Tak Punya Riwayat Pesepak Bola Profesional, 5 Sosok Ini Sukses Jadi Pelatih Bernama Besar

Oleh Hanif Sri Yulianto pada 05 Mei 2020, 05:30 WIB
Diperbarui 05 Mei 2020, 05:30 WIB
Maurizio Sarri
Perbesar
Pelatih Juventus, Maurizio Sarri. (AFP/Jonathan Nackstrand)

Jakarta - Banyak pelatih papan atas memiliki latar belakang sebagai pesepak bola profesional. Pengalaman bermain di level tertinggi klub dan sepak bola internasional diyakini sangat membantu mereka dalam mengelola tim setelah gantung sepatu.

Suasana ruang ganti, perasaan di lapangan saat pertandingan-pertandingan besar, dan pengetahuan langsung sebagai seorang pesepak bola memberi mereka sedikit keunggulan.

Pep Guardiola dan Zinedine Zidane pernah meraih kesuksesan sebagai pemain dan pelatih. Keduanya telah memenangi Liga Champions sebagai pemain dan pelatih.

Sementara Diego Simeone dan Mauricio Pochenttino, menikmati karier yang gemilang sebagai pemain, meski tak pernah memenangi Liga Champions.

Beda lagi dengan Jurgen Klopp dan Jose Mourinho. Keduanya merupakan mantan pesepak bola di klub-klub gurem. Namun, sukses besar ketika meniti karier sebagai manajer.

Lantas bagaimana dengan mereka yang tak memiliki latar belakang sepak bola, namun masuk kategori pelatih ternama di dunia? Berikut kiprah lima pelatih yang tak pernah menjadi pesepak bola dilansir Sportskeeda, Senin (4/5/2020).

 

2 dari 6 halaman

1. Julian Nagelsmann

Julian Nagelsmann
Perbesar
Pelatih Leipzig, Julian Nagelsmann, saat menemani skuatnya di pentas Liga Champions, Rabu (2/10/2019). (AFP / Ronny Hartmann)

Julian Nagelsmann merupakan pelatih dengan latar belakang sarjana Administrasi Bisnis dan Ilmu Olahraga. Ia tak memiliki karier sebagai pemain bola karena cedera.

Ia memulai karier sebagai pelatih di usia 28 tahun. Klub pertama yang diasuhnya adalah Hoffenheim pada Oktober 2015. Nagelsmann mendapat predikat pelatih termuda dalam sejarah Bundesliga.

Debut Nagelsmann sukses membawa Hoffenheim lolos dari jurang degradasi. Musim berikutnya, ia membawa Hoffenheim lolos Liga Champions untuk kali pertama dalam sejarah klub.

Nagelsmann lalu pindah ke RB Leipzig pada musim 2019-2020. Ia pun sukses menghancurkan Tottenham Hotspur di babak 16 besar Liga Champions musim ini dengan agregat 4-0.

3 dari 6 halaman

2. Brendan Rodgers

Brendan Rodgers
Perbesar
Manajer Leicester City, Brendan Rodgers.(AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Brendan Rodgers mendapati kenyataan kondisi lututnya tak memukinkan menjadi pemain bola profesional. Ia lantas memilih pensiun dini di usia 20 tahun.

Rodgers diundang Jose Mourinho untuk bergabung dengan Chelsea sebagai asisten pelatih pada 2004. Ia pun menjadi manajer tim cadangan dua tahun kemudian.

Kiprah Rodgers sebagai manajer kepala dimulai di Watford pada 2008. Setelah itu ia berlanjut mengasuh Swansea City, Liverpool, Celtic, dan Leicester City.

4 dari 6 halaman

3. Maurizio Sarri

Maurizio Sarri
Perbesar
Maurizio Sarri masih belum puas dengan performa Juventus. (International Champions Cup/Thananuwat Srirasant)

Maurizio Sarri muda sempat mencoba menjadi pesepak bola profesional. Tetapi, dia tidak berhasil lulus dari level amatir dan memilih bekerja sebagai bankir.

Namun, Sarri tidak akan menolak kesempatan berkarier di sepak bola. Saat berusia 30 tahun, ia menjadi satu di antara manajer sepak bola termuda saat mengasuh USD Stia 1925 di tingkat delapan sepak bola Italia.

Ia lalu naik tingkat menjadi pelatih Empoli di Serie B pada 2012. Nama besar Sarri mulai tenar saat menjadi pelatih Napoli.

Setelah itu, ia menukangi Chelsea dan sekarang menjadi pelatih Juventus.

5 dari 6 halaman

4. Leonardo Jardim

Leonardo Jardim
Perbesar
Leonardo Jardim (PATRIK STOLLARZ/AFP)

Leonardo Jardim memulai karier kepelatihan di usia 27 tahun dengan menukangi Braga.

Setelah di Braga, Jardim mengasuh Olympiacos lalu Sporting Lisbon, dan akhirnya ke AS Monaco. Jadim menjadi pelatih yang sukses melengserkan Paris Saint-Germain dari takhta juara Ligue 1 pada 2016-2017.

6 dari 6 halaman

5. Andre Villas-Boas

Andre Villas-Boas
Perbesar
Andre Villas-Boas (2011-2012), 47.5% - Latar belakang yang mirip Mourinho, membuat Abramovich tertarik mendatangkannya. Namun Villas-Boas gagal dan menjadi pelatih Chelsea dengan persentase kemenangan terendah di era Abramovich. (AFP/Carl Court)

Andre Villas-Boas menekuni dunia manajemen sebelum menjadi seorang pelatih. Ia pernah menjadi asisten Jose Mourinho di Porto di usia 21 tahun.

Villas-Boas lalu sukses menjadi pelatih Porto yang memenangkan treble winner, yakni Liga Primeira, Piala Portugal, dan Liga Euro di musim pertamanya pada 2010-2011.

Setelah itu, Villas-Boas berkelana dengan menukangi Chelsea, Tottenham Hotspur, Zenit St.Petersburg, Shanghai SIPG, dan Marseille.

 

Sumber: Sportskeeda

Disadur dari Bola.com (Penulis Hanif Sri Yulianto / Editor Aning Jati, Published 4/5/2020)

Lanjutkan Membaca ↓