Tata Cara Iktikaf dan Keutamaannya di Akhir Bulan Ramadan

Oleh Imelda Rahma pada 20 Mei 2020, 02:00 WIB
Diperbarui 20 Mei 2020, 02:00 WIB
Itikaf

Jakarta - Iktikaf adalah salah satu amalan yang dianjurkan dilakukan di bulan ramadan dan hendaknya dikerjakan terutama di sepuluh malam terakhir. Hal ini berkaitan dengan upaya kita menyambut datangnya malam Lailatul Qadar.

Diharapkan ketika malam Lailatul Qadar tiba, seorang muslim sedang melakukan I’tikaf sebagai bentuk amalan sholeh dan upaya meraih keutamaan Lailatul Qadar.

Secara terminologi, iktikaf berarti berdiam diri di masjid disertai dengan niat. Tujuannya adalah beribadah kepada Allah SWT, khususnya ibadah yang biasa dilakukan di masjid. Untuk memaksimalkan i’tikaf, kamu dapat melakukan berbagai kegiatan di masjid seperti, sholat malam, mengaji, dan berdzikir.

Mengerjakannya pada sepuluh malam terakhir di bulan ramadan, lebih diutamakan dibanding pada waktu-waktu yang lain, demi menggapai keutamaan Lailatul Qadar yang waktunya tidak bisa diprediksi secara pasti. Maka dari itulah, siapa pun harus senantiasa mengisi malam-malam ramadan dengan berbagai amalan sehingga memaksimalkan dan menyempurnakan ibadah di bulan ramadan.

Bagi kamu yang ingin melakukan i’tikaf, maka kamu perlu mengetahui tata caranya. Berikut Fimela.com akan membagikan panduan tata cara iktikaf dan keutamaannya di bulan ramadan. Simak ulasan panduannya berikut ini.

2 dari 4 halaman

Mengenal I’tikaf

Mengenal I’tikaf
Ilustrasi I’tikaf Credit: freepik.com

Sebelum membahas tata caranya, ada baiknya kamu mengenal dan memahami terlebih dahulu apa yang disebut dengan Iktikaf. Secara bahasa iktikaf berarti mengurung diri, sedangkan secara istilah ilmu fiqih iktikaf sering diartikan dengan Berdiam diri di masjid dari seseorang yang tertentu dengan disertai niat.

Ibnu Al- Mundzir menjelaskan bahwa hukum dasar iktikaf itu adalah sunnah, bukan wajib, kecuali jika dinadzarkan barulah jadi wajib. Iktikaf sebagai suatu ibadah sunnah dikerjakan dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah SWT sekaligus muhasabah diri atas perbuatan dosan dan khilaf yang pernah dilakukan.

Adapun hadis yang menjelaskan amalan Iktikaf saat bulan ramadan seperti berikut:  

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).

Waktu terbaik untuk mengerjakan iktikaf di bulan ramadan ialah dikerjakan pada 10 hari terakhir bulan ramadan, sebagaimana yang diterangkan pada hadis berikut:

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”

3 dari 4 halaman

Tata Cara Iktikaf

Tata Cara I’tikaf
Ilustrasi I’tikaf Credit: pexels.com/Ali

Sebagian besar yang dikerjakan saat Iktikaf adalah berbagai amalan sholeh yang bisa dilakukan di masjid. Selama berdiam diri, kamu bisa melakukan banyak aktivitas keagamaan yang membuat I’tikaf menjadi lebih berkah. Berikut panduan dan tata cara I’tikaf yang perlu kamu perhatikan:

Rukun i'tikaf:

  • Niat.

Adapun niat saat mengerjakan iktikaf adalah seperti berikut:

Nawaitu an i’tikafa fi hadzal masjidi sunnatal lillaahi ta’ala

Artinya: “ Saya niat berdiam diri di dalam masjid, sunah karena Allah ta’ala”

  • Berdiam diri di masjid sekurang-kurangnya selama tumaninah shalat.
  • Masjid sebagai tempat iktikaf.
  • orang yang beriktikaf.

Syarat i'tikaf:

  • beragama Islam
  • berakal sehat
  • bebas dari hadas besar.

Hal-hal yang membatalkan i'tikaf:

  • berhubungan suami-istri,
  • mengeluarkan sperma,
  • mabuk yang disengaja,
  • murtad,
  • haid, selama waktu i’tikaf cukup dalam masa suci biasanya,
  • nifas,
  • keluar tanpa alasan,
  • keluar untuk memenuhi kewajiban yang bisa ditunda,
  • keluar disertai alasan hingga beberapa kali, padahal keluarnya karena keingingan sendiri.

Adab saat mengerjakan I’tikaf:

  • Berdoa.
  • Membaca dzikir.
  • bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  • Membaca Al Quran ataupun Hadis.
  • Jangan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan tidak bermanfaat.
  • Mengharap ridho dari Allah disertai niat yang bersih.
  • Sedikit makan, minum, dan tidur agar lebih khusyu’.
  • Menjaga kebersihan dan kesucian diri serta tempat itikaf.
4 dari 4 halaman

Keutamaan I’tikaf

Keutamaan I’tikaf
Ilustrasi I’tikaf Credit: pexels.com/Abdullah

Sebagai suatu amalan yang sangat dianjurkan di bulan ramadan, Iktikaf memiliki banyak keutamaan. Keutamaan Iktikaf yang didapatkan oleh manusia yang mengerjakannya akan sangat berguna baginya, bahkan menjadi bekal pahala yang besar. Berikut keutamaan yang didapatkan dari Iktikaf:

Dihapusnya dosan dan digantikannya dengan kebaikan.

Keutamaan yang pertama ialah dihapuskannya dosa-dosa di masa lampau kemudian digantikannya dengan banyak kebaikan. Tentu saja penghapusan dosan merupakan pahala yang selalu diidamkan oleh manusia karena setiap manusia pasti memiliki banyak dosa yang bisa menghambatnya menuju surga.

Seperti yang diriwayatkan dalam hadis Ibnu Majah, "Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah menjelaskan berkaitan dengan orang yang beriktikaf: "Ia berdiam diri dari dosa-dosa dan dialirkan baginya kebaikan seperti orang yang melakukan semua kebaikan."

Pahala mengerjakan I’tikaf digambarkan seperti pahala haji dan umrah

Siapa sangka mengerjakan Iktikaf mengandung pahala yang begitu besar bahkan digambarkan seperti pahalanya orang yang tengah melaksanakan ibadah haji dan umrah. Diriwayatkan dalam Hadis Baihaqi,Rasulullah bersabda, "Barang siapa i'tikaf 10 hari di dalam bulan Ramadan maka (dapat pahala) seperti orang yg dua kali haji dan dua kali umrah."

Berkesempatan mendapatkan malam lailatul qadar

Rasulullah SAW beriktikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat pada Allah SWT, banyak berdoa dan banyak berdzikir ketika itu.

Disadur dari Fimela.com (Imelda Rahma/Ayu Puji Lestari)

Lanjutkan Membaca ↓