5 Pemain Kelas Dunia yang Punya Karier Pendek di Liga Indonesia

Oleh Muhammad Adiyaksa pada 13 Mei 2020, 18:35 WIB
Diperbarui 13 Mei 2020, 18:35 WIB
Trivia - Pemain Asing Kelas Dunia Berkarier Pendek

Jakarta - Kehadiran pemain asing di persepak bolaan Indonesia tak dipungkiri menjadi magnet tersendiri buat penikmatnya. Meski tak jarang gatot alias gagal total, klub-klub Liga Indonesia tetap menjadikan legiun asing sebagai aset dalam mengarungi kerasnya roda kompetisi.

Operator kompetisi juga membuka keran lebar-lebar buat klub memiliki pemain asing. Pada Shopee Liga 1 2020, setiap tim diperbolehkan mengoleksi paling banyak empat pemain asing. Dengan catatan, satu di antaranya harus berpaspor Asia.

Bak gayung bersambut, banyak agen pemain yang menilai Liga Indonesia adalah negara yang tepat buat kliennya mengadu nasib. Eropa, Afrika, dan Asia menjadi benua favorit buat klub Liga Indonesia melempar jala seluas-luasnya.

Pada 2017, operator kompetisi bahkan mengenalkan aturan baru yaitu marquee player alias pemain asing yang pernah tampil di kompetisi top Eropa atau Piala Dunia. Dengan begitu, makin banyak pemain kelas dunia yang tertarik untuk berkarier di Tanah Air.

Meski begitu, banyak pemain dengan label bintang yang hanya singgah sebentar di Liga Indonesia. Penyebabnya beragam. Mulai dari usia hingga kendala adaptasi. Berikut Bola.com merangkum lima pemain yang berkarier pendek di Tanah Air:

2 dari 5 halaman

Mario Kempes (1993-1994)

Mario Kempes
Mario Kempes

Mantan bintang timnas Argentina di Piala Dunia 1978, Mario Kempes, pernah berlaga di Liga Indonesia, tepatnya bersama Pelita Jaya pada tahun 1999. Saat datang ke Indonesia usianya yang tak lagi muda, 39 tahun.

Striker andalan Albiceleste yang menyabet gelar Piala Dunia 1978 sekaligus jadi top scorer turnamen menyumbang 10 gol di 15 pertandingan yang dilakoni bersama Pelita Jaya. Produktivitas yang terhitung lumayan karena saat berkiprah di Liga Indonesia terlihat kalau badan Kempes sudah tampak tambun.

Di Pelita Jaya pula, Kempes memutuskan untuk pensiun dari dunia sepak bola. Semusim berselang, ia diangkat sebagai pelatih di klub yang sama.

3 dari 5 halaman

Didier Zokora (2017)

Pemain Semen Padang, Didier Zokora
(Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Berstatus sebagai pengoleksi penampilan terbanyak di Timnas Pantai Gading dengan 123 laga dan alumnus tiga edisi Piala Dunia, Didier Zokora datang ke Indonesia dengan label pemain kelas dunia. Mantan gelandang Tottenham Hotspur itu bergabung dengan Semen Padang pada 2017 kala Liga 1 memberlakukan aturan marquee player.

Sayang, penampilan Zokora sudah jauh menurun ketika memperkuat Semen Padang dibanding era keemasannya bersama Spurs dan Sevilla. Alhasil, pemain berusia 39 tahun itu hanya mampu bertahan selama setengah musim.

Di putaran kedua Liga 1 2017, Semen Padang mendepak Zokora. Ia cuma tampil dalam 11 pertandingan sebelum kontraknya diputus.

Setelah cabut dari Semen Padang, Zokora tidak kunjung mendapatkan persinggahan baru. Akhirnya, ia memutuskan untuk pensiun dari lapangan hijau.

4 dari 5 halaman

Peter Odemwingie (2017)

Top Scorer, Liga 1 2017, Peter Odemwingie
(Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Peter Odemwingie menjadi satu di antara banyak pemain kelas dunia yang berkarier singkat di Indonesia. Mantan penyerang Madura United ini hanya semusim bermain di Indonesia pada 2017 sebagai marquee player.

Odemwingie pernah memperkuat sejumlah tim Premier League seperti West Bromwich Albion dan Cardiff City. Ia juga merupakan andalan Timnas Nigeria di tiga gelaran Piala Dunia.

Bersama Madura United, Odemwingie tergolong sebagai marquee player yang sukses. Ia berhasil menorehkan 15 gol dalam 23 pertandingan.

Ketajaman Odemwingie sempat membuat Madura United memperpanjang kontraknya hingga 2018. Namun, belum juga kompetisi 2017 berakhir, keduanya telah bersepakat untuk mengakhiri kerja sama.

Saat itu, Odemwingie kesal dengan perlakuan Presiden Madura United, Achsanul Qosasi yang mengarang ucapannya di media sosial.

"Peter Odemwingie sejak kejadian Madura United melawan Bhayangkara FC pada 7 November 2017 di Stadion Bangkalan merasa sangat berisiko dan khawatir untuk bermain di Indonesia. Dia betul-betul marah terhadap pemain lawan yang memprovokasinya sejak awal dengan cara tidak fair. Dia bermaksud mengembalikan uang muka yang sudah diberikan Madura United dan dia tidak bersedia lagi bermain di Indonesia," kata Achsanul Qosasi.

"Bapak Achsanul Qosasi tolong jangan mengutip pernyataan saya ke media, terutama hal-hal yang tidak pernah saya katakan, terima kasih," timpal Odemwingie di akun Twitter-nya.

5 dari 5 halaman

Michael Essien dan Carlton Cole (2017)

Michael Essien
(Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Publik sempat digemparkan dengan manuver Persib Bandung memboyong mantan gelandang Chelsea dan Real Madrid, Michael Essien pada 2017. Banyak yang tidak dipercaya eks Timnas Ghana itu bersedia bermain di Tanah Air.

Ketika mendatangkan Essien, Persib juga menggaet mantan penyerang Chelsea dan West Ham, Carlton Cole. Keduanya diharapkan dapat mendongkrak prestasi tim berjulukan Pangeran Biru itu pada 2017.

Namun, penampilan Essien di Persib tidak segarang ketika masih berkiprah di Eropa. Dia kerap kehabisan bensin saat pertandingan memasuki babak kedua.

Mulanya, Persib mengontrak Essien dengan durasi dua tahun. Namun, karena kemampuannya telah jauh menurun, kontrak sang pemain diputus di akhir musim 2017. Cole lebih parah lagi. Pangeran Biru mendepaknya di paruh kedua musim tersebut.

Musim itu bersama Persib, Essien masih mampu mengoleksi 29 penampilan, dengan 22 di antaranya sebagai starter. Ia berhasil mencetak lima gol dan sembilan kali diganjar kartu kuning.

Disadur dari Bola.com (Muhammad Adiyaksa Wiwig Prayugi)

Lanjutkan Membaca ↓