Uji Klinis Awal Vaksin Covid-19 di China, Hasilnya Cukup Potensial

Oleh Liputan6.com pada 26 Mei 2020, 14:10 WIB
Diperbarui 26 Mei 2020, 14:10 WIB
20160628-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto

Liputan6.com, Beijing - Para peneliti di sebuah perusahaan China mengungkapkan hasil uji klinis awal vaksin virus corona COVID-19 yang mereka kembangkan.

Vaksin COVID-19 tersebut dikembangkan oleh CanSino Biologics. Studi awal yang mereka lakukan pada 100 orang menunjukkan potensi bahwa vaksin tersebut aman dan mampu menghasilkan respons kekebalan.

Dilansir dari Live Science pada Senin (25/5/2020), vaksin yang disebut Ad5-nCoV tersebut merupakan salah satu dari beberapa vaksin cukup awal melakukan uji pada manusia. Penelitian tersebut sudah dimulai pada Maret lalu.

Ad5-nCoV menggunakan versi lemah dari virus flu adenovirus yang menginfeksi sel manusia, namun tidak menyebabkan penyakit. Nantinya, versi lemah adenovirus tersebut menghasilkan fragmen materi genetik dari SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Materi genetik tersebut memberikan instruksi untuk menghasilkan "spike protein" di permukaan SARS-SoV-2. Konsepnya adalah sistem kekebalan tubuh seseorang akan menciptakan antibodi terhadap spike protein, yang akan membantu melawan virus corona apabila mereka terjangkit.

Dalam studinya yang dimuat di jurnal The Lancet, para peneliti menguji Ad5-nCoV pada 108 orang sehat berusia 18 hingga 60 tahun yang tidak pernah terkena COVID-19. Mereka mendapatkan vaksin dosis rendah, menengah, dan tinggi.

Dua minggu setelah divaksinasi, peserta dalam tiga kelompok menunjukkan beberapa respons kekebalan terhadap virus.

Pada 28 hari, hampir semua peserta mengembangkan antibodi yang terikat pada SARS-CoV-2 dan sekitar setengah peserta dalam kelompok dosis rendah dan menengah, serta tiga perempat peserta dalam kelompok dosis tinggi mengembangkan "antibodi netralisir" yang mengikat dan menonaktifkan virus untuk mencegahnya menginfeksi sel.

 

2 dari 3 halaman

Efek Samping

vaksin corona
vaksin corona

Para peneliti mencatat adanya efek samping. Yang paling umum adalah nyeri ringan di tempat suntikan, demam ringan, kelelahan, sakit kepala, dan nyeri otot.

Sembilan peserta mengalami demam dari 101 derajat Fahrenheit atau sekitar 38,5 derajat Celsius, sementara satu peserta dalam kelompok dosis tinggi mengalami demam tinggi disertai kelelahan, sesak napas, dan nyeri otot. Namun, efek samping tersebut berlangsung tidak lebih dari 48 jam.

Semua dosis yang diterima sudah diketahui oleh para peserta, sehingga mempengaruhi persepsi mereka akan efek sampingnya.

Penulis senior dari studi tersebut, Wei Chen dari Beijing Institute of Biotechnology mengatakan bahwa hasil temuan awal mereka merupakan sebuah tonggak yang penting.

"Namun, hasil ini harus ditafsirkan dengan hati-hati. Tantangan dalam pengembangan vaksin COVID-19 belum pernah terjadi sebelumnya dan kemampuan untuk memicu respon kekebalan ini tidak selalu menunjukkan bahwa vaksin akan melindungi manusia dari COVID-19," kata Wei Chen.

3 dari 3 halaman

Studi Tahap Kedua

Wei Chen dan rekan-rekannya saat ini tengah memulai studi tahap kedua yang melibatkan 500 peserta dengan vaksin dosis rendah, menengah, serta plasebo. Mereka juga akan melihat hasilnya pada para peserta di atas 60 tahun, serta efek samping hingga enam bulan usai diimunisasi.

Selain di Tiongkok, beberapa vaksin terkait COVID-19 juga baru saja merilis hasil uji klinis awal mereka. Beberapa studi yang menunjukkan hasil potensial antara lain vaksin mRNA-1275 dari perusahaan bioteknologi Moderna, serta vaksin ChAdOx1-nCov19 buatan para peneliti di Oxford University.

Penulis: Giovani Dio Prasasti/Benedikta Desideria, health Liputan6, published 26/5/2020

Lanjutkan Membaca ↓