liga-liga domestik yang diikuti. 

Tiga tim Italia, Juventus, Inter Milan, dan AC Milan diketahui ikut andil menginisiasi kompetisi ini. Hanya saja, ketiganya perlu lebih berhati-hati karena FIGC tidak sejalan dengan ide tersebut. 

"Mereka yang merasa harus berpartisipasi dalam kompetisi yang tidak diizinkan oleh FIGC, FIFA atau UEFA akan kehilangan keanggotaan mereka," kata presiden FIGC Gabriele Gravina dilansir Marca. 

Sementara itu, kontroversi Liga Super Eropa, pekan lalu mulai mencapai antiklimaks. Itu setelah enam tim Liga Inggris yang awalnya ikut menginisiasi kompetisi itu, memilih mundur. Mereka menarik diri setelah mendapat tekanan dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah hingga suporter.

 

2 dari 3 halaman

Belum Ada Sikap Tegas

Logo dan ilustrasi Juventus
Perbesar
Logo dan ilustrasi Juventus. (AFP/Marco Bertorello)

Sebelumnya, dua klub lainnya, yakni Atletico Madrid dan Inter Milan juga mengambil sikap yang sama. Sedangkan Juventus dan AC Milan masih malu-malu dalam menentukan sikap mereka.

"Untuk saat ini, kami belum punya berita apapun mengenai siapa yang bertahan dan siapa yang meninggalkan Liga Super," kata Gravina menambahkan.

"Aturan ini berlaku untuk nasional. Jelas bahwa jika pada 21 Juni ... seseorang ingin berpartisipasi dalam kompetisi yang bersifat pribadi, mereka tidak akan ambil bagian dalam liga kami."

 

 

 

 

 

 

3 dari 3 halaman

Bukan Solusi Finansial

Gravina pekan lalu mengatakan klub yang terlibat dalam insiasi Liga Super Eropa tidak akan dihukum. Hanya saja, mereka harus menghentikan aksinya dan tidak sampai bermain di liga tersebut. Menurutnya, Liga Super Eropa sudah gagal. Hanya saja semangatnya tetap jadi pembelajaran.

Karena itu, menurut Gravina, federasi tidak menutup diri terhadap agenda reformasi. Bahkan Gravina mengakui hal itu perlu segera diperkenalkan. Gravina mengatakan ini kemungkinan akan termasuk playoff untuk degradasi dan promosi, serta pengurangan jumlah tim di Serie A.

"Mereka yang menafsirkan Liga Super sebagai aksi lemah dari beberapa klub yang mengalami masa-masa sulit secara ekonomi, atau pemberontakan dalam sistem sepak bola, itu adalah salah," kata Gravina. "Ini masalah sensitif yang perlu dieksplorasi lebih lanjut," bebernya. 

 

 

Lanjutkan Membaca ↓